HABIB BIN ZAID AL-ANSHARY

Dalam sebuah rumah penuh keharuman iman di setiap sudutnya; di lingkungan keluarga yang
di dahinya tampak membayangkan gambaran pengorbanan, di sanalah Habib bin Zaid
dibesarkan.
Ayah Habib, Zaid bin ‘Ashim, adalah salah seorang dari rombongan Yatsrib yang pertamatama
masuk Islam. Dia termasuk kelompok tujuh puluh yang melakukan baiat dengan
Rasulullah di Aqabah. Bersama Zaid bin Ashim turut pula di baiat istri dan dua orang putranya.
Ibu Habib, Ummu Amarah Nasibah Al-Maziniyah, merupakan wanita pertama yang
memanggul senjata untuk mempertahankan agama Allah dan membela Muhammad
Rasulullah.
Saudaranya, Abdullah bin Zaid, adalah pemuda yang mempertaruhkan lehernya sebagai
tebusan dalam perang Uhud, untuk melindungi Rasul yang mulia. Karenanya, Rasulullah
berdoa bagi keluarga tersebut, “Semoga Allah melimpahkan barakah dan rahmat-Nya bagi
kalian sekeluarga.”
Nur Ilahi (cahaya iman) telah menyinari hati Habib bin Zaid sejak dia masih muda remaja,
sehingga sangat kokoh melekat di hatinya.
Telah ditakdirkan Allah dia bersama-sama ibu, bapak, bibi, dan saudaranya pergi ke Makkah,
turun mengambil saham beserta kelompok tujuh puluh untuk melakukan baiat dengan
Rasulullah SAW dan melukis sejarah. Habib bin Zaid mengulurkan tangannya yang kecil
kepada Rasulullah sambil mengucapkan sumpah setia pada malam gelap gulita di Aqabah.
Maka sejak hari itu dia lebih mencintai Rasulullah dari pada ibu bapaknya sendiri. Dan Islam
lebih mahal baginya dari pada dirinya sendiri.
Habib bin Zaid tidak turut berperang dalam peperangan Badar, karena ketika itu dia masih
kecil. Begitu pula dalam peperangan Uhud, dia belum memperoleh kehormatan untuk ikut
mengambil saham, karena dia belum kuat memanggul senjata. Tetapi sesudah kedua
peperangan itu dia selalu ikut berperang mengikuti Rasulullah SAW, dan bertugas sebagai
pemegang bendera perang yang dibanggakan.
Bersama Pengalaman-pengalaman perang yang dialami Habib bagaimana pun besar dan
mengejutkannya, pada hakikatnya tiada lain ialah merupakan proses mematangkan mental
Habib untuk menghadapi peristiwa yang sungguh mengguncangkan hati, seperti
terguncangnya milyunan kaum muslimin sejak masa kenabian hingga masa kita sekarang.
Marilah kita simak kisah ganas ini dari awalnya.
Pada tahun kesembilan hijriyah tiang-tiang Islam telah kuat tertancap dalam di bumi Arab.
Jamaah dari seluruh pelosok Arab berdatangan ke Yatsrib menemui Rasulullah SAW, masuk
Islam di hadapan beliau, dan berjanji (baiat) patuh dan setia.
Diantara itu terdapat pula rombongan Bani Hanifah dari Nejed. Mereka menambatkan ontaontanya
di pinggir kota Madinah, dijaga oleh beberapa orang kawannya. Seorang diantara
penjaga ini bernama Musailamah bin Habib Al-Hanafy. Para utusan yang tidak bertugas
menjaga kendaraan, pergi menghadap Rasulullah SAW. Di hadapan beliau mereka
menyatakan masuk Islam beserta kaumnya. Rasulullah menyambut kedatangan mereka
dengan hormat dan ramah tamah. Bahkan beliau memerintahkan supaya memberi hadiah
bagi mereka dan bagi kawan-kawannya yang tidak turut hadir, karena bertugas menjaga
kendaraan.
Tidak berapa lama setelah para utusan Bani Hanifah ini sampai di kampung mereka, Nejed,
Musailamah bin Habib Al-Hanafy murtad dari Islam. Dia berpidato di hadapan orang banyak
menyatakan dirinya Nabi dan Rasul Allah. Dia mengatakan bahwa Allah mengutusnya
menjadi Nabi untuk Bani Hanifah, sebagaimana Allah mengutus Muhammad bin Abdullah
untuk kaum Quraisy. Bani Hanifah menerima pernyataan Musailamah tersebut dengan
berbagai alasan. Tetapi yang terpenting diantaranya ialah karena fanatik kesukuan.
Seorang dari pendukungnya berkata, “Saya mengakui sungguh Muhammad itu benar dan
Musailamah sungguh bohong. Tetapi kebohongan orang Rabi’ah (Musailamah) lebih saya
sukai dari pada kebenaran orang Mudhar (Muhammad).
Tatkala pengikut Musailamah bertambah banyak dan kuat, dia mengirim surat kepada
Muhammad Rasulullah:
“Teriring salam untuk Anda. Adapun sesudah itu…
Sesungguhnya aku telah diangkat menjadi sekutu Anda. Separuh bumi ini adalah untuk kami,
dan separuh lagi untuk kaum Quraisy.
Tetapi kaum Quraisy berbuat keterlaluan.”

Surat tersebut diantar oleh dua orang utusan Musailamah kepada Rasulullah SAW. Selesai
membaca surat itu, Rasulullah SAW bertanya kepada keduanya, “Bagaimana pendapat Anda
berdua (mengenai pernyataan Musailamah ini)"?
Jawab mereka, “Kami sependapat dengan Musilamah!”
Sabda Rasulullah SAW,
“Demi Allah! Seandainya tidak dilarang membunuh para utusan, sesungguhnya kupenggal
leher kalian.”
Rasulullah membalas surat Musailamah sebagai berikut:
“Dengan nama Allah yh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dari Muhammad Rasulullah, kepada Musailamah pembohong.
Keselamatan hanyalah bagi siapa yang mengikuti petunjuk (yang benar)
Adapun sesudah itu…
Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah, Dialah yang berhak mewariskannya kepada
hamba-hamba-Nya yang dikehendakinya.
Kemenangan adalah bagi orang-orang yang taqwa.”
Surat balasan tersebut dikirimkan beliau melalui kedua utusan Musailamah.
Musailamah bertambah jahat, dan kejahatannya semakin meluas. Rasulullah mengirim surat
lagi kepada Musailamah, memperingatkan supaya dia menghentikan segala kegiatannya
yang menyesatkan itu. beliau menunjuk Habib bin Zaid, yaitu pahlawan yang kita ceritakan ini,
untuk mengantarkan surat tersebut kepada Musailamah. Ketika itu Habib masih muda belia.
Tetapi dia pemuda mukmin yang beriman kuat, sejak dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
Habib bin Zaid berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan Rasulullah kepadanya
dengan penuh semangat, tanpa merasa lelah dan membuang-buang waktu atau bermalasmalasan.
Gunung yang tinggi didakinya, lembah yang dalam dituruninya. Akhirnya sampailah
dia ke perkampungan Nejed. Maka diberikannya surat Rasulullah itu langsung kepada
Musailamah.
Ketika membaca surat tersebut dadanya turun naik karena iri dan dengki. Mukanya menguning memancarkan kejahatan dan kepalsuan. Lalu diperintahkannya kepada pengawal
supaya mengikat Habib bin Zaid.
Besuk pagi Musailamah muncul di majelisnya diiringkan para pembesar dan pengikutnya kirikanan.
Dia menyatakan majelis terbuka untuk orang banyak. Kemudian diperintahkannya
membawa Habib bin Zaid ke hadapannya. Habib masuk ke dalam majelis dalam keadaan
terbelenggu, dan berjalan tertatih-tatih karena beratnya belenggu yang dibawanya.
Habib bin Zaid berdiri di tengah-tengah orang banyak yang penuh kedengkian, kesombongan
dan kepongahan. Dia berdiri tegap, kokoh dan kuat. Musailamah bertanya kepada Habib,
“Apakah kamu mengaku Muhammad itu Rasulullah?”
“Ya, benar! Aku emngakui Muhammad sesungguhnya Rasulullah!” jawab Habib bin Zaid
tegas.
Musailamah terdiam karena marah. “Apakah kamu mengakui, aku Rasulullah?” Tanya
Musailamah.
Habib bin Zaid menjawab dengan nada menghina dan menyakitkan hati.
“Agaknya telingaku tuli. Aku tidak pernah mendengar yang begitu,” jawab Habib bin Zaid.
Wajah Musailamah berubah. Bibirnya gemeretak karena marah. Lalu katanya kepada algojo,
“Potong tubunya sepotong!”
Algojo menghampiri Habib bin Zaid, lalu dipotongnya bagian tubuh Habib, dan potongan itu
menggelinding di tanah.
Musailamah bertanya kembali, “Apakah kamu mengakui Muhammad itu Rasulullah?”
Jawab Habib, “Ya, aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”
Tanya Musailamah, “Apakah kamu mengakui aku Rasulullah?”
Jawab Habib, “Telah kukatakan kepadamu, telingaku tuli mendengar ucapanmu itu!”
Musailamah menyuruh potong pula bagian lain tubuh Habib, dan potongannya jatuh di dekat
potongan yang pertama. Orang banyak terbelalak melihat Habib yang keras hati dan tetap
menantang. Musailamah terus bertanya, dan algojo terus pula memotong-motong tubuh
Habib berkali-kali sesuai dengan perintah Musailamah. Walaupun begitu, Habib tetap berkata,
“Aku mengakui sesungguhnya Muhammad Rasulullah!”
Separuh tubuh Habib telah terpotong-potong dan potongannya berserakan di tanah.
Separuhnya lagi bagaikan onggokan daging yang pandai bicara. Akhirnya, jiwa Habib
melayang menemui Tuhannya. Kedua bibirnya senantiasa mengucapkan Nabi SAW dengan
siapa dia telah berjanji setia pada malam Aqabah, yaitu Muhammad Rasulullah.
Setelah berita kematian Habib bib Zaid disampaikan orang kepada ibunya Nasibah bin
Maziniyah, ia berucap, “Seperti itu pulalah aku harus membuat perhitungan dengan
Musailamah Al-Kadzdzab. Dan kepada Allah jua aku berserah diri. Anakku Habib bin Zaid
telah bersumpah setia dengan Rasulullah SAW sejak kecil. Sumpah itu dipenuhinyua ketika
dia muda belia. Seandainya Allah memungkinkanku, akan kusuruh anak-anak perempuan
Musailamah menampar pipi bapaknya.”
Bbrp lama sesudah kematian Habib bib Zaid, tibalah hr yang dinanti-nantikan Nasibah.
Khalifah Abu Bakar mengerahkan kaum muslimin memerangi Nabi-nabi palsu. Antara lain
nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab. Kaum muslimin berangkat untuk memerangi
Musailamah. Dalam pasukan itu terdapat Nasibah Al-Maziniyah dan putranya Abdullah bin
Zaid.
Ketika perang di Yamamah itu telah berkecamuk, kelihatan Nasibah membelah barisan demi
barisan bagaikan seekor singa. Nasibah berteriak, “Di mana musuh Allah itu, tunjukkan
kepadaku!”
Waktu ditemukannya, didapatinya Musailamah telah tewas tersungkur di medan pertempuran,
dengan darahnya membasahi pedang kaum muslimin. Tidak lama kemudian, Nasibah pun
gugur pula sebagai syahidah. Keduanya telah tewas. Namun keduanya berbeda arah.
Nasibah pergi ke surga, sedangkan Musailamah menuju ke neraka.
[Sumber: Kepahlawanan generasi Sahabat Rasulullah]

