Setiap kali nama Thalhah disebut, nama Zubair juga disebut. Dan setiap kali disebut nama
Zubair, nama Thalhah pun pasti disebut.
Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah,
beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair.
Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda
beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”
Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang
bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang
bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.
Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa
remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka
hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan
termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang
yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat
kematian keduanya sama persis.
Seperti yang telah kita sebutkan, Zubair termasuk orang-orang yang masuk Islam di masamasa
awal, karena ia termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam, dan sebagai perintis
perjuangan di rumah Arqam. Usianya waktu itu baru 15 tahun. Ia telah diebri petunjuk,
cahaya, dan kebaikan saat remaja.
Ia ahli menunggang kuda dan memiliki keberanian, sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah
menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang
Zubair bin Awwam.
Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah
Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu
berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.
Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya
berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala
orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur.
Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah
menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya.
Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi
kemenangan.
Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan
Quraisy. Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan
dibungkus tikar lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Di saat itulah sang paman berkata,
“Larilah dari Tuhan Muhammad, akan kubebaskan kamu dari siksa ini.”
Meskipun masih muda belia, Zubair menjawab dengan tegas, “Tidak! Demi Allah, aku tidak
akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.”
Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali, untuk
mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang
tidak ia ikuti.
Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan
kepahlawanannya.
Marilah kita dengarkan cerita seorang rekannya yang melihat bekas luka yang hampir
memenuhi sekujur tubuhnya.
“Aku pernah bersama Zubair bin Awwam dalam satu perjalanan dan aku melihat tubuhnya.
Ada banyak bekas sabetan pedang. Di dadanya ada beberapa lubang bekas tusukan tombak
dan anak panah. Aku berkata kepadanya, ‘Demi Allah, yang kulihat ditubuhmu belum pernah
kulihat di tubuh orang lain.’ Ia menjawab, “Demi Allah, semua luka-luka ini kudapat bersama
Rasulullah dalam peperangan membela agama Allah.”
Seusai Perang Uhud, dan pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah,
Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka
agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka
tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.
Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair
sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih
besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh
mereka. Mereka menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah
pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu
saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.
Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya
yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu
Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.
Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anakanaknya
dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena
itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka
syahid.”
Ada yang diberi nama Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy. Ada yang diberi nama Mundzir
dari nama Mundzir bin Amru. Ada yang diberi nama Urwah dari nama Urwah bin Amru. Ada
yang diberi nama Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib. Ada yang diberi nama
Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib. Ada yang diberi nama Mushab dari nama Mushab bin
Umair. Ada yang diberi nama Khalid dari nama Khalid bin Sa’id. Seperti itulah, semua
anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti
mereka.
Disebutkan dalam buku sejarah, “Zubair tidak pernah menjadi bupati atau gubernur. Tidak
pernah menjadi petugas penarik pajak atau cukai. Ia tidak pernah menduduki jabatan kecuali
sebagai pejuang perang membela agama Allah.”
Ia sangat percaya dengan kemampuannya di medan perang dan itulah kelebihannya.
Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena
pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang.
Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah
keistimewaannya.
Ia melihat gugurnya sang paman, yaitu Hamzah, di Perang Uhud, di Perang Uhud. Ia juga
melihat bagaimana tubuh pamannya dicabik-cabik oleh pasukan kafir. Ia berdiri dekat jenazah sang paman. Gigi-giginya terdengar gemeretak dan genggaman pedangnya semakin erat.
Hanya satu yang dipikirkannya, yaitu balas dendam. Akan tetapi, wahyu segera turun
melarang kaum muslimin melakukan balas dendam.
*
Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil,
Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng
musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah.
Atau, akan kita buka benteng mereka.” Keduanya melompat ke dalam benteng. Dengan
kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan
berhasil membuka pintu benteng sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam
benteng.
*
Di perang hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang
memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya
bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam, dan bermaksud membunuh para
panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka
seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka.
Rasulullah sangat sayang kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya
atas perjuangan Zubair. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin
Awwam.”
Bukan karena sebagai saudara sepupu dan suami dari Asma binti Abu Bakar yang bergelar
“Dzatun Niqatain” (memiliki dua selendang), melainkan karena pengabdiannya yang luar
biasa, keberaniannya yang tiada dua, kepemurahannya yang tidak terkira, dan pengorbanan
diri serta hartanya untuk Allah, Tuhan alam semesta.
Sungguh tepat apa yang dikatakan Hasan bin Tsabit ketika melukiskan sifat-sifatnya.
Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati
Atas petunjuk Nabi ia berbakti
Dialah sang pembela sejati
Kata dan perbuatannya bagai merpati
Di jalan Nabi, ia berjalan
Bela kebenaran sebagai tujuan
Jika api peperangan sudah menyala
Dialah penunggang kuda tiada dua
Dialah pejuang tak kenal menyerah
Dengan Rasul, masih keluarga
Terhadap Islam, selalu membela
Pedangnya selalu siaga
Kala Rasul dihadang bahaya
Dan Allah tidak ingkar pada janji-Nya
Memberi pahala tiada terkira
*
Ia seorang yang bebrudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai
dua kuda yang digadaikan.
Ia seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan
untuk kepentingan Islam hingga saat mati mempunyai utang.
Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang
sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan
nyawanya u. Islam.
Sebelum meninggal, ia berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika
kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”
Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang ayah maksud?”
Zubair menajwab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar
utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi
utangnya.”
Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair
berakhir.
Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya, lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit
oleh sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang
melaksanakan shalat, mereka menikam Zubair.
Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah
membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali
memusuhi Zubair.
Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru,
“Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair
tempatnya di neraka.”
Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata,
“Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”
*
Adakah kata yang lebih indah dari kata-kata Khalifah Ali untuk melepas kepergian Zubair?
Salam sejahtera untukmu, wahai Zubair, di alam kematian.
Beribu salam sejahtera untukmu, wahai pembela Rasulullah.
[sumber : 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
Tampilkan postingan dengan label Sirah Shahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Shahabat. Tampilkan semua postingan
ZAID BIN TSABIT AL-ANSHARY
Kita kembali ke tahun kedua hijriyah. Ketika itu Madinah sedang sibuk menyiapkan suatu
angkatan perang untuk menghadapi perang Badar. Rasulullah melakukan pemeriksaan
terakhir terhadap tentara muslimin yang pertama-tama dibentuk, dan segera akan
diberangkatkan ke medan jihad di bawah komando beliau, untuk melestarikan kalimat Allah di
muka bumi.
Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang laki-laki berusia kurang dari tiga
belas tahun datang menghadap beliau. Anak itu kelihatan cerdas, terampil, hemat, cermat,
dan teliti. Di tangannya tergenggam sebilah pedang, yang panjangnya melebihi badan anak
itu. Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju
Rasulullah SAW. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda,
wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah
di bawah panji-panji Anda.”
Rasulullah menengok kepada anak itu dengan pandangan gembira dan takjub. Beliau
menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan
anak itu, karena usianya masih sangat muda.
Anak itu pulang kembali membawa pedangnya tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih
dan kecewa permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang
akan dihadapi beliau, ternyata ditolaknya.
Ibu anak itu, Nuwar binti Malik, yang sejak tadi mengikutinya dari belakang tidak kurang pula
sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah, supaya anak
itu dapat kesempatan berdekatan dengan beliau seperti diharapkannya. Dalam anganangannya
terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat
anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.
Tetapi anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia tidak
berhasil mendekatkan diri kepada Rasulullah sebagai prajurit karena usianya masih sangat
muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya
yang tajam membukakan jalan baginya untuk selalu berdekatan dengan Nabi yang
dicintainya. Jalan itu ialah bidang ilmu dan hafalan.
Anak itu menyampaikan buah pikirannya kepada ibu. Sang ibu menyambut gembira buah pikiran anaknya, dan segera merintis jalan untuk mewujudkannya.
Nuwar memberi tahu beberapa orang famili tentang keinginan dan bidang yang akan
ditempuh anaknya. Mereka setuju lalu pergi menemui Rasulullah.
Kata mereka, “Wahai Rasulullah! Ini anak kami, Zaid bin Tsabit. Dia hafal tujuh belas surat
dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di
samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin
berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi
Anda selalu. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya.
Rasulullah mendengarkan Zaid bin Tsabit membaca sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang teah
dihafalnya. Bacannya ternyata memang bagus, betul, dan fasih. Kalimat-kalimat Al-Qur’an
bagaikan berkelap-kelip di bibirnya seperti bintang-gemintang di permukaan langit.
Bacaannya menimbulkan pengaruh dan berkesan. Waqaf-waqaf dilaluinya dengan tepat,
menunjukkan dia paham dan mengerti dengan baik apa yang dibacanya.
Rasulullah gembira karena apa yang dilihat dan didengarnya mengenai Zaib bin Tsabit,
ternyata melebihi apa yang dikatakan orang yang mengantarnya. Terlebih lagi, Zait bin Tsabit
pandai menuli dan membaca. Rasulullah menoleh kepada Zaid seraya berkata, “Hai Zaid!