ABU THALHAH AL-ANSHARI

Zaid bin Sahal An-Najjary, alias Abu Thalhah tahu, perempuan bernama Rumaisha’ binti
Milhan An-Najjariyah, alias Ummu Sulaim, hidup menjanda sejak suaminya meninggal. Abu
Thalhah sangat gembira mengetahui Ummu Sulaim merupakan perempuan baik-baik, cerdas,
dan memiliki sifat-sifat perempuan yang sempurna.
Abu Thalhah bertekad hendak melamar Ummu Sulaim segera, sebelum laki-laki lain
mendahuluinya. Karena Abu Thalhah tahu, banyak laki-laki lain mendahuluinya. Karena Abu
Thalhah tahu, banyak laki-laki lain yang menginginkan Ummu Sulaim menjadi istrinya. Namun
begitu, Abu Thalhah percaya, tidak seorang pun laki-laki lain yang berkenan di hati Ummu
Sulaim selain Abu Thalhah sendiri. Abu Thalhah laki-laki sempurna, menduduki status sosial
yang tinggi, dan kaya raya. Di samping itu, dia terkenal sebagai penunggang kuda yang
cekatan di kalangan Bani Najjar, dan pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan.
Abu Thalhah pergi ke rumah Ummu Sulaim. Dalam perjalanan dia ingat, Ummu Sulaim
pernah mendengar dakwah seorang dai yang datang dari Makkah, Mushab bin Umair. Lalu
Ummu Sulaim iman dengan Muhammad dan menganut agama Islam.
Tetapi setelah berpikir demikian, dia berkata kepada dirinya, “Hal itu tidak menjadi halangan.
Bukankah suaminya yang meninggal menganut agama nenek moyangnya? Bahkan suaminya
itu menentang Muhammad dan dakwahnya.”
Abu Thalhah tiba di rumah Ummu Sulaim. Dia minta izin masuk, maka diizinkan oleh Ummu
Sulaim. Dia minta izin masuk, maka diizinkan oleh Ummu Sulaim. Putra Ummu Sulaim, Anas,
hadir dalam pertemuan mereka itu. Abu Thalhah menyampaikan maksud kedatangannya,
yaitu hendak melamar Ummu Sulaim menjadi istrinya. Ternyata Ummu Sulaim menolak
lamaran Abu Thalhah.
Kata Ummu Sulaim, “Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, hai Abu Thalhah, tidak pantas saya
tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir.”
Abu Thalhah mengira, Ummu Sulaim hanya sekedar mencari-cari alasan. Mungkin di hati
Ummu Sulaim telah berkenan laki-laki lain yang lebih kaya dan lebih mulia daripadanya.
Kata Abu Thalhah, “Demi Allah! Apakah sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk
menerima lamaranku, hai Ummu Sulaim?”
Jawab Ummu Sulaim, “Tidak ada selain itu!”
Tanya Abu Thalhah, “Apakah yang kuning atau yang putih…? Emas atau perak?”
Ummu Sulaim balik bertanya, “Emas atau perak..?”
“Ya, emas atau perak?” jawab Abu Thalhah menegaskan.
Kata Ummu Sulaim, “Kusaksikan kepada Anda, hai Abu thalhah, kusaksikan kepada Allah dan
Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan
perak; cukuplah Islam itu menjadi mahar bagiku.”
Mendengar ucapan Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung
sesembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk
pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan kaumnya, Bani Najjar.
Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan
Abu Thalhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong mengingat berhala
sembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya.
“Tidak tahukah Anda, hai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang
tumbuh di bumi?” Tanya Ummu Sulaim.
“Ya, betul!” jawab Abu Thalhah.
“Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara
potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak…? Jika Anda masuk Islam, hai
Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain
itu,” kata Ummu Sulaim.
“Siapa yang harus mengislamkanku?” tanya Abu Thalhah.
“Aku bisa,” jawab Ummu Sulaim.
“Bagaimana caranya?” tanya Abu Thalhah.
“Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadat. Akui tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala
sembahanmu, lalu buang!” kata Ummu Sulaim menjelaskan.
Abu Thalhah tampak gembira. Lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat.
Sesudah itu Abu Thalhah nikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah kawin
dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata: Belum pernah
kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal dari pada mahar Ummu Sulaim. Maharnya
ialah masuk Islam.
Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada
padanya dikorbankannya untuk berkhidmat kepada Islam.
Abu Thalhah dan istrinya, Ummu Sulaim termasuk kelompok tujuh puluh yang bersumpah
setia (baiat) dengan Rasulullah di Aqabah. Abu Thalhah ditunjuk Rasulullah menjadi kepala
salah satu regu dari dua belas regu yang dibentuk malam itu atas perintah Rasulullah untuk
mengislamkan Yatsrib.
Dia ikut berperang bersama-sama Rasulullah SAW dalam setiap peperangan yang dipimpin
beliau. Dalam perang-perang itu, tidak urung pula Abu Thalhah mendapat cobaan-cobaan
yang mulia. Tetapi cobaan yang paling besar diderita Abu Thalhah ialah ketika dia berperang
bersama-sama rasulullah dalam perang Uhud. Dengarkanlah kisahnya.
Abu Thalhah mencintai Rasulullah sepenuh hati, sehingga perasaan cinta itu mengalir ke
segenap pembuluh darahnya. Dia tidak pernah merasa jemu melihat wajah yang mulia itu,
dan tak pernah merasa bosan mendengar hadits-hadits beliau yang selalu terasa manis
baginya. Apabila Rasulullah berdua saja dengannya, dia bersimpuh di hadapan beliau sambil
berkata, “Inilah diriku, kujadikan tebusan bagi diri Anda dan wajahku pengganti wajah Anda.”
Ketika terjadi perang Uhud, barisan kaum Muslimin terpecah-belah. Mereka lari kucar-kacir
dari samping. Rasulullah SAW oleh karenanya kaum musyrikin sempat menerobos
pertahanan mereka sampai ke dekat beliau. Musuh berhasil mencederai beliau, sehingga
darah mengalir membasahi mukanya. Lalu kaum musyrikin menyiarkan isu Rasulullah telah
tewas.
Mendengar teriakan kaum musyrikin itu, kaum muslimin menjadi kecut, lalu lari porak-poranda
memberikan punggung mereka kepada musuh-musuh Allah. Hanya beberapa orang saja
tentara muslimin yang tinggal mengawal dan melindungi Rasulullah. Diantara mereka ialah
Abu Thalhah yang berdiri paling depan.
Abu Thalhah berada di hadapan Rasulullah bagaikan sebuah bukit berdiri dengan kokohnya
melindungi beliau. Rasulullah berdiri di belakangnya, terlindung dari panah dan lembing
musuh oleh tubuh Abu Thalhah. Abu Thalhah menarik tali panahnya, kemudian melepaskan
anak panah tepat mengenai sasaran tanpa pernah gagal. Dia memanah musuh satu demi
satu. Tiba-tiba Rasulullah mendongakkan kepala melihat siapa sasaran panah Abu Thalhah.
Abu Thalhah mundur menghampiri beliau, karena kuatir terkena panah musuh. “Demi Allah!
Janganlah Rasulullah mendongakkan kepala melihat mereka, nanti terkena panah mereka.
Biarkan leher dan dadaku sejajar dengan leher dan dada Rasulullah. Jadikanlah aku menjadi
perisai Anda,” ujarnya mantap.
Seorang prajurit muslim tiba-tiba lari ke dekat Rasulullah sambil membawa sekantong anak
panah. Rasulullah memanggil prajurit itu. kata beliau, “Berikan anak panahmu kepada Abu
Thalhah. Jangan dibawa lari!” Abu Thalhah senantiasamelindungi Rasulullah SAW, sehingga
tiga batang busur panah patah olehnya, dan sejumlah prajurit musyrikin tewas dipanahnya.
Allah menyelamatkan dan memelihara Nabi-Nya yang selalu berada di bawah pengawasan-
Nya sampai pertempuran usai.
Abu Thalhah sangat pemurah dengan nyawanya berperang fi sabilillah, namun lebih pemurah
lagi mengorbankan hartanya untuk agama Allah. Abu Thalhah mempunyai sebidang kebun
kurma dan anggur yang amat luas. Tidak ada kebun di Yatsrib seluas dan sebagus kebun Abu
Thalhah. Pohon-pohonnya rimbun, buah-buahannya subur, dan airnya manis.
Pada suatu hari ketika Abu Thalhah shalat di bawah naungan sebatang pohon nan rindang,
pikirannya terganggu oleh siulan burung berwarna hijau, berparuh merah, dan kedua kakinya
indah berwarna. Burung itu melompat dari dahan ke dahan dengan suka citanya, bersiul-siul
dan menari-nari. Abu Thalhah kagum melihat burung itu. dia membaca tasbih, tetapi
pikirannya tak lepas dari burung itu.
Ketika menyadari bahwa dia sedang shalat, dia lupa sudah berapa rakaat dia shalat. Dua atau
tiga rakaatkah, dia tidak ingat. Selesai shalat dia pergi menemui Rasulullah dan menceritakan
kepada beliau pristiwa yang baru dialaminya dalam shalat. Diceritakannya juga kepada beliau
pohon-pohon nan rindang dan burung yang bersiul sambil menari-nari ketika dia sedang
shalat.
Kemudian katanya, “Saksikanlah, wahai rasulullah! Kebun itu aku sedekahkan kepada Allah
dan Rasul-Nya. Pergunakanlah sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya.”
Abu Thalhah sering berpuasa dan berperang sepanjang hidupnya. Bahkan dia meningal
ketika sedang berpuasa dan berperang fi sabilillah. Lebih kruang tiga puluh tahun sesudah
Rasulullah wafat, dia senantiasa puasa setiap hari, selain hari raya. Umurnya mencapai lanjut.
Tetapi ketuaan tidak menghalanginnya untuk jihad fi sabilillah dan untuk melakukan
perjalanan jauh demi menegakkan kalimat Allah.
Di zaman khalifah Utsman bin Affan, kaum msulimin bertekad hendak berperang di lautan.
Abu Thalhah bersiap-siap untuk turut dalam peperangan itu bersama-sama dengan tentara
muslimin.
Kata anak-anaknya, “Wahai bapak kami! Bapak sudah tua. Bapak sudah turut berperang
bersama-sama dengan Rasulullah, bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Kini
Bapak harus beristirahat. Biaarlah kami berperang untuk Bapak.”
Jawab Abu Thalhah, “Bukankah Allah SWT telah berfirman: “Berangkatlah kamu dalam
keadaan senang dan susah, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu menyadari.” (QS. At-Taubah : 41).
Firman Allah itu memerintahkan kita semuanya baik tua maupun muda. Allah tidak membatasi
usia kita untuk berperang.”
Abu Thalhah menolak permintaan anak-anaknya untuk tinggal di rumah, dan bersikeras untuk
ikut berperang.
Ketika Abu Thalhah yang sudah lanjut usia itu berada di atas kapal bersama-sama dengan
tentara meninggal di tengah lautan, dia jatuh sakit, lalu meninggal di kapal. Kaum muslimin
melihat-lihat daratan, mencari tempat memakamkan jenazah Abu Thalhah. Tetapi enam hari
setelah wafatnya, barulah mereka bertemu dengan daratan. Selama itu jenazah Abu Thalhah
disemayamkan di tengah-tengah mereka di atas kapal, tanpa berubah sedikit jua pun. Bahkan dia seperti layaknya orang tidur nyenyak saja. Di mana beliau dimakamkan?
Di tengah laut luas
Jauh famili dan kampung halaman
Jauh handai beserta tolan.
Abu Thalhah dimakamkan , biarlah jauh dari mereka, asalkan dekat kepada Allah, ia tak akan
celaka.
[sumber : Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]

ABDULLAH BIN HUDZAFAH AS-SAHMY

Pahlawan yang kita kisahkan ini, sahabat Rasulullah SAW. bernama: ABDULLAH BIN
HUDZAFAH AS—SAHMY.
Sebelumnya sejarah melewatkannya begitu saja, seperti milyunan orang-orang ‘Arab lainnya.
Tetapi Islamlah yang kemudian menugaskan Abdullah bin Hudzhafah menemui dua orang raja
besar dunia pada zamannya, yaitu Kisra, Maharaja Persia, dan Kaisar Agung, Maharaja
Romawi. Pertemuan Abdullah dengan kedua raja dunia itu abadi dalam sejarah, dan
mewarnai perjalanan sejarah itu sèndiri.
Pertemuan Abdullah bin Hudzafah dengan Kisra, Maharaja Persia, terjadi pada tahun keenam
Hijriyah, yaitu ketika Rasulullah SAW. mulai mengembangkan Dakwah Islam ke seluruh
pelosok dunia. Ketika itu beliau berdakwah melalui surat kepada raja-raja ‘Ajam (non Arab),
mengajak mereka masuk Islam.
Rasullulah SAW. telah memperhitungkan resiko yang mungkin timbul dalam pekerjaan
penting ini. Para utusan akan diberangkatkan ke negeri-negeri. asing yang belum mereka
kenal selama ini. Mereka tidak paham bahasa negeri-negeri yang mereka tuju, belum
mengenal seluk-beluk pemerintahan, sosial, dan budayanya. Tetapi mereka harus pergi ke
sana mengajak raja-raja asing itu meninggalkan agama mereka semula dan agar mereka
menanggalkan kemegahan dan kekuasaaan mereka, untuk tunduk kepada agama Islam yang
dianut oleh suatu bangsa yang kemaren menjadi rakyat taklukan mereka.
Memang suatu tugas yang berat dan berbahaya. Pergi ke sana berarti hilang. Kalau toh bisa
kembali, berarti suatu kelahiran baru. Karena itu Rasulullah SAW. mengum pulkan para
sahabat, kemudian beliau berpidato dihadapan mereka.
Seperti biasa, mula-mula Rasulullah SAW. memuji Allah SWT. dan membaca tasyahhud.
Sesudah itu beliau berkata:
“Sesungguhnya aku telah merencanakan hendak mengirim beberapa orang di antara kalian
kepada raja raja ‘Ajam. Karena itu janganlah kalian menolak gagasan ku, seperti Bani Israil
menolak gagasan Isa bin Maryam.”
Jawab para sahabat, “Kami senantiasa siap melaksanakan segala perintah Rasulullah. Kami
bersedia dikirim ke. mana saja dihendaki Rasulullah.”
Rasulullah menunjuk enam orang sahabat untuk menyampaikan surat beliau kepada raja-raja
‘Arab dan ‘Ajam. Salah seorang di antara mereka ialah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmy,
dipilih beliau untuk menyampaikan surat kepada Kisra Abrawiz, Maharaja Persia.
Abdullah bin Hudzafah telah menyiapkan kendaraannya untuk berangkat. Anak-anak dan
keluarganya dititipkannya kepada para sahabat. Kemudian dia berangkat ke tujuan,
mengemban tugas dan Rasulullah dengan semangat dan tanggung jawab penuh. Gunung
yang tinggi didakinya; lembah yang dalam dituruninya. Dia berjalan seorang diri, tiada
berteman selain Allah SWT.

Akhirnya Abdullah bin Hudzafah tiba di ibu kota Persia. Dia minta izin masuk untuk bertemu
dengan Kisra. Abdullah memberitahukan kepada pengawal, bahwa dia utusan Rasulullah
untuk menyampaikan surat kepada Kisra. Pengawal memberi tahu Kisra, ada utusan
membawa surat untuk Baginda.
Kisra memanggil segala pembesar supaya hadir ke majlis Kisra. Kemudian Kisra mengizinkan
Abdullah bin Hudzafah masuk menghadap baginda di majlis yang serba gemilang itu.
Abdullah menghadap dengan pakaian sederhana, seperti kesederhanaan orang-orang Islam,
tetapi kepalanya tegak, jalannya tegap. Dalam tulang belulangnya mengalir keperkasaan
Islam. Di dalam hatinya menyala kekuasaan Iman.
Tatkala Kisra melihat Abdullah menghadap, dia memberi isyarat kepada pengawal supaya
menenima surat yang dibawa Abdullah. Tetapi Abdullah menolak memberikannya kepada
pengawal.
Kata Abdullah, “Jangan…! Rasulullah memerintahkan supaya memberikan surat ini langsung
ke tangan Kisra tanpa perantara Aku tidak mau menyalahi perintah Rasulullah”
Kata Kisra kepada pengawal, “Biarkan dia mendekat kepadaku!”
Abdullah menghampiri Kisra, kemudian surat itu diberikannya ketangan Kisra sendiri. Kisra
memanggil sekretaris berkebangsaan ‘Arab, berasal dari Hirah. Kemudian Kisra
memerintahkan sekretaris itu membuka surat tersebut di hadapan baginda dan menyuruh
membacakan isinya:
“Dari Muhammad Rasulullah, kepada Kisra, Maharaja Kisra.
Berbahagialah siapa yang mengikut petunjuk….”
Baru sampai di situ sekretaris membaca surat, api ke marahan menyala di dada Kisra.
Mukanya merah, dan urat lehernya membengkak. Hal itu ialah karena Rasulullah menyebut
nama beliau sendiri lebih dahulu sebelum menuliskan nama Kisra. Lalu Kisra merebut surat
tersebut dari tangan sekretaris, dan menyobeknya tanpa mengetahui isi surat selanjutnya.
Kisra berteriak, “Berani-berani dia menulis seperti itu kepadaku….! padahal dia budakku…!”
Lalu diperintahkannya mengusir Abdullah bin Hudzafah dari majlis.
Abdullah bin Hudzafah keluar dan Majlis Kisra. Dia tidak mengetahui apa yang akan terjadi
pada dirinya sesudah itu. Mungkin dia akan dibunuh dan mungkin pula akan tetap hidup di
dunia bebas. Tetapi tidak lama Abdullah berpikiran begitu, ia pun berkata kepada dirinya
sendiri, ‘Demi Allah! Aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Yang penting tugas yang
dibebankan Rasulullah kepadaku telah kulaksanakan dengan baik. Surat Rasulullah telah
kusampaikan ke tangan yang bersangkutan.” Lalu dengan sigap dia melompat naik
kendaraannya, dan berpacu secepat-cepatnya. Setelah kemarahan Kisra Abrawiz agak
mereda, diperintahkannya pula para pengawal supaya menghadapkan Abdullah kembali.
Tetapi Abdullah sudah tidak ada di tempat. Para pengawal mencari Abdullah ke mana mana.
Jejaknya pun tidak dapat mereka temukan. Mereka melacak Abdullah di jalan yang menuju ke Jazirah ‘Arab. Tetapi Abdullah sudah jauh, sehingga tidak mungkin tersusul oleh mereka.
Setibanya Abdullah di hadapan Rasulullah, dilaporkannya segala kejadian yang dilihat dan
dialaminya, dan perbuatan Kisra menyobek surat beliau.
Mendengar laporan Abdullah, Rasulullah berkata :
“Semoga Allah menyobek-nyobek kerajaannya pula!”
Kisra menulis surat kepada Badzan, wakil baginda di Yaman untuk menangkap Rasulullah,
kemudian membawa beliau ke hadapan Kisra.
Badzan segera melaksanakan perintah Maharaja Persia yang dipertuan. Badzan mengirim
dua orang yang pilihan untuk menangkap Rasulullah, disertai sepucuk surat untuk beliau.
Surat itu memerintahkan Rasulullah agar segera berangkat menghadap Kisra bersama-sama
dengan kedua orang itu tanpa menunggu-nunggu.
Badzan memerintahkan pula kepada kedua utusannya supaya menyelidiki dengan seksama
di mana Rasulullah berada, agar teliti dalam segala urusan, dan supaya melapor kepadanya
sewaktu-waktu.
Kedua utusan Badzan segera berangkat. Maka dalam tempo singkat keduanya telah sampai
di Thaif. Di sana mereka bertemu dengan para pedagang suku Quraisy. Keduanya bertanya
kepada mereka di mana Rasulullah berada. Para pedagang mengatakan, “Muhammad
berada di Yatsrib.”
Kemudian para pedagang itu meneruskan perjalanan mereka ke Makkah. Setibanya di
Makkah, mereka menyiarkan berita gembira kepada penduduk Makkah. Kata mereka,
“Tenanglah kalian…! Kisra akan membunuh si Muhammad, dan melindungi kalian dan
kejahatannya.”
Kedua utusan Badzan terus ke Madinah. Mereka langsung menemui Rasulullah dan
menyampaikan surat Badzan kepada beliau:
Kata mereka, “Kisra, Maharaja Persia mengirim surat kepada Raja kami, Badzan,
memerintahkan kami menemui Anda. Kisra memerintahkan kami supaya membawa Anda
bersama-sama dengan kami menghadap baginda. Jika Anda berkenan pergi bersama-sama
kami, Kisra mengatakan, itulah yang sebaik-baiknya bagi Anda, karena baginda tidak akan
menghukum Anda. Tetapi jika Anda mengabaikan perintah Baginda, Anda tentu sudah tahu,
baginda sangat berkuasa untuk membinasakan Anda!”
Rasulullah SAW. tersenyum-senyum mendengar perkataan utusan Badzan.
Beliau berkata kepada mereka, “Sebaiknya Tuan-tuan beristirahat lebih dahulu sampai besok.
Besok pagi Tuan tuan boleh kembali ke sini!”
Besok pagi kedua utusan itu datang kembali menemui Rasulullah, sesuai dengan janji.
Kata mereka, “Sudah siapkah Anda berangkat bersama-sama dengan kami menemui Kisra?”
Jawab Rasulullah, “Tuan-tuan tidak dapat lagi bertemu dengan Kisra sesudah hari ini. Kisra
telah dibunuh oleh anaknya sendiri Syirwan, pada jam sekian, detik sekian, hari dan bulan
itu…!” Kedua utusan Badzan melihat wajah Rasulullah SAW dengan mata terbelalak keheranan.
“Sadarkah Anda dengan ucapan Anda?” tanya mereka. “Bolehkan kami tulis ucapan Anda itu
untuk Badzan?”
“Silakan…! Bahkan boleh Tuan-tuan tambahkan, bahwasanya agamaku akan mencapai
seluruh kawasan kerajaan Kisra. Jika Badzan masuk Islam, maka wilayah yang berada di
bawah kekuasaannya akan saya serahkan kepadanya. Kemudian Badzan sendiri kuangkat
menjadi raja bagi rakyatnya.” jawab Rasulullah yakin.
Kedua utusan Badzan meninggalkan Rasulullah SAW. Mereka kembali menghadap Badzan.
Mereka melapor kepada Badzan pertemuannya dengan Rasulullah SAW, dan menyampaikan
pesan beliau kepadanya.
Kata Badzan, “Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, sesungguhnya dia seorang
Nabi. Jika tidak, ucapannya itu hanya mimpi belaka.”
Tidak berapa lama kemudian, tibalah surat Syirwan kepada Badzan.
Kata Syirwan, “Kisra telah saya bunuh. Aku terpaksa membunuhnya karena dia menindas
rakyat kami. Para bangsawan kami habiskan. Wanita-wanita mereka kami tawan. Dan harta
benda mereka kami rampas. Maka bila suratku ini telah engkau baca, kamu dan rakyatmu
hendaklah menyatakan tunduk kepadaku!”
Selesai membaca surat itu, Badzan mengumumkan kepada seluruh rakyatnya, mulai saat ini
dia masuk Islam. Mendengar pengumumannya itu, maka Islam pula semua pembesar dan
orang-orang keturunan Persia yang berada di Yaman.
Itulah kisah pertemuan Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kisra, Maharaja Persia.
Nah…! Bagaimana pula kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung, Maharaja Rum?
Pertemuan Abdullah bin Hudzafah As Sahmy dengan Kaisar Agung, terjadi pada masa
pemerintahan Khalifah ‘Umar bin Khaththab Al Faruq. Kisahnya merupakan kisah yang amat
mengagumkan.
Pada tahun kesembilan-belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar mengirim angkatan perang kaum
muslimin memerangi kerajaan Rum. Dalam pasukan itü terdapat seorang perwira senior,
Abdullah bin Hudzafah As Sahmy,
Kaisar Rum telah mengetahui keunggulan dan sifat-sifat tentara muslimin. Sumber kekuatan
mereka ialah Iman yang membaja, dan kedalaman aqidah, serta keberanian mereka
menghadang maut. Mati fisabilillah menjadi tekad dan cita-cita hidup mereka.
Kaisar memerintahkan kepada para perwiranya, “Jika kalian berhasil menawan tentara
muslimin, jangan kalian bunuh mereka. Tetapi bawa ke hadapanku!” Ditakdirkan Allah,
Abdullah bin Hudzafah tertawa. Abdullah dibawa mereka ke hadapan Baginda Kaisar.
Kata mereka, “Tawanan ini adalah sahabat Muhammad. Dia termasuk sahabat senior, dari
kelompok yang pertama-tama masuk Islam. Dia tertawan, lalu kami bawa ke hadapan
Paduka.”
Lama juga kaisar memperhatikan Abdullah bin Hudzafah. Sesudah itu baru dia berkata, “Saya hendak menawarkan sesuatu kepada engkau.”
“Apa yang hendak Anda tawarkan?” tanya Abdullah.
‘Maukah engkau masuk agama Nasrani? Jika engkau mau, saya bebaskan engkau, kemudian
saya beri pula hadiah besar,” kata Kaisar.
Abdullah bernafas dalam-dalam, lalu menjawab:
‘Yaah …., aku lebih suka mati seribu kali daripada menerima tawaran Anda,” kata Abdullah
mantap.
Kata Kaisar, “Saya lihat engkau seorang perwira yang pintar. Jika engkau mau menerima
tawaranku, saya angkat engkau menjadi pembesar kerajaan, dan saya bagi kekuasaan saya
dengan engkau.”
Abdullah yang diborgol itu tersenyum. Kemudian ia berkata: “Demi Allah! Seandainya Anda
berikan kepadaku semua kerajaan Anda, ditambah dengan semua kerajaan ‘Arab, agar aku
keluar dari agama Muhammad agak sebentar saja, niscayalah aku tidak dapat menerimanya.”
Kata Kaisar, “Kalau begitu, saya bunuh engkau!”
Jawab Abdullah, “Silakan…! Lakukanlah sesuka Anda!”
Abdullah disuruhnya ikat di kayu salib. Kemudian diperintahkannya tukang panah memanah
lengan Abdullah.
Sesudah itu Kaisar bertanya, “Bagaimana…? Maukah engkau masuk agama Nasrani?”
“Tidak!” kata Abdullah.
‘Panah kakinya!” perintah Kaisar.
Maka dipanah orang pula kakinya.
“Nah! Maukah engkau pindah agama?” tanya Kaisar membujuk
Abdullah tetap menolak.
Sesudah itu Kaisar menyuruh hentikan siksaan dengan panah, lalu Abdullah diturunkan dari
tiang salib. Kemudian Kaisar meminta sebuah kuali besar, lalu dituangkan minyak ke dalam
dan diletakkan orang di atas tungku berapi. Setelah minyak menggelegak, Kaisar meminta
dua orang tawanan muslim. Seorang di antaranya disuruhnya lemparkan ke dalam kuali.
Sebentar kemudian, daging orang itu hancur sehingga keluar tulang belulangnya.
Kaisar menoleh kepada Abdullah, dan membujuknya masuk Nasrani. Tetapi Abdullah menolak
lebih keras. Setelah Kaisar putus asa, diperintahkannya melemparkan Abdullah ke dalam
kuali. Ketika pengawal menggiring Abdullah ke dekat kuali, Abdullah menangis.
Para pengawal mengatakan kepada Kaisar, ‘Dia menangis, Paduka!”
Kaisar menduga, tentu Abdullah menangis karena takut mati.
Kata Kaisar, “Bawa dia kembali kepadaku!”
Abdullah berdiri kembali di hadapan Kaisar.

Kaisar menanyakan apakah Abdullah mau menjadi Nasrani. Dengan Iman yang kokoh kuat,
Abdullah tetap menolak bujukan Kaisar.
Kata Kaisar, “Celaka…! Mengapa engkau menangis?”
Jawab Abdullah, “Aku menangis karena keinginanku selama ini tidak terkabul. Aku ingin mati
di medan tempur perang fisabiillah. Ternyata kini, aku akan mati konyol dalam kuali.”
“Maukah engkau mencium kepalaku? Nanti kubebaskan engkau!” kata Kaisar dengan
angkuh.
Jawab Abdullah, “bebas beserta semua kawan-ka wanku tawanan muslim?”
Jawab Kaisar, “Ya, saya bebaskan engkau berserta semua tawanan muslim.”
Abdullah berpikir sejenak, “Aku harus mencium kepala musuh Allah. Tetapi aku dan kawankawan
yang tertawan bebas. Ah.. tidak ada ruginya.”
Abdullah menghampiri Kaisar, lalu diciumnya kepala musuh Allah itu.
Sesudah itu Kaisar memerintahkan para pengawal mengumpulkan semua tawanan muslim
untuk dibebaskan dan diserahkan kepada Abdullah bin Hudzafah.
Setibanya ‘Abduflah bin Hudzafah di hadapan Khalifah ‘Umar bin Khaththab, dilaporkannya
kepada beliau semua yang dialaminya serta pembebasannya berikut sejumlah tentara
muslimin yang tertawan. Khalifah sangat gembira mendengarkan laporan Abdullah. Ketika
Khalifah memeriksa prajurit muslim yang tertawan dan bebas bersama-sama Abdullah, beliau
berkata, “Sepantasnyalah setiap orang muslim mencium kepala Abdullah bin Hudzafah.
Nah…! Aku yang memulai….!”
Khalifah berdiri seketika itu juga, lalu mencium kepala Abdullah bin Hudzafah As Sahmy.
[sumber : Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah SAW terjemah Shuwarun min Hayaati
Ash-Shahabah]

32 RAHASIA ISRAEL (YAHUDI) YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN

1. Tahukah anda bahwa selain ras yahudi, dilarang membeli atau menyewa tanah di Israel? Inilah salah satu rahasia yang tidak dipublikasikan dan selengkapnya
2. Tahukah anda bahwa setiap ras yahudi yang ada di setiap Negara di
seluruh dunia menjadi warga Negara Israel secara otomatis? Sementara
warga Palestina yang terlahir di tanah negerinya sendiri sejak puluhan
abad yang lalu terus diusir ke luar Palestina?