Pelajarilah baca tulis bahasa Yahudi (Ibrani). Saya sangat tidak percaya kepada mereka
(Yahudi), bila saya diktekan sebagai sekretaris saya.”
Jawab Zaid, “Saya siap, ya Rasulullah!” Zaid belajar baca tulis bahasa Ibrani dengan tekun.
Berkat otaknya yang cemerlang, maka dalam tempo singkat dia telah menguasai bahasa
tersebut dengan baik, berbicara, membaca, dan menulis. Apabila Rasulullah hendak menulis
surat kepada orang-orang Yahudi, Zaid bin Tsabit dipanggil beliau menjadi sekretaris. Bila
beliau menerima surat dari Yahudi, Zaid pula yang disuruh membacakan surat itu kepada
beliau.
Kemudian Zaid disuruh pula belajar baca tulis bahasa Suryani. Zaid berhasil menguasai
bahasa itu dalam tempo singkat, berbicara, membaca, dan menulis, seperti penguasaannya
terhadap bahasa Yahudi. Dan sejak saat itu, Zaid yang masih muda remaja itu dijadikan
beliau sebagai penerjemah bagi beliau untuk kedua bahasa tersebut.
Setelah Rasulullah sungguh-sungguh yakin dengan ketrampilan Zaid, kesetiaan, ketelitian,
dan pemahamannya, barulah beliau menugaskannya menulis risalah langit (al-Qur’an). Maka
jadilah dia penulis wahyu. Bila ayat-ayat/wahyu turun, Rasulullah memanggil Zaid, lalu dibacakannya kepada Zaid dan disuruh tulis. Karena itu Zaid bin Tsabit menulis Al-Qur’an
didiktekan langsung oleh Rasulullah secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat.
Zaid menuliskannya langsung dari mulut Rasulullah SAW, segera setelah ayat turun. Dengan
petunjuk beliau, Zaid menyambungkan kepada ayat-ayat sebelumnya yang berhubungan.
Tidak salah lagi kalau pribadi Zaid cemerlang oleh sinar petunjuk Al-Qur’an, dan pikirannya
gemerlapan dengan rahasia-rahasiasyariat Islam, sementara dia mengkhususkan diri dengan
Al-Qur’an. Dia menjadi orang pertama tempat umat Islam bertanya tentang Al-Qur’an sesudah
Rasulullah wafat. Dia menjadi ketua tim yang ditugaskan menghimpun Al-Qur’an pada masa
pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Kemudian dia pula yang menjadi ketua tim penyusun
mushaf di zaman pemerintahan Utsman bin Affan.
Kedudukan apakah lagi yang lebih tinggi dari itu? Masih adakah kemuliaan yang lebih tinggi
dari kemuliaan seperti itu yang hendak dicapai seseorang?
Diantara keutamaan yang dilimpahkan Al-Qur’an terhadap Zaid bin Tsabit, dia pernah
memberikan jalan keluar dari jalan buntu yang membingungkan orang-orang pandai pada hari
Saqifah. Kaum muslimin berbeda pendapat tentang pengganti (khalifah) Rasulullah sesudah
beliau wafat. Kaum muhajirin berkata, “Pihak kamilah yang lebih pantas.” Kata sebagian yang
lain “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari
kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk
menyertainya.” Karena perbedaan pendapat, hampir saja terjadi bencana di kalangan kaum
muslimin ketika itu. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring, belum dimakamkan.
Hanya kalimat-kalimat mutiara yang gemerlapan dengan sinar Al-Qur’an yang sanggup
mengubur bencana itu, dan menyinari jalan keluar dari jalan buntu. Kalimat-kalimat tersebut
keluar dari mulut Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Dia berucap di hadapan kaumnya orang-orang
Anshar.
Katanya, “Wahai kaum Anshar! Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin.
Karena itu sepantasnyalah penggantinya or Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu
(Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnya pulalah kita menjadi pembantu bagi pengganti
(khalifah)nya, sesudah beliau wafat dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan
agama.”
Sesudah berucap begitu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash-
Shidiq seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian! Baiatlah kalian kepadanya!” Keunggulan dan kedalaman pengertian Zaid bin Tsabit mengenai Al-Qur’an telah
mengangkatnya menjadi penasihat kaum muslimin. Para Khalifah senantiasa bermusyawarah
dengan Zaid dalam perkara-perkara sulit, dan masyarakat umum selalu minta fatwa beliau
tentang hal-hal yang musykil. Terutama tentang hukum warisan; karena belum ada diantara
kaum muslimin ketika itu yang lebih mahir membagi warisan selain dari pada Zaid.