3. Tahukah anda bahwa penduduk Palestina yang menetap di kawasan
Israel harus menggunakan kendaraan dengan cat dan warna khusus untuk membedakan antara ras yahudi dan non yahudi?

4. Tahukah anda bahwa Yerusalem bagian timur, Tepi Barat, Gaza dan
dataran tinggi Golan dianggap oleh masyarakat internasional khususnya
barat dan Amerika sebagai kawasan yang dijajah Israel dan bukan
merupakan bagian dari Israel?

5. Tahukah anda bahwa Israel mengalokasikan 85% air bersih hanya untuk ras yahudi dan membagikan 15% sisanya untuk seluruh penduduk Palestina yang menetap di kawasan Israel? Secara realitas, Israel mengalokasikan 85% air bersih hanya untuk 400 penduduk yahudi di Hebron, sementara 15% sisanya alokasikan kepada 120 ribu penduduk Palestina di daerah itu?

6. Tahukah anda bahwa Amerika mengalolasikan 5 milyar US$ dari
penghasilan pajaknya setiap tahunnya untuk menyumbang Israel?

7. Tahukah anda bahwa Amerika terus memberikan bantuan militer kepada Israel sebesar 1,8 milyard US$ setiap tahunnnya? Dan tahukah anda bahwa jumlah sebesar itu sama dengan sumbangan Amerika kepada seluruh Negara di benua benua Afrika?

8. Tahukah anda bahwa Israel juga menunggu bantuan perang tambahan sebesar 4 milyard US$ dari Amerika yang terdiri dari pesawat tempur F 16, Apache dan Blackhawk? Dan karena Amerika merupakan Negara koalisi utama bagi Israel, maka ia wajib memberikan semua fasilitas yang diminta Israel untuk menjamin eksistensinya.

9. Tahukah anda bahwa pemerintah Amerika telah menekan Konggres
tentang pelanggaran Israel dalam penggunaan senjata yang mereka
sumbangkan?Khususnya pada tahun 1978, 1979 dan tahun 1982 pada perang di Lebanon dan penggunaan senjata nuklir pada tahun 1981.

10. Tahukah anda bahwa Israel adalah satu-satunya Negara di Timur
Tengah yang menolak menandatangani larangan pengembangan senjata
nuklir? Dan menolak Tim Investigasi PBB untuk memeriksa tempat
persembunyian nuklirnya?

11. Tahukah anda bahwa sebelum berdirinya Israel pada tahun 1948,
sudah memiliki pabrik pengembangan senjata nuklir?

12. Tahukah anda bahwa Perwira Tinggi Israel di Departemen Perang
mengakui secara terang-terangan bahwa militer Israel membunuh semua tahanan perang Palestina tanpa proses pengadilan?

13. Tahukah anda bahwa Israel meledakan tempat kediaman Diplomat
Amerika dan menyerang kapal perang Amerika Liberty di perairan
internasional pada tahun 1967? Walaupun serangan itu menewaskan 33
tentara Amerika dan melukai 177 lainnya, tetapi Amerika sama sekali
tidak melakukan tindakan apapun terhadap Israel? Hanya dengan alasan bahwa tentara Israel salah sasaran? Bayangkan kalau serangan itu dilakukan oleh Negara Islam?

14. Tahukah anda bahwa Israel merupakan Negara yang paling banyak
mengabaikan resolusi DK PBB? Jumlah resolusi yang diabaikan oleh
Israel mencapai 69 buah. Bayangkan seandainya satu Negara Islam
mengabaikan 1 resolusi PBB, apa yang akan dilakukan oleh Amerika?

15. Tahukah anda bahwa pemerintah Israel menggunakan system politik
konservasi terhadap identitas ras yahudi agar tetap menjadi warga
Negara itu?

16. Tahukah anda bahwa Mahkamah Agung Israel telah menetapkan Perdana Menteri Ariel Sharon sebagai tersangka dalam kasus pembantaian Shabra dan Syatilla pada 16 September 1982 di Lebanon yang menewaskan lebih dari 1000 orang Palestina terdiri dari anak-anak, wanita dan orang tua?

17. Tahukah anda bahwa pada tanggal 20 Mei 1990, seorang tentara
Israel menyuruh para buruh Palestina yang sedang menunggu bus di
sebuah halte untuk duduk berbaris di atas tanah, setelah itu ia
menembaki mereka dari jarah setengah meter? Tahu pulakah anda bahwa pemerintah Israel menyatakan tentara itu tidak bersalah dan bahkan mendapat penghargaan khusus dari pemerintah Israel?

18. Tahukah anda bahwa sampai tahun 1988, semua pabrik dan kantor di Israel hanya boleh menempelkan keterangan lowongan kerja dengan
perkataan: “lowongan kerja hanya untuk ras yahudi”, “dicari seorang
karyawan dengan syarat ras yahudi”?

19. Tahukah anda bahwa Departmen Luar Negeri Israel membayar 6
peruhaan media Amerika untuk memunculkan image positif Israel kepada
masyarakat Amerika dan Eropa?

20. Tahukah anda bahwa Sharon mengajak Partai radikal Molodeit untuk menjadi koalisi utama dalam kabinetnya? Padahal partai itu beridiologi radikal dengan persepsi pokok membesihkan Israel dari non ras yahudi dan pengusiran secara paksa seluruh warga Palestina dari Israel?

21. Tahukah anda bahwa Perdana Menteri Israel pertama David ben Gorion sepakat dengan langkah pengusiran secara paksa seluruh ras arab dari Israel?

22. Tahukah anda bahwa Rahib besar di Israel Ofadya Yosef yang juga
pendiri Partai Syas (partai terbesar ketiga di Israel) mendukung aksi
militer Israel untuk menghabisi warga Palestina? bahkan ia mengeluarkan fatwa radikal pada hari raya paskah yang lalu dalam
wawancaranya di sebuah jaringan radio terbesar di Israel: “Tuhan akan
membalas semua kejahatan warga arab, Tuhan akan menghancurkan
keturunannya, menghabisinya dan menghancurkan tanahnya dan Tuhan akan membalas mereka dengan siksaan yang pedih. Karenanya dilarang semua ras yahudi untuk memberikan rasa kasih sayang kepada warga arab, dan wajib bagi setiap yahudi untuk menembakan rudal dan senjatanya ke arah dada dan kepala setiap warga arab untuk menghabisinya, karena mereka itu makhluq yang jahat dan terkutuk”……

23. Tahukah anda bahwa pengungsi Palestina terbesar di dunia?

24. Tahukah anda bahwa penduduk Kristen Palestina bersatu dengan
penduduk Palestina muslim untuk melawan penjajah yahudi?

25. Tahukah anda, walaupun Mahkamah Agung Israel sudah mengeluarkan keputusan pelarangan penyiksaan dalam proses pemeriksaan, tetapi Shinbet (Badan Intelejen Israel) tetap terus menyiksa setiap pejuang Palestina dalam proses pemeriksaannya?

26. Tahukah anda bahwa walaupun Israel terus mengganggu proses belajar mengajar dan merusak seluruh sarana dan prasara pendidikan penduduk Palestina, tetapi penduduk Palestina tetap menjadi Negara terbesar di dunia yang penduduknya bergelar doctor (S3)? Hal ini apabila dilihat dari jumlah prosentase penduduknya.

27. Tahukah anda bahwa setiap manusia mempunyai hak yang sama yang dijamin oleh undang-undang HAM internasional yang diterbitkan pada tanggal 10 Desember 1948? Tetapi tahukah anda bahwa undang-undang itu sama sekali tidak berlaku bagi penduduk Palestina? karena dihalangi dengan ditandatanganinya kesepatakan OSLO?

28. Tahukah anda bahwa mayoritas buku sejarah di dunia mengatakan
Negara-negara arab yang menyerang Israel terlebih dahulu pada perang
tahun 1967? Padahal faktanya, justru Israel yang menyerang
Negara-negara arab terlebih dahulu kemudian mereka merebut kota Al
Quds dan Tepi Barat? Tetapi mereka mengatakan bahwa serangannya itu adalah serangan untuk menjaga diri dan antisipasi?

29. Tahukah anda bahwa Israel sebagai Negara penjajah sama sekali
tidak terikat dengan konsvensi Jenewa untuk menjaga hak-hak dan
keselamatan warga sipil Palestina?

30. Tahukah anda bahwa perintah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon
sudah tidak dituruti lagi oleh militer Israel? Salah satu contohnya
adalah ketika ia melarang militer Israel untuk melakukan genjatan
senjata dan dilarang menembak, tetapi militer Israel terus menyerang,
menembaki rakyat sipil Palestina dan menghancurkan tempat tinggal
mereka. Insiden paling memilukan andalah pembantaian tiga wanita
Palestina, padahal mereka sedang berada dalam tenda pengungsiannya?

31. Tahukah anda bahwa Israel terus melakukan berbagai usaha untuk
menghancurkan Masjid Al Aqsha dan Qubah Shakhrah sejak 50 tahun yang lalu dengan menggali bawah tanah masjid tersebut agar runtuh dengan sendirinya?

32. Tahukah anda bahwa Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela
mengatakan bahwa Israel adalah Negara rasisme dan apartheid seperti
kondisi Afrika Selatan sebelum ia pimpin?

Sumber : Millis Iqra

Syarah Kutipan Berharga

Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Siapa mengamalkan tauhid dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya, maka dia itu muslim kapan saja dan dimana saja. Dan yang kami kafirkan hanyalah :
1. Orang yang menyekutukan Allah dalam uluhiyyah-Nya setelah kami menjelaskan kepadanya hukkah akan bathilnya syirik.
2. Dan begitu juga kami kafirkan orang yang memperindah syirik itu dihadapan manusia.
3. Atau orang yang menegakkan syubuhat-syubuhat yang bathil untuk membolehkannya.
4. Dan begitu juga orang-orang yang melindungi tempat-tempat kemusyrikan ini semuanya, dan memerangi orang-orang yang mengingkari tempat-tempat itu dan berupaya menghancurkannya.”
Perkataan Syaikh ini dikutip juga oleh Syaikh Abdullathif Ibnu Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah dalam Mishbah Adh Dhalam Fi Man Kadzaba ‘Alasy Syaikh Al Imam hal 104.
Perkataan mutiara yang beliau lontarkan ini mengandung dua sisi :
1. siapa muslim itu ?
2. Siapa orang musyrik yang beliau kafirkan ?


Siapa orang musyrik itu ?

Syaikh mengatakan : “Yang mengamalkan tauhid dan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya”. Definisi ini berdasarkan Al Kitab, As Sunnah, dan Ijma para ulama, serta ulama-ulama sebelum beliau.

A. Dalil dari Al Kitab
            
“…Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus…” (QS. Al Baqarah [2] : 256)
Buhul tali yang yang sangat kokoh adalah Al Islam atau Laa ilaaha illallaah…
Mengamalkan tauhid adalah makna beriman kepada Allah, sedangkan berlepas diri dari syirik dan para pelakunya adalah makna kufur kepada thaghut. Dan semua ini adalah makna Laa ilaaha illallaah.
Telah saya jelaskan makna kufur kepada thaghut, makna iman kepada Allah, serta thaghut-thaghut itu dalam risalah yang lalu, silahkan rujuk kembali.
Orang yang mengaku beriman kepada Allah, dia shalat, zakat, serta melakukan amal shaleh lainnya, namun dia belum menanggalkan seluruh bentuk syirik akbar seperti : tumbal, sesajen, minta kepada yang sudah mati, ikut dalam sistem demokrasi, mejadipelaksana hukum buatan manusia, mendukung nasionalisme dan Pancasila, maka dia belum kufur kepada thaghut. Berarti bukan orang Islam.
Apalah artinya amal ibadah jika pelakunya tidak kufur kepada thaghut, bahkan tidak mengetahui thaghut dan justru menjadi pelindung thaghut ? dan apa gerangan dengan thaghutnya itu sendiri…?
Dalam ayat di atas Allah mendahulukan kufur kepada thaghut atas iman kepada Allah, ini supaya tidak ada orang yang mengatakan : “Kamu beriman kepada Allah, jadi kami mukmin”. Padahal dia tidak atau belum kufur kepada thaghut.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang inti dakwah para rasul :
    •         •    •             
“Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…”. (QS. An Nahl [16] : 36)
Ibadah kepada Allah artinya mengamalkan tauhid, sedangkan menjauhi thaghut artinya berlepas diri dari syirik dan para pelakunya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang isi tugas semua Rasul :
               
“Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (QS. Al Anbiya [21] : 25)
Laa ilaaha illallaah terdiri dari dua makna, Laa ilaaha artinya berlepas diri dari syirik danpara pelakunya, sedangkan illallaah artinya mengamalkan tauhid.
Jadi, sekedar ibadah kepada Allah tapi dia tidak bara’ (berlepas diri) dari syirik danpara pelakunya maka dia bukan muslim, meskipun mengaku Islam dan rajin beribadah, seperti ‘Ubadul Qubur, para Demokrat, orang-orang Nasionalis, Pancasilais, dan para aparat keamanan negara bersistemkan thaghut Demokrasi.

B. Dalil dari As Sunnah
Beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim lewat jalur Abu Hurairah radliyallahu 'anhu :
“Siapa yang mengatakan Laa ilaaha illallaah dan dia kufur kepada setiap yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala”
Dalam penjelasan di atas sudah dijelaskan bahwa Laa ilaaha artinya kufur kepada thaghut (berlepas diri dari syirik dan para pelakunya), sedangkan illallaah adalah mengamalkan tauhid (ibadah hanya kepada Allah), namun dalam hadits ini Rasulullah ingin menguatkan pentingnya kufur kepada thaghut dengan perkataan “…dan dia kufur kepada setiap yang diibadati selain Allah…”. Bila dua hal terealisasi, maka orang baru disebut muslim yang haram darah dan hartanya, namun bila tidak terealisasi salah satunya maka yang siap adalah pedang tauhid.
Para imam dakwah tauhid mengatakan saat menjelaskan hadits ini : “Maka darah dan harta seorang hamba tidak terjaga sehingga dia mendatangkan dua hal ini”, terus saat menjelaskan makna yang pertama : “Maksudnya adalah memurnikan seluruh ibadah hanya kepada Allah”, dan untuk makna yang kedua : “Maksudnya adalah mengkafirkan para pelaku syirik dan berlepas diri dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati bersama Allah”. [Ad Durar As Saniyah : 9/291]
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda :
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadati selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah,
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, kemudian bila mereka melakukan hal itu maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka dari aku, kecuali dengan hak Islam sedangkan perhitungan mereka adalah atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala”
[HR. Bukhariy dan Muslim]
Dan hadits-hadits yang lainnya yang semakna dengannya…

C. Dari Ijma Para Ulama
Syaikh Abdurrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata : “Para ulama telah ijma, baik salaf maupun khalaf dari kalangan para iman dan seluruh Alhlus Sunnah, bahwa orang tidak menjadi muslim kecuali dengan cara membersihkan diri dari syirik akbar, bara’ darinya dan dari para pelakunya, membencinya dan memusuhinya sesuai dengan kemamampuan dan kekuatan, serta memurnikan amalan seluruhnya hanya kepada Allah” [Ad Durar As Saniyah : 1/545]
Syaikh Sulaiman Ibnu Abdillah rahimahullah berkata : “Dan sekedar mengucapkannya (Laa ilaaha illallaah) tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengetahui tuntutannya berupa komitmen dengan tauhid, berlepas diri dari syirik serta kufur kepada thaghut, maka sesungguhnya hal itu tidak bermanfaat berdasarkan ijma” [Taisir Al ‘Aziz At Tahmid]
Al Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata : “Setiap orang yang meyakini dengan hatinya dengan keyakinan yang pasti dan mengucapkan dengan lisannya Laa ilaaha illallaah wa ana Muhammadn Raulullah, maka dia itu muslim lagi mukmin, tidak ada atasnya selain itu” [Al Fashl : 4/35, lihat Juz Ashli Dienil Islam]
Para hakim, jaksa, pengacara, aparat penegak hukum buatan, mereka itu tidak berlepas diri dari selain dien Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, karena hukum adalah dien sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala firmankan :
       
“…tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja…” (QS. Yusuf [12] : 76)
Al ‘Alamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Islam adalah mentauhidkan Allah, inadah kepadanya saja tidak ada sekutu baginya, iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengikuti beliau dalam apa yang beliau bawa. Bila seorang hamba tidak membawa hal ini maka dia bukan muslim, apabila dia bukan kafir mu’anid (membangkang) maka dia adalah kafir jahil (bodoh). Status thabaqah orang-orang macam ini adalah orang-orang kafir yang jahil lagi mu’anid, sedangkan ketidak membangkangan mereka tidak mengeluarkan status mereka sebagai orang-orang kafir” [Thariq Al Hijratain, Tahabaqah ke 17]
Orang yang berbuat syirik, dia itu tidak mentauhidkan Allah, maka dia bukan muslim, orang yang berbuat atau membuat tumbal dan sesajen bukan oranng muslim. Pengacara juga ikut memutuskan dengan hukum thaghut maka dia bukan muslim.
Orang yang berbuat syirik bukanlah muslim, tetapi dia adalah musyrik kalau belum tegak hujjah risaliyyah, dan kalau sudah tegak hujjah, maka dia adalah musyrik kafir. Sedangkan kalau sebelumnya dia adalah muwahhid maka dia adalah musyrik kafir murtad.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “DalamIslam itu harus ada istislam (penyerahan diri) kepada Allah saja dan meninggalkan istislam kepada yang selain-Nya. Dan inilah hakikat ucapan Laa ilaaha illallaah, siapa yang berserah diri kepada Allah dan kepada yang lainnya maka dia musyrik, sedangkan Allah tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya, dan siapa yang tidak istislam kepada Allah maka dia itu orang yang menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya, sedangnkan Allah mengatakan : “Sesungguhnya orang-orang yang menuombongkan diri dari ibadah kepada-Ku, maka mereka akan masuk Jahannam dalam keadaan hina” [Al Qaul Al Fashl An Nafis : 160]
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah mengatakan : “Islam adalah komitmen dengan tauhid, bara’ (berlepas diri) dari syirik, bersaksi akan kerasulan beliau shalallahu 'alaihi wasallam serta mendatangkan rukun yang empat lainnya” [Mishbah Adh Dhalam : 228]
Ini adalah penjelasan tentang siapakah orang muslim itu dari ungkapan Syaikh Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah…
Dan sebelum menginjak pada bahasan selanjutnya, ada pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya sampaikan :
 Apakah yang meminta kepada yang sudah mati itu bara’ dari syirik ?
 Apaka orang yang membuat tumbal itu bara’ dari syirik ?
 Apakah yang membuat sesajen itu bara’ dari syirik ?
 Apakah para pendukung demokrasi itu bara’ dari syirik ?
 Apakah anggota parlemen itu muwahhid (orang yang bertauhid) ?
 Apakah para pelaksana hukum buatan itu bara’ dari tahghut ?
 Apakah para pelindung sistem syirik itu bara’ dari thaghut ?
 Apakah para pendukung falsafah syirik itu kufur kepada thaghut ?
 Apakah orang-orang yang berjanji setia kepada sistem, falsafah,dan negara kafir itu kufur kepada thaghut ?
 Apakah orang yang mengajarkan meteri falsafah syirik itu kufur kepada thaghut ?
 Apakah siswa atau mahasiswa yang menyetujui atau memuji atau menyanjung falsafah syirik dalam lembaran kertas supaya mendapatkan nilai cukup dalam mata pelajaran falsafah syirik itu kufur kepada thaghut ?
Silahkan anda jabab sendiri…!

Orang Yang Dikafirkan Karena Syirik Akbar
Orang yang pertama sebagaimana ungkapan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab :
“Orang yang menyekutukan Allah dalam uluhiyyah-Nya setelah kami jelaskan kepadanya hujjah
akan bathilnya syirik”
Telah saya paparkan dalam risalah sebelumnya (Takfir Pelaku Sirik Akbar) dalil-dalil dari Al Qur'an, As Sunnah dan Ijma, juga perkataan para ulama tentang keharusan mengkafirkan pelaku syirik akbar, silahkan rujuk padanya…
Dan tentang pengkafiran setelah tegak hujjah risaliyyah, sudah saya kupas juga dalam risalah yang lalu (Siapa Orang Musyrik Itu ?), yang mana maksudnya kalau hujjah risaliyyah belum tegak karena alasan fatrah umpamanya, pelaku syirik akbar belum dikatakan musyrik kafir tapi namanya musyrik bukan muslim.
Adapun penegakan hujjah itu bukan artinya itu bukan artinya dia diberikan penjelasan satu per satu, namun bentuk penegakan hujjah dan tegaknya hujjah itu bermacam-macam, silahkan rujuk risalah Al Haqaiqut Tauhid karya Syaikh Ali Al Khudlair dan risalah Faman Yakfur Bith Thaghut (Al ‘Urwah Al Wutsqa) milik penulis (Al Faqir).
Orang yang kedua adalah : Orang yang menghiasi syirik dihadapan manusia
Orang macam ini adalah thaghut, karena dengan penghiasannya itu berarti dia menyesatkan orang lain dan mengajaknya kepada lemusyrikan. Seperti orang yang mengatakan bahwa meminta kepada para wali yang sudah mati itu adalah bentuk pengagungan terhadap mereka, juga orang yang mengatakan bahwa Pancasila itu hebat karena bisa melindungi semua agama, para jurkam (juru kampanye) partai-partai yang masuk dalam sistem demokrasi, orang yang menyatakan bahwa masuk menjadi anggota legislathif itu adalah bagian dari jihad, dan lain sebagaianya.
Orang yang ketiga adalah orang yang menegakkan syubuhat-syubuhat yang bathil dalam rangka membolehkannya
Ini adalah thaghut, karena dengan perbuatannya itu mengajak orang berbuat syirik seperti orang yang membolehkan meminta kepada kepada yang sudah mati dengan dalil-dalil yang samar atau dengan hadits palsu, seperti ungkapan sebagian mereka yang dinisbatkan kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam : “Bila kalian mengalami kesulitan, maka cepatlah minta tolong kepada yang sudah dikubur”, juga seperti sabda Ralulullah yang disalahartikan : “Siapa yang memintakan wasilah buatku (kepada Allah) maka dia pasti dapat syafa’atku di hari kiamat” mereka artikan : “siapa yang meminta wasilah (perantara) kepadaku maka dia pasti dapat syafa’atku di hari kiamat”.
Seperti orang yang membolehkan syirik demokrasi dengan alasan syura dan syubuhat-syubuhat lainnya. Orang yang masuk dalam sistem demokrasi memiliki tujuan perbaikan dalam hal-hal parsial, namun mereka melupakan tujuan pokok, yaitu tauhid.

Orang yang keempat adalah : Orang-orang yang melindungi tempat-tempat kemusyrikan ini semuanya
dan memerangi orang yang mengingkarinya dan berupaya memusnahkannya
Seperti juru kunci kuburan-kuburan yang dikeramatkan dan laskar yang membelanya. Pada masa sekarang seperti para penguasa thaghut yang melindungi falsafah dan sistem syirik dengan undang-undang mereka yang siap menjerat setiap muwahhid yang merongrongnya.
Mereka juga membuat peraturan-peraturan dalam rangka melestarika tempat-tempat syirik dan budaya syirik, ini semua dilakukan demi menarik wisatawan.
Juga para aparat keamanan yang siap melindungi falsafah, sistem, negara serta undang-undang kafir, sungguh mereka adalah wali-wali syaitan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala :
                 •     
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, Karena Sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah. (QS. An Nisa [4] : 76)
Ikhwan-ikhwan tauhid, ini yang bisa saya jelaskan… mudah mudahan kita bisa mengamalkannya. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi kita, keluarga, dan para shahabat.

16 Rabi’ Al Awwal 1425 H. /Jum’at, 7 Mei 2004
Polda Metro Jaya Jakarta
Al Faqir ilallah


Abu Sulaiman Aman Aburrahman





















Siapa orang musyrik itu ?


Ikhwani fillah…
Materi kali ini adalah tentang nama musyrik, siapa yang disebut orang musyrik itu ? Kapan seseorang dikatakan musyrik ? Apakah ada kaitannya antara nama musyrik dengan tegaknya hujjah ? Apakah pelaku syirik akbar yang jahil di sebut musyrik juga ?
Mari kita mengkajinya dengan berlandaskan keterangan dari Al Qur’an, As Sunnah, serta Ijma dan pernyataan para ulama dakwah tauhid.
Sebelumnya ana mohon maaf kalau banyak kekurangan, karena yang dituangkan murni dari apa yang ada di kepala ini, dengan memohon pertolongan Allah, saya katakan :
Syirik adalah lawan tauhid, tidak ada tauhid bila syirik ada pada diri seseorang. Orang yang berbuat syirik akbar dengan sengaja tanpa ada unsur paksaan, maka dia itu musyrik, baik laki-laki atau perempuan, baik yang mengaku beragama Islam atau tidak. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini :

I. Dari Al Qur’an

1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
         
“Dan bila ada satu orang dari kalangan orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka berilah dia perlindungan sampai dia mendengar firman Allah” (QS. At Taubah [9] : 6)
Dalam ayat ini Allah namakan pelaku syirik sebagai orang musyrik, meskipun dia belum mendengar firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka apa gerangan dengan para pelaku syirik yang telah mendengar firman Allah ? Al Qur’an dia baca, terjemahannya dia miliki dirumahnya…?!
Bila ada yang mengatakan : “Ayat itu berkenaan dengan para penyembah berhala, tapi kenapa kamu terapkan kepada orang yang mengaku Islam, dia shalat, zakat, shaum, haji, dsb, hanya karena melakukan syirik akbar ?”
Jawabannya : Silahkan kalian rujuk kitab Kasyfu Syubuhat karya Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah, supaya kalian lebih puas.