Umar bin Khatab pernah berpidato pada hari Jabriyah, katanya: “Hai, manusia! Siapa yang
ingin bertanya tentang Al-Qur’an, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak
bertanya tentang fiqih tanyalah kepada Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya
tentang harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah
menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.”
Para pencari ilmu (mahasiswa) yang terdiri dari para sahabat dan tabiin, mengerti benar
ketinggian ilmu Zaid bin Tsabit. Karena itu mereka sangat hormat dan memuliakannya,
mengingat ilmu yang bersarang di dadanya ialah ilmu Al-Qur’an.
Seorang sahabat lautan ilmu pula, yaitu Abdullah bin Abbas, pernah melihat Zaid bin Tsabit
direpotkan hewan yang sedang dekendarainya. Lalu Abdullah berdiri di hadapan kendaraan
itu dan memegang talinya supaya tenang. Kata Zaid bin Tsabit kepada Abdullah bin Abbas,
“Biarkan saja hewan itu, wahai anak paman Rasulullah!”
Jawab Ibnu Abbas, “Beginilah kami diperintahkan Rasulullah menghormati ulama kami.”
Kata Zaid, “Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!”
Ibnu Abbas mengulurkan tangannya kepada Zaid. Zaid bin Tsabit memegang tangan Ibnu
Abbas lalu menciumnya. Kata Zaid, “Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW
menghormati keluarga Nabi kami.”
Tatkala Zaid bin Tsabit berpulang ke rahmatullah, kaum muslimin menangis karena pelita ilmu
yang menyala telah padam.
Berkata Abu Hurairah, “Telah meninggal samudra ilmu umat ini. Semoga Allah menggantinya
dengan Ibnu Abbas.” Penyair Rasulullah, Hasan bin Tsabit, menangisi Zaid bin Tsabit dan dirinya sendiri dengan
seuntai sajak yang indah:
Siapakah lagi merangkai sajak sesudah Hasan dan anaknya
Manakah lagi menara ilmu sesudah Zaid bin Tsabit?
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada almarhum. Amin!
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
angkatan perang untuk menghadapi perang Badar. Rasulullah melakukan pemeriksaan
terakhir terhadap tentara muslimin yang pertama-tama dibentuk, dan segera akan
diberangkatkan ke medan jihad di bawah komando beliau, untuk melestarikan kalimat Allah di
muka bumi.
Ketika Rasulullah sedang sibuk-sibuknya, tiba-tiba seorang laki-laki berusia kurang dari tiga
belas tahun datang menghadap beliau. Anak itu kelihatan cerdas, terampil, hemat, cermat,
dan teliti. Di tangannya tergenggam sebilah pedang, yang panjangnya melebihi badan anak
itu. Dia berjalan tanpa ragu-ragu dan tanpa takut melewati barisan demi barisan menuju
Rasulullah SAW. Setelah dekat kepada beliau dia berkata, “Saya bersedia mati untuk Anda,
wahai Rasulullah! Izinkanlah saya pergi jihad bersama Anda, memerangi musuh-musuh Allah
di bawah panji-panji Anda.”
Rasulullah menengok kepada anak itu dengan pandangan gembira dan takjub. Beliau
menepuk-nepuk pundak anak itu tanda kasih dan simpati. Tetapi beliau menolak permintaan
anak itu, karena usianya masih sangat muda.
Anak itu pulang kembali membawa pedangnya tergesek-gesek menyentuh tanah. Dia sedih
dan kecewa permintaannya untuk menyertai Rasulullah dalam peperangan pertama yang
akan dihadapi beliau, ternyata ditolaknya.
Ibu anak itu, Nuwar binti Malik, yang sejak tadi mengikutinya dari belakang tidak kurang pula
sedihnya. Dia ingin melihat anaknya berjuang di bawah panji-panji Rasulullah, supaya anak
itu dapat kesempatan berdekatan dengan beliau seperti diharapkannya. Dalam anganangannya
terbayang, alangkah bahagianya ayah anak itu sekiranya dia masih hidup, melihat
anaknya dapat mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW.
Tetapi anak Anshar yang cerdas dan pintar ini tidak lekas putus asa. Walaupun dia tidak
berhasil mendekatkan diri kepada Rasulullah sebagai prajurit karena usianya masih sangat
muda, dia berpikir mencari jalan lain yang tidak ada hubungannya dengan usia. Pikirannya
yang tajam membukakan jalan baginya untuk selalu berdekatan dengan Nabi yang
dicintainya. Jalan itu ialah bidang ilmu dan hafalan.