2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
  •         
“Tidak selayaknya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampunan buat kaum musyrikin, meskipun mereka itu kerabat dekat” (QS. At Taubah [9] : 113)
Ayat ini berkenaan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, saat meminta izin kepada Allah untuk memintakan ampunan buat ibunya yang meninggal sebelum beliau diutus dan meninggal di atas ajaran kaumnya yang syirik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjajarkan ibunya dalam golongan kaum musyrikin, padahal waktu itu belum ada dakwah dan hujjah risaliyyah lagi mereka bodoh. Maka apa gerangan dengan pelaku syirik akbar yang mengaku Islam, padahal hujjah ada di sekeliling mereka dan Al Qur’an mereka baca dan mereka hapalkan.
Kalau ada yang berkata : “Orang yang mengaku Islam tapi berbuat syirik karena kebodohannya, dia beribadah dengan rajin kepada Allah, akan tetapi juga kamu katakan musyrik ?”
Jawabannya :
Didalam Al Qur’an dan As Sunnah yang diperintahkan itu bukan beribadah kepada Allah, tetapi beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan syirik, yaitu memurnikan segala ketundukan hanya kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
      
“Dan beribadahlah kalian kepada Allah dan jangan menyekutukan sesuatupun dengan-Nya” (QS. An Nisa [4] : 36)
Saya bertanya : Apakah “meminta” kepada yang sudah meniggal itu menyekutukan Allah atau tidak ? Apaka yang ikut dalam sistem demokrasi itu menyekutukan Allah atau tidak ? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
            •     
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah seraya memurnikan seluruh dien (ketundukan) hanya kepada-Nya lagi mereka itu hanif dan menjalankan agama dengan lurus” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)
Saya bertanya : Apakah orang yang menyandarkan hak hukum kepada rakyat atau wakil-wakilnya itu telah memurnikan dien seluruhnya kepada Allah, atau sebaliknya, padahal hukum itu adalah dien. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
              
“…Hak hukum (putusan) hanyalah milik Allah, Dia memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya, itulah dien yang lurus…” (QS. Yusuf [12] : 40)
juga dalam ayat lain :
       
“Dia Yusuf tidak mungkin membawa saudaranya pada dien (undang-undang/hukum) Raja itu” (QS. Yusuf [12] : 76)
Orang yang di samping beribadah kepada Allah, juga dia beribadah kepada yang lainnya, maka sesungguhnya dia itu tidak dianggap beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya :
        
“Katalkanlah; Wahai orang-orang kafir, aku tidak beribadah kepada tuhan-tuhan yang kalian ibadati” (QS. Al Kafirun [109] : 1-2)
Dalam ayat ini, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam diperintahkan untuk mengatakan bahwa “Wahai orang-orang kafir Quraisy, saya tidak akan beribadah kepada tuhan-tuhan yang kalian ibadati”, padahal di antara tuhan yang mereka ibadati itu adalah Allah, berarti Rasulullah tidak akan beribadah kepada Allah juga ? Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa peribadatan mereka kepada Allah itu tidak dianggap karena mereka ibadah kepada yang lainnya.
Jadi penafian syirik adalah syarat dalam ibadah kepada Allah, makanya Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa : “Islam adalah mentauhidkan Allah, dan beribadah kepada-Nya saja, tidak ada sekutu baginya…” [Thariq Al Hijratain, thabaqah yang ke 17]

3. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
                        
“Mereka (orang-orang Nashrani) telah menjadikan para ulama dan para rahib (ahli ibadah) mereka sebagai arbab-arbab selain Allah dan juga Al Masih Ibnu Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada ilah yang satu, tidak ada ilah (yang berhak diibadati) kecuali Dia, Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan” (QS. At Taubah [9] : 31)
Dalam ayat ini Allah memvonis orang-orang Nashrani sebagai orang-orang musyrik, padahal mereka tidak mengetahui bahwa sikap mereka mengikuti ulama dan rahib mereka dalam aturan yang bertentangan dengan aturan Allah itu adalah bentuk peribadahan kepada para ulama dan rahib itu, sebagaimana yang Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam jelaskan dalam hadits ‘Adiy Ibnu Hatim radliyallahu 'anhu. Maka begitu juga para pejabat dan aparatur keamanan di negeri demokrasi, yang mana mereka itu dengan sigap berkomitmen dengan undang-undang yang digulirkan oleh thaghut-thaghut mereka.
Keterangan yang tadi saya sebutkan tentang ayat ini, telah dikatakan oleh Al ‘alamah Abdullah Ibnu Abdurrahman Aba Bhutahain dalam Risalah Al Intishar Li Hizhbillah Al Muwahhidin, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
                   
“Orang-orang yang kafir dari kalangan ahlul kitab dan kaum musyrikin tidak pecah sehingga datang kepada mereka bayyinah, yaitu utusan dari Allah, yang membaca lembaran-lembaran yang disucikan” (QS. Al Bayyinah [98] : 1-2)
Karena mereka berbuat syirik, maka mereka dinamakan kaum musyrikin meskipun Rasul belum datang kepada mereka. Maka apa gerangan dengan pelaku syirik masa sekarang, Rasul telah datang, Al Qur’an ada di rumah mereka, bahkan sebahagian mereka mengaku sebagai ulama dan ahli Islam ? tidak diragukan lagi mereka itu adalah kaum musyrikin, baik dia ustadz, kiyai, ulama atau cendikiawan, atau orang umum, karena syirik dan status musyrik itu tidak mengenal status seseorang.
Al Imam Su’ud Ibnu Abdul ‘Aziz Ibnu Muhammad Ibnu Su’ud rahimahullah berkata : “Siapa yang memalingkan satu macam dari (ibadah) itu kepada selain Allah, maka dia itu musyrik, baik dia itu ahli ibadah atau orang fasiq, dan sama saja tujuannya baik atau buruk” [Ad Durar As Saniyyah : 9/270]
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata kepada hakim Riyadh yang bernama Sulaiman Ibnu Suhaim : “…tapi kamu adalah laki-laki yang bodoh lagi musrik” [lihat Risalah kepadanya dalam Tarikh Nejed].
Sebenarnya masih banyak ayat-ayat yang memvonis para pelaku syirik akbar sebagai orang musyrik yang mana hujjah risaliyyah belum tegak. Namun banyak orang saat membaca ayat-ayat tentang kaum musyrikin, mereka hanya menafsirkan dengan orang-orang musyrik Arab dan jarang yang menafsirkannya seraya menghubungkan dengan realita masyarakat disekelilingnya, sehingga menjadikan banyak yang terjatuh dalam kemusyrikan tanpa disadari…
Umar Ibnu Al Khaththab radliyallahu 'anhu berkata : “Orang-orang itu telah lalu, dan tidak dimaksud dengan dalil itu keluali kalian”, dan beliau juga berkata : “Ikatan-ikatan Islam ini akan lepas satu demi satu bila tumbuh di dalam Islam ini orang-orang yang tidak mengenal jahiliyyah”

II. Dari As Sunnah

 Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang ayahnya yang meninggal di zaman fatrah (zaman tidak ada dakwah) yang mana dia meninggal di atas ajaran syirik, maka Rasul menjawab : “Bapakmu di neraka”. Mendengar jawaban tersebut, si laki-laki itu mukanya langsung merah dan ketika berpaling, Rasul memanggilnya dan mengatakan : “Bapakku dan bapakmu di neraka”. [HR. Muslim].
Ayah Rasulullah, Abdullah meninggal di zaman jahiliyyah, tidak ada dakwah dan tidak ada hujjah risaliyyah, meninggal di atas ajaran syirik kaumnya. Rasulullah bukan hanya menetapkan status nama hukum dunia, tapi langsung hukum pasti di akhirat berupa api murka.
Dari hadits ini Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berbuat syirik akbar, baik itu zaman fatrah atau bukan, baik ada dakwah atau tidak maka dia itu calon penghuni neraka.
Sebagian ulama lain sepakat dengan penamaan status musyrik di dunia, namun masalah akhirat adalah lain, apa gerangan dengan para pelaku syirik zaman sekarang di mana Rasul sudah diutus, dakwah juga ada, hujjah beraneka ragam bentuknya, dan Al Qur’an dilantunkan di mesjid-mesjid, sungguh… mereka itu adalah orang musyrik, bukan kaum muslimin. Di antara mereka ada yang meminta ke kuburan keramat, di antara mereka ada yang membuat tumbal, ada yang membuat sesajian, dan ada pula yang menyandarkan wewenang hukum kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan mereka adalah kaum musyrikin tanpa diragukan lagi.
 Ada rombongan dari Banu Al Muntafiq, mereka bertanya tentang ayah mereka yang meninggal di zaman fatrah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa dia itu di neraka, kemudian beliau mengatakan : “Demi Allah, kamu tidak melewati satu kuburan pun dari orang Amiri atau Quraisy dari kalangan orang musyrik, maka katakan : (Saya di utus kepada kalian oleh Muhammad untuk memberi kabar bahwa kalian digusur di dalam api neraka !)” [HR. Imam Ahmad]
Dalam hadits ini, orang yang meninggal di atas syirik dari kalangan ahlul fatrah disebut musyrik, maka apa gerangan apabila bukan dalam zaman fatrah…?
Apa faidah kalian membela-bela para pelaku syirik akbar wahai maz’um…? Kalian tidak menegakkan hujjah-hujjah atas mereka, kalian membela mereka, kalian akrab bercengkrama dengan mereka, sementara kaum muwahhidin yang bara’ (berlepas diri) dari syirik dan para pelakunya serta telah menegakkan hujjah atas mereka, kalian justeru memusuhinya dan membencinya…? Inikah ciri Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ? atau justeru ini ciri Ahlul Bid’ah Wadl Dlalalah ?, inikah manhaj As Salaf Ash Shalih yang kalian kliam ataukah justeru ini ciri Khawarij Az Zarikhah yang kalian tuduhkan kepada kami wahai maz’um…??!

III. Ijma Para Ulama
Para ulama ijma bahwa orang yang berbuat syirik akbar itu dinamakan musyrik, dan yang menjadi perdebatan mereka itu hanyalah tentang masalah adzab di akhirat bagi yang belum tegak hujjah risaliyyah atasnya. Adapun masalah nama hukum di dunia… mereka sepakat bahwa ia adalah musyrik, sehingga mereka sepakat bahwa status anak orang musyrik di dunia adalah musyrik, namun perbedaan di antara mereka hanyalah dalam masalah status akhirat, dia ke surga atau ke neraka. Di dunia tentang nama sepakat sehingga anak-anak orang musyrik dijadikan budak, sedangkan orang muslim itu tidak bisa dijadikan budak di awalnya.
Syaikh Hamd Ibnu ‘Atiq rahimahullah berkata : “Para ulama ijma bahwa oranng yang memalingkan satu macam dari dua do’a (do’a ibadah dan permintaan) kepada selain Allah, maka dia itu telah musyrik meskipun mengucapkan Laa ilaaha illallaah, shalat, shaum, dan mengaku muslim” [Ibthal At Tandid : 76]
Orang yang berbuat syirik akbar namun ia masih rajin shalat, shaum, zakat, dsb, padahal dia mengetahui bahwa orang musyrik itu amalannya tidak berarti dan kekal di neraka bila ia mati di atas kemusyrikan tersebut serta tidak diampuni, hal itu terjadi tidak lain karena dia tidak mengetahui bahwa dirinya musyrik, namun demikian para ulama sepakat bahwa orang jahil tersebut adalah musyrik.
Para ulama ijma bahwa hal yang paling pertama yang diserukan semua Rasul adalah ajakan beribadah pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan penanggalan syirik yang mereka lakukan. Para Rasul itu mengkhithabi kaum-kaumnya atas dasar mereka itu adalah orang-orang musyrik. Umat para Rasul itu adalah musyrikin saat sebelum menerima dakwahnya. Azzar, ayah Ibrahim as adalah musyrik sebelum Ibrahim diutus, Abdul Muthallib juga musyrik, bahkan para ulama menegaskan bahwa nama musyrik itu ada sebelum adanya risalah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : “Nama musyrik itu sudah ada sebelum risalah karena dia (pelaku) menyekutukan Tuhannya dan mengangkat tuhan-tuhan lain bersama-Nya”. [Majmu Al Fatawa : 20/38]
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata saat menjelaskan para pelaku syirik yang mengaku muslim : “Maka macam orang-orang musyrik itu dan yang semisal dengan mereka dari kalangan yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih, kami vonis mereka itu sebagi orang-orang musyrik, dan kami memandang kekafiran mereka bila hujjah risaliyyah telah tegak atas mereka” [Ad durar As Saniyyah : 1/322, cetakan lama]
Pelaku syirik akbar bila belum tegak hujjah dinamakan musyrik, sedangkan bila sudah tegak hujjah atasnya, maka dia dinamakan musyrik kafir.
Bila engkau tidak mengenal istilah ini, maka bisa terjatuh ke dalam kesalahan yang luar biasa fatalnya, seperti yang dialami kalangan muz’umin dewasa ini.
Syaikh Hamd Ibnu Hasyir Alu Mu’ammar dan putera-putera Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata tentang para pelaku syirik yang mengaku Islam dan belum tersentuh dakwah tauhid : “Bila dia melakukan kemusyrikan dan kekafiran karena kebodohan dan tidak ada orang yang mengingatkannya, maka kami tidak memvonis dia kafir hingga hujjah risalah ditegakkan atasnya, namun kami tidak menghukumi dia sebagai orang muslim” [Ad Durar As Saniyah : 10/….]
Orang tersebut bukan kafir karena belum tegak hujjah risaliyyah, dan dia bukan muslim karena malakukan syirik akbar, akan tetapi dia musyrik… semoga antum paham istilah ini.
Orang yang tidak memahami istilah ini dari kalangan maz’um di negeri ini, mereka ngawur dalam memahami maksud perkataan para ulama dakwah tauhid, mereka mengira bahwa bukan kafir artinya dia itu seorang yang muslim. Ini salah besar dan bersumber dari ketidakpahaman akan hakikat Al Islam.
Mereka saat mendapatkan pernyataan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah : “bahwa bagaimana kami mengkafirkan orang jahil yang menyembah kaum kubah Kawwaz”, mereka langsung loncat kegirangan seraya mengatakan “bahwa para pelaku syirik akbar yang jahil itu tidak kafir” akan tetapi muslim sebagaimana perkataan syaikh tadi.
Alangkah dungunya mereka itu, mereka tidak ubahnya bagaikan lalat yang tidak mau hinggap kecuali pada benda kotor, begitu juga mereka hanya mencari ucapan-ucapan yang samar dan meninggalkan ucapan-ucapannya yang jelas dan berlandaskan Al Kitab dan As Sunnah serta ijma.
Jarimah mereka itu tidak cukup disitu, tetapi mereka menambahnya dengan mengambil perkataan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab tentang ahlu fatrah atau yang belum tersentuh oleh dakwah yang mereka pahami secara keliru, terus mereka menerapkannya kepada orang musyrik sekarang yang mana hujjah bertebaran di mana-mana, bahkan orang musyrik itu sendiri memiliki andil dalam penyebaran hujjah-hujjah tersebut. Dan bahkan bukan sekedar orang musyrik yang mereka bela… akan tetapi tidak kepalang tanggung para thaghut pun ikut mendapatkan pembelaan mereka dengan penuh ikhlas tanpa diminta.
Tidak anehlah bila mereka seperti itu karena salah seorang syaikh maz’um yang pernah mereka datangkan untuk menjegal dakwah yang sedang kami sampaikan ini, saat saya tanya : Apakah para penyembah kuburan yang bodoh itu musyrikin atau muwahhidin ? dia diam sejenak lalu menjawab : “Ya, ada yang menyerukan mereka itu muwahhidin”.
Kalau antum ingin mengetahui orangnya siapa yang mengatakan mereka (para penyembah kubah Kawwaz) itu muwahhidin (maksudnya muslimun), maka ketahuilah bahwa ia adalah Dawud Ibnu Jirjis Al ‘Araqi, salah seorang musuh dakwah tauhid. Silahkan rujuk Minhaj At Ta’sis Fi Kasyfisy Syubuhat Dawud Ibni Jirjis Al ‘Araqi karya Syaikh Abdul Lathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan Alu Asy Syaikh.
Syaikh Abdullah Aba Buthain rahimahullah berkata : “Orang yang berbuat syirik itu musyrik, baik mau atau tidak (dengan nama tersebut)” [Al Intishar : ….]
Ini adalah sekilas tentang penamaan musyrik bagi pelaku syirik akbar, semoga antum sekalian memahaminya dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala membukakan dengan kunci ini ilmu-ilmu tauhid lainnya dan jangan lupa do’akan saya dan keluarga agar diberikan kebaikan di dunia dan akhirat, serta saya tidak akan lupa berdo’a semoga kita diluruskan di atas tauhid ini, amin ya rabbal ‘alamiin…

Polda Metro Jaya Jakarta
Sabtu, 1 Mei 2005


Abu Sulaiman Aman Abdurrahman
































Takfir Pelaku Syirik Akbar

Ikhwani fillah… Materi kali ini adalah tentang masalah Takfir Man Fa’ala Syirka (pengkafiran pelaku syirik).
Saat hancurnya tatanan tauhid di Saudi Arabia dan bercokolnya para thaghut di sana, maka masalah-masalah tauhidpun ikut tersisihkan bersama dengan para ulamanya, dan disisi lain para thaghut membatasi gerak lisan para ulama. Kitab rujukan dalam hal ini sangatlah asing dan yang banyak beredar justru hal-hal yang samar lagi global yang banyak menguntungakan para thaghut. Tulisan dan jawaban para ulama resmi pemerintah tidak memuaskan hati para pencari kebenaran, tidak mampu menghilangkan dahaga jiwa yang mencari tahthbiq (………………………..) hukum terhadap waqi’ (realita)… Namun alhamdulillah kebenaran tidak akan hilang apapun upaya thaghut untuk menutupinya.
Pada masa sekarang ini masalah TAKFIR seolah ada masalah yang tabu seperti halnya masalah HAKIMIYYAH. Bila ada yang berani kepadanya dalam hal ini, maka serta merta tuduhan Khawarij dan Takfiriy melayang kepadanya. Maka tidak aneh kalau banyak yang ketakutan dengannya, akan tetapi muslim muwahhidin yang lebih mengutamakan ridha Allah atas yang lainnya tidak akan peduli dengan tuduhan-tuduhan murah yang di alamatkan kepadanya karena ridha Allah adalah tujuan utama.
Landasan kita pada materi ini adalah Al Kitab, As Sunnah, Ijma, dan perkataan ulama.
Ikhwani semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada antum ketahuilah bahwa pelaku syirik akbar itu sudah Allah kafirkan dalam banyak ayat, di antaranya :
            •          •        
“…Dan orang-orang yang menjadikan auliya selain Allah, (mereka mengatakan) : "Kami tidak beribadah kepada mereka kecuali supaya mereka itu mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang dusta lagi sangat kafir”. (QS. Az Zumar [39] : 3)
Dalam ayat ini Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik, Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman :
    •               
“Dan barangsiapa menyeru bersama Allah Tuhan yang lain yang tidak ada dalil baginya akan hal itu, maka penghisabannya hanya ada di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung”. (QS. Al Mukminun [23] : 117)
Dalam ayat ini Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik sebagai orang-orang kafir, Dia Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman :
                 
“Dan janganlah kamu menyeru selain Allah sesuatu yang tidak bisa mendatangkan manfaat kepadamu dan tidak isa mendatangkan mudharat terhadapmu, maka bila kamu melakukannya berarti sungguh kamu ini tergolong orang-orang yang zalim” (QS. Yunus [10] : 106)
Orang-orang yang zalim disini adalah orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya :
    
“Sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang amat besar” (QS. Luqman [31] : 13)
Orang-orang dzalim disini adalah orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya Subhanahu Wa Ta’ala :
    
“Dan orang-orang kafir itu merekalah orang-orang yang dzalim” (QS. Al Baqarah [2] : 254)
Bila Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memvonis kafir para pelaku syirik, maka wajib atas kita membenarkan vonis Allah itu dalam bentuk kita mengkafirkan pelaku syirik itu.
Masih banyak ayat Al Qur’an yang memvonis kafir para pelaku syirik akbar, dan Allah juga memerintahkan kita untuk memvonis kafir para pelaku syirik, Dia Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
    •         •   • 
“…Dan dia menjadikan tandingan-tandingan bagiAllah supaya dia menyesatkan dari jalan-Nya. Katakanlah : “Nikmatilah kekafiranmu sebentar, sesungguhnya kamu adalah tergolong penghuni neraka” . (QS. Az Zumar [39] : 8)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan untuk mengkafirkan para pelaku syirik, dan semakna dengannya firman Allah :
         •   • 
“Dan mereka menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah supaya mereka menyesatkan dari jalan-Nya. Katakannlah : “Nikmatilah kekafiran kalian, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah ke dalam neraka” (QS. Ibrahim [14] : 30)
Allah juga memerintahkan kita untuk mengikuti jejak Ibrahim dan Rasul-rasul serta para pengikutnya saat mereka mengatakan kepada kaumnya :
                    
“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari kekafiran kalian, dan tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja…” (QS. Al Mumtahanah [60] : 4)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman :
        
“Katakanlah: Wahai orang-orang kafir, Aku tidak akan beribadah kepada apa yang kaliani badati”. (QS. Al Kafirun [109] : 1-2)
Para imam dakwah tauhid berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka dan memusuhi mereka”. [Ad Durar As Saniyah : 9/292]
Mengkafirkan para pelaku syirik adalah bagian dari makna kufur kepada thaghut. Maka bagaimana sebagian orang-orang muz’um berani mengatakan itu adalah fitnah Khawarij, seraya mereka mengingkari kepada muwahhid yang melaksanakan kewajiban kepada thaghut.
Kufur kepada thaghut adalah kewajiban setiap muwahhid bukan hanya kewajiban ulama saja. Apakah kufur kepada thaghut hanya ulama saja wahai maz’um…? Jawablah dengan dalil jangan dengan dalih. Ingat perkataan seorang tabi’in : “Bukanlah hujjah yang bisa menghadang nash”, apalagi perkataan ulama sekarang dan apalagi perkataan ulama pemerintah…! Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang mengganti diennya, maka bunuhlah dia” [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Macam penggantian dien yang paling dahsyat adalah syirik akbar. Pelakunya divonis bunuh, sedangkan vonis bunuh itu dikafirkan terlebih dahulu.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengutus seorang shahabat untuk membunuh seorang laki-laki yang menikahi bekas ibu tirinya. Ini adalah pengkafiran dari beliau, sedangkan menikahi ibu tiri adalah jauh di bawah syirik akbar, meskipun keduanya adalah kekafiran.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah mau menyerang Banu Al Musthaliq saat ada kabar mereka menolak bayar zakat, dan ternyata kabarnya bohong ………………………………………………………………………………………………………………hal 5 tidak ada …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. ……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..…………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………..……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….. Akan tetapi Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Akan tetapi di antara kejadian terakhir adalah kisah Banu Ubaid dan reng-rengannya yaitu penguasa Mesir. Sesungguhnya mereka mengaku sebagai bagian dari keturunan Ahlul Bait, mereka selalu shalat berjama’ah dan jum’ah, mereka telah mengangkat para qadli dan mufti. Dan para ulama telah ijma bahwa mereka itu kafir murtad lagi mesti diperangi dan bahwa negeri mereka adalah negeri kafir harbiy, wajib memerangi mereka meskipun mereka (rakyatnya) dipaksa lagi benci kepada para penguasa itu” [Tarikh Nejed : ……… Risalah kepada Ahmad Ibnu Abdil Karun, juga ada dalam Kasyfusy Syubuhat]
Ijma para ulama atas kafirnya Fakhrudin Ar Raziy karena sebab mengarang kitab Asirul Maknun Fi Ibadarin Nujum, meskipun dia bisa jadi taubat lagi setelahnya. Ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah [Mufid AlMustafid, juga dalam Al Kalimat An Nafiah Fil Mukaffirat Al Wabi’ah]
Ijma semua ulama madzhab dalam kitab-kitab mereka, dimana mereka semua menetapkan bab khusus tentang riddah dan mereka memulainya dengan syirik akbar. Ijma ini adalah dalil yang menunjukan bahwa takfir itu bukan fitnah akan tetapi dien wahai maz’um… apalagi dalam masalah syirik akbar.
Al Imam Al Barbahari rahimahullah berkata : “Dan seorangpun dari kalangan ahlul kiblat tidak boleh dikeluarkan dari Islam sehingga menolak satu ayat dari kitab Allah atau sesuatu dari atsar-atsar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam atau dia shalat kepada selain Allah, atau dia menyembelih untuk selain Allah (tumbal). Dan siapa melakukan sesuatu dari hal-hal itu maka wajib atas kamu mengeluarkan dia dari Islam”. [Syarhu Sunnah : 49]
Mengkafirkan pelaku syirik itu adalah wajib atas kamu wahai maz’um bukannya fitnah, ini aqidah Ahlus Sunnah bukannya Khawarij.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata saat menyebutkan hal-hal yang membatalkan Islam : “Yang ketiga : Orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan ajaran mereka”.
Wahai maz’um… mana yang dalam posisi bahaya, kami yang mengkafirkan pelaku syirik ataukan kalian yang tidak mengkafirkannya ? Apakah pembatal Islam yang ini khusus buat ulama yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau buat semua orang yang tidak mengkafirkan ? Ingat Mus’ab Ibnu Az Zubair gebernur Kuffah yang yelah diperintahkan untuk membunuh wanita (puteri seorang shahabat) karena menolak mengkafirkan suaminya yang mengaku Nabi Al Mukhtar Ats Tsaqafi, dia diperintahkan oleh Khalifah Abdullah Ibnu Az Zubair radliyallahu 'anhu. [Ad Durar As Saniyah : Juz Al Murtad, dan lihat juga Al Lidlah At Tabyin karya Syaikh Ahmad Hamud Al Khalidiy].
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata dalam tata cara kufur terhadap thaghut : “Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah, meninggalkannya, engkau membencinya, engkau mengkafirkan para pelakunya, serta engkau memusuhi mereka” [Risalah Fi Makna Ath Thaghut].
Mengakfirkan pelaku syirik adalah termasuk makna kufur terhadap thaghut, sedangkan kufur kepada thaghut itu adalah separuh kandungan Laa ilaaha illallaah, apakah komentar kamu wahai maz’um ? apakah kufur kepada thaghut itu hanya atas ulama saja ? kalau begitu tauhid itu wajib atas ulama saja dan tidak atas yang lainnya…!
Beliau berkata lagi : ”Pokok dienul Islam dan kaidahnya ada dua : Pertama, perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu baginya, penekanan yang sangat akan hal itu, melakukan loyalitas di dalamnya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya. Kedua, menghati-hatikan dari syirik dalam ibadah kepada Allah, bersikap keras di dalam hal itu, melakukan permusuhan di dalamnya dan mengkafirkan orang yang melakukannya”. [lihat Al Jami’ Al Farid]
Lihat muz’um…!!! Mengkafirkan pelaku syirik adalah pokok dasar dien Al Islam ini. Apakah ini wajib atas ulama saja ? mana dalil dari Al Kitab atau As Sunnah atau Ijma yang membenarkan klaim kalian ? datangkan dalil bila kalian memang benar !
Takfir pelaku syirik akbar adalah dien, oleh sebab itu Syaikh Muhammad Ibnu ‘Atiq rahimahullah mengatakan kepada Abdullah Ibnu Husain Al Makhdluh setelah beliau menuturkan pokok dien Al Islam di atas : “Ini baru idharuddin wahai Abdullah Ibnu Husain !” [Ad Durar As Saniyah : 12/……]
Itu menurut ulama tauhid Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tapi menurut slalafiy maz’um itu adalah fitnah yang perlu ditahdzir.
Syaikh Abdurrahman Ibnu Husain rahimahullah berkata saat menjelaskan pokok dien Al Islam di atas : “Oleh sebab itu orang tidak menjadi muwahhid kecuali dengan cara menafikan syirik, bara’ darinya serta mengkafirkan orang yang melakukannya” [Syarh Ashli Dienil Islam]
Bahkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menuturkan di antara 9 macam orang yang bertauhid : “Dan di antara mereka ada orang yang memusuhi para pelaku syirik namun tidak mengkafirkan mereka”. [Ashlu Dienil Islam]
Subhanallah… padahal di antara maz’umin ada orang yang tidak memusuhi para pelaku syirik, apalagi mengkafirkannya, namun yang mereka musuhi adalah para muwahhidin.
Para imam tauhid menyatakan bahwa mengkafirkan para pelaku syirik itu adalah termasuk pondasi dien ini yang pasti diketahui oleh orang yang memiliki bagian dalam Islam ini” [lihat Al Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah jilid 3].
Bahkan Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan berkata : “Dan sebagian ulama memandang bahwa ini (mengkafirkan para pelaku syirik) dan jihad di atasnya adalah rukun (pilar) yang mana Islam tidak bisa tegak tanpanya”. [Mishbah Adh Dhalam : 23]
Dan beliau rahimahullah juga berkata : “Dan adapun menelantarkan jihad dan tidak mengkafirkan orang-orang murtad dan orang-orang yang menyekutukan Tuhannya serta orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan dan tuhan-tuhan bersama-Nya, maka sikap seperti ini hanyalah dilalui oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak mengagungkan perintah-Nya, tidak meniti jalan-Nya, dan tidak mengagungkan Allah dan Rasul-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya, bahkan tidak mengagungkan ulama-ulama dan imam-imam umat ini dengan pengagungan yang sebenarnya. Mengkafirkan para pelaku syirik adalah makna kufur kepada thaghut yang paling agung”. [Ad Durar As Saniyah : …….]
Orang yang paham akan makna Laa ilaaha illallaah, dia paham bahwa takfir pelaku syirik adalah bagian dari maknanya. Tatkala seorang Arab badui Nejed yang asalnya musyrik, dia dan kaumnya mengaku Islam, namun kemusyrikan mereka lakukan juga, sedangkan para tokoh agama di sana menyebut mereka itu sebagai orang-orang Islam, lalu tatkala orang itu datang dengan sedikit belajar tauhid apa yang dia lakukan, Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata : “Dan sungguh indah sekali apa yang dikatakan oleh seorang Arab badui tatkala ia datang kepada kami dan mendengar sedikit tentang Islam (Tauhid), dia berkata : “Saya bersaksi bahwa kami adalah orang-orang kafir (yaitu dia dan seluruh orang badui Nejed), dan saya bersaksi bahwa muthawi (ustadz) yang mengatakan bahwa kami ini dalah orang-orang Islam, dia adalah kafir” [Syarh Sittati Mawadli Minash Shirah]
Dia bukan ulama wahai maz’um, tapi orang awam yang tahu akan tauhid, namun Syaikh Muhammad mengatakan tanggapan positif akan ucapan itu dan bukan mentahdzirnya seperti kalian…!
Mungkin kalian akan mengatakan : “Ia-kan Syaikh Muhammad dan ucapannya bukan dalil”, maka kami jawab : Ya benar, ia memang bukan dalil, akan tetapi tanggapan itu berdasarkan dalil Al Qur'an, As Sunnah, dan Ijma. Sedangkan apa dalil kalian bahwa takfir pelaku syirik akbar itu hak ulama saja… mana dalilnya dari Al Qur'an atau As Sunnah atau Ijma ??!
Para imam dakwah tauhid mengatakan dalam Ad Durar As Saniyah Juz 9 : “Di antara hal yang pelakunya wajib diperangi adalah tidak mau mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka. Sesungguhnya hal itu adalah tergolong penggugur dan pembatal keIslaman. Siapa yang memiliki sifat ini maka dia telah kafir, hala darah dan hartanya serta wajib memeranginya, sedangkan dalil atas hal itu adalah hadits Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam : “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dan dia kafir kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya adalah atas Allah Subhanahu Wa Ta'ala”.
Beliau shalallahu 'alaihi wasallam menggantungkan keterjagaan darah dan harta terhadap dua hal : Hal pertama ucapan Laa ilaaha illallaah dan kedua adalah kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah. Maka darah dan harta seorang hamba tidak terjaga sehingga dia mendatangkan kedua hal ini. Yang pertama ucapannya Laa ilaaha illallaah, dan yang dimaksud dengannya adalah maknanya bukan sekedar lafadhnya, sedangkan maknanya adalah memurnikan seluruh macam ibadah kepada Allah saja. Dan yang kedua ucapannya dia kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, dan yang dimaksud dengannya adalah mengakfirkan para pelaku syirik, bara’ dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati bersama Allah.
Oleh sebab itu siapa yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik dari kalangan negara Turki dan para ‘Ubbadul Qubur seperti penduduk Mekkah dan yang lainnya dari kalangan yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih, maka sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka meskipun dia cinta kepada Islam dan kaum muslimin dan benci kepada syirik dan kaummusyrikin, karena orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik itu tidaklah membenarkan Al Qur’an, karena Al Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka dan memeranginya” [ …………………………………………………………………].
Coba perhatikan wahai maz’um !, orang yang tidak mau mengkafirkan pelaku syirik itu wajib diperangi, maka apa gerangan dengan orang yang melarang mengkafirkannya…?
Syaikh Sulaiman Ubnu Abdillah Ibnu Muhammad mengatakan tentang orang-orang yang tidak mengetahui kekafiran pelaku syirik : “bila dia mengatahui kekafiran mereka, maka dijelaskan kepadanyadalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang menunjukan kekafirannya, bila dia masih ragu atau bimbang, maka dia kafir berdasarkan ijma bahwa orang ragu akankekafiran orang kafir adalah kafir”. [Autsaqu ‘Ural Iman halaman terakhir]
Sebangian orang-orang maz’umin mengatakan : “Kami mengkafirkan pelaku syirik secara nau’ tanpa ta’yin”. Kita jawab : Itu adalh bentuk minimal kalau tidak disertai sikap yang menafikan tauhid. Dalil-dalil yang tadi tidak membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan. Insya Allah ada bahasan khusus tentang takfir mu’ayyan, namun disini akan saya singgung sedikit :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan ;
•      
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni penyekutuan terhadap-Nya…” (QS. An Nisa [4] : 116)
Ayat ini tidak membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang merubah diennya, maka bunuhlah” {HR. Bukhari dan Muslim] dan hadits ini tidak membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan. Silahkan rujuk pernyatan Syaikh Abdullah Aba Buthain dalam Ad Durar As Saniyah jilid 10.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab berkata : “Apakah ada seorang dari semenjakzaman shahabat hingga zaman Manshur Al Bahutiy (ulama zzaman Syaikh Muhammad) yang mengatakan bahwa mereka (para pelaku syirik) itu dikafirkan nau’nya tidak mu’ayyannya ?” [Tarikh Nejed : risalah kepada Ahmad Ibnu Abdil Karim]
Jadi membedakan nau’ dengan mu’ayyan dalam masalah syirik akbar adalah menyalahi manhaj alias bid’ah, akan tetapi menurut orang-orang maz’umin itu adalah manhaj… Memang zaman serba terbalik !! Shahabat itu salaf, sedangkan salaf tidak membedakan nau’ dengan mu’ayyan dalam syirik. Apakah salafiy yang membedakan nau’ dengan mu’ayyan ?
Bukan salafiy tetapi ahlul bid’ah, Syaikh Ishaq Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan mengatakan tentang pernyataan yang membedakan antara nau’ dengan mu’ayyan : “Kemudian bi’ah dan syubuhat mereka itu merebak hingga laris di kalangan ikhwan-ikhwan khusus” [Hukmu Takfir Al Mu’ayyan : 1]
Dan bid’ah itulah yang diwarisi oleh orang-orang maz’um yang mengaku paling salafiy di masa sekarang.
Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang maz’um itu ? Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Siapa yang membela-bela mereka (para thaghut dan para pelaku syirik ) atau mengingkari kepada yang mengkafirkannya atau dia mengklaim bahwa perbuatan mereka ini meskipun bathil maka itu tidak mengeluarkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang-orang yang membela-bela ini adalah fasiq yang mana tidak diterima tulisan dan kesaksiannya dan tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya”. [Ad Durar As Saniyah : 10/53]
Siapa yang membela-bela para pelaku syirik dan para thaghut di negeri ini… kami ataukah kalian wahai maz’um ?
Siapa yang mengingkari kepada yang mengkafirkan kepada yang mengkafirkannya… kami ataukah kalian wahai salafiy maz’um ?
Siapa yang mengatakan bahwa perbuatannya memang syirik tapi orangnya tidak boleh dikatakan musyrik… kami ataukah kalian wahai para ad’iyaa (para penngklaim paling salafiy) ?
Hal serupa juga dikatakan oleh syaikh Sulaiman Ibnu Sahman serta para imam dakwah tauhid lainnya dalam Ad Durar As Saniyah : “Bahkan tidak sah bemakmum kepada orang yang tidak mengkafirkan ‘Ubbadaul Qubur dan masuk dalam jajaran ‘Ubbadul Qubur adalah para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, para aparat keamanannya, para demokrat,para pengikut hukum buatan, dsb”. [lihat kitab Ath Thabaqat karya Syaikh Ali Khudlair : 1].
Sedangkan syaikh kalian wahai maz’um (Khalid Al Musyaiqih) merestui bahwa ‘Ubbadul Qubur yang jahil itu adalah muwahhidun…
Kami tidak akan shalat dibelakang kalian wahai maz’um, dan kami benci dengan kalian karena kalian adalah pembual atas nama Allah. Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah berkata : “Dan kafirlah kalian terhadap thaghut-thaghut semuanya, musuhilah mereka, bencilah mereka, bencilah orang-orang yang mencintai mereka atau membela-bela mereka atau yang tidak mengkafirkan mereka atau orang yang mengatakan “Apa urusan saya dengan mereka”, atau mengatakan “Allah tidak membebani saya untuk (mengomentari) mereka”. Sungguh dia telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah, justeru Allah telah mengharuskan dia untuk (mengomentari) mereka dan mewajibakan atasnya untuk kafir terhadap mereka, meskipun mereka itu saudara-saudara dan anak-anaknya”. [Hadiyyah Thayyibah, ada dalam Majmu’ah At Tauhid]
Apakah saya mengada-ada dari diri saya atau saya mengikuti ulama wahai maz’um ?
Karena kebodohan kalian wahai maz’umin akan Aqidah Ahlus Sunnah dan aqidah Khawarij, kalian vonis muwahhid yang mengkafirkan para pelaku syirik sebagai Khawarij. Ini vonis dari orang jahil tidak ada pengaruhnya, tapi realita membuktikan bahwa kalianlah yang Khawarij karena beramah-tamah lagi akrab dengan para pelaku syirik, namun kalian memusuhi lagi menyerang para muwahhid.
Syaikh Abdullathif Ibnu Abdirrahman Ibnu Hasan rahimahullah berkata :”Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk hal ini (Aqidah Khawarij), maka sungguh dia itu telah mencela para Rasul dan (ulama) umat ini, dia tidak bisa membedakan antara dien para rasul dengan madzhab Khawwarij, dia sungguh telah mencampakkan nash-nash Al Qur’an dan telah mengikuti selain jalan kaum mukminin” [Mishbahudh Dhalam : 73]
Hal serupa yang dinyatakan oleh murid beliau Syaikh Sulaiman Ibnu Abdirrahman dalam kitabnya Kasyfu Asy Syubuhatain, beliau berkata nyatakan bahwa orang yang mengkafirkan pelaku syirik itu telah ittiba’ (mengikut) kepada Rasul dan mengikuti para ulama. Kalau kalian mengikuti siapa wahai maz’um saat mengingkari kami ? Siapa lagi kalau bukan mengikuti ulama suu’, atau perkataan ulama yang samar!!! Memang dimana-mana lalat itu mencari yang kotor dan meninggalkan yang bersih. Sehingga tidak mustahil bid’ah kalian ini menghantarkan kepada kekafiran yang nyata dan saya melihatnya, serta ini sering terjadi pada pendahulu kalian…
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah mengatakan : “Sungguh mereka orang-orang yang keberatan dengan masalah takfir. Bila engkau mengamati mereka, ternyata orang-orang muwahhid itu musuh-musih mereka, mereka membencinya dan dongkol dengannya. Sedangkan orang-orang musyrik dan orang-orang munafiq adalah kawan dekat mereka yang mana mereka bercengkrama dengannya. Tapi realita ini telah terjadi pada kami dari orang-orang yang ada di kita Dir’iyyah dan Uyainah yang (akhirnya) murtad dan benci akan dien (takfir) ini” [Ad Durar As Saniyah : 10/92]
Maha Suci Allah yng memegang hati ini… memang mereka sengaja mengusir kaum muwahhidin sedangkan orang-orang musyrik dan para thaghut mereka undang, mereka kalian jamu dan kalian persilahkan menyampaikan sambutan bahkan diberi bingkisan…! Inikah manhaj salafiy wahai maz’um ?
Sebagian orang maz’um saat mendengar muwahhid mengkafirkan pelaku syirik akbar dan tahghut yang mengaku Islam, mereka spontan mengatakan “Jangan kafirkan saudaramu, ini berbahaya karena Rasulullah bersabda : ‘Siapa yang mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka tuduhan itu kembali kepada salah satunya’” [HR. Muslim].
MasyaAllah… memang zaman serba terbalik, mendalili orang kafir dengan dalil tentang orang mukmin. Wahai maz’um… Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengatakan “…kepada saudaramu…”.
Saya tanya : Apakah para thaghut dan para pelaku syirik akbar itu saudaramu sehingga dilarang mengkafirkannya ??? Bila kalian jawab : “Ya, mereka adalah saudara-saudara kami”, maka kami jawab : Namun Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengakatakan :
     •    
“Bila mereka taubat (dari syirik), mereka mendirikan shalat dan menunaikan zaka, maka mereka itu adalah saudara-saudara kalian satu agama…” (QS. At Taubah [9] : 11)
Bila tiga syarat di atas tidak terpenuhi maka bukanlah saudara, sedangkan bila para pelaku syirik dan para thaghut itu belum taubat dari syiriknya maka mereka itu bukan saudara. Ini hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala, akan tetapi si maz’um punya hukum bahwa mereka itu saudaranya. Rupanya dia senang bersaudara dengan para pelku syirik dan senang bermusuhan dengan para muwahhid. Maha Benar Allah… dan sungguh busuk keyakinan si maz’um ini.
Akhirnya saya tunjukan kepada ikhwan muwahhidin, jangan takut dengan dalih-dalih orang-orang maz’um itu, syubuhat-syubuhat yang mereka lontarkan adalah sama dengan syubuhat-syubuhat musuh dakwah tauhid, dan semua itu ada jawabanny.
Teruslah antum berdakwah dan jangan patah semangat dengan ditahanya kami disini, badan kita jauh tapi hati kita dekat. Jangan putus hubungan dan kirimlah utusan secara berkala kesini.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad, keluarga, dan para shahabat. Dan segala puji bagi Allah…





Polda Metro Jaya Jakarta, 14 Rabi’ al awwal 1425 h
Rabu, 5 mei 2004

Abu Sulaiman Aman Abdurrahman