Anak itu menyampaikan buah pikirannya kepada ibu. Sang ibu menyambut gembira buah pikiran anaknya, dan segera merintis jalan untuk mewujudkannya.
Nuwar memberi tahu beberapa orang famili tentang keinginan dan bidang yang akan
ditempuh anaknya. Mereka setuju lalu pergi menemui Rasulullah.
Kata mereka, “Wahai Rasulullah! Ini anak kami, Zaid bin Tsabit. Dia hafal tujuh belas surat
dari kitab Al-Qur’an. Bacaannya betul, sesuai dengan yang diturunkan Allah kepada Anda. Di
samping itu dia pandai pula baca tulis Arab. Tulisannya indah dan bacaannya lancar. Dia ingin
berbakti kepada Anda dengan keterampilan yang ada padanya, dan ingin pula mendampingi
Anda selalu. Jika Anda menghendaki, silakan mendengarkan bacaannya.
Rasulullah mendengarkan Zaid bin Tsabit membaca sebagian ayat-ayat Al-Qur’an yang teah
dihafalnya. Bacannya ternyata memang bagus, betul, dan fasih. Kalimat-kalimat Al-Qur’an
bagaikan berkelap-kelip di bibirnya seperti bintang-gemintang di permukaan langit.
Bacaannya menimbulkan pengaruh dan berkesan. Waqaf-waqaf dilaluinya dengan tepat,
menunjukkan dia paham dan mengerti dengan baik apa yang dibacanya.
Rasulullah gembira karena apa yang dilihat dan didengarnya mengenai Zaib bin Tsabit,
ternyata melebihi apa yang dikatakan orang yang mengantarnya. Terlebih lagi, Zait bin Tsabit
pandai menuli dan membaca. Rasulullah menoleh kepada Zaid seraya berkata, “Hai Zaid!
Pelajarilah baca tulis bahasa Yahudi (Ibrani). Saya sangat tidak percaya kepada mereka
(Yahudi), bila saya diktekan sebagai sekretaris saya.”
Jawab Zaid, “Saya siap, ya Rasulullah!” Zaid belajar baca tulis bahasa Ibrani dengan tekun.
Berkat otaknya yang cemerlang, maka dalam tempo singkat dia telah menguasai bahasa
tersebut dengan baik, berbicara, membaca, dan menulis. Apabila Rasulullah hendak menulis
surat kepada orang-orang Yahudi, Zaid bin Tsabit dipanggil beliau menjadi sekretaris. Bila
beliau menerima surat dari Yahudi, Zaid pula yang disuruh membacakan surat itu kepada
beliau.
Kemudian Zaid disuruh pula belajar baca tulis bahasa Suryani. Zaid berhasil menguasai
bahasa itu dalam tempo singkat, berbicara, membaca, dan menulis, seperti penguasaannya
terhadap bahasa Yahudi. Dan sejak saat itu, Zaid yang masih muda remaja itu dijadikan
beliau sebagai penerjemah bagi beliau untuk kedua bahasa tersebut.
Setelah Rasulullah sungguh-sungguh yakin dengan ketrampilan Zaid, kesetiaan, ketelitian,
dan pemahamannya, barulah beliau menugaskannya menulis risalah langit (al-Qur’an). Maka
jadilah dia penulis wahyu. Bila ayat-ayat/wahyu turun, Rasulullah memanggil Zaid, lalu dibacakannya kepada Zaid dan disuruh tulis. Karena itu Zaid bin Tsabit menulis Al-Qur’an
didiktekan langsung oleh Rasulullah secara bertahap sesuai dengan turunnya ayat.
Zaid menuliskannya langsung dari mulut Rasulullah SAW, segera setelah ayat turun. Dengan
petunjuk beliau, Zaid menyambungkan kepada ayat-ayat sebelumnya yang berhubungan.
Tidak salah lagi kalau pribadi Zaid cemerlang oleh sinar petunjuk Al-Qur’an, dan pikirannya
gemerlapan dengan rahasia-rahasiasyariat Islam, sementara dia mengkhususkan diri dengan
Al-Qur’an. Dia menjadi orang pertama tempat umat Islam bertanya tentang Al-Qur’an sesudah
Rasulullah wafat. Dia menjadi ketua tim yang ditugaskan menghimpun Al-Qur’an pada masa
pemerintahan Abu Bakar Ash-Shidiq. Kemudian dia pula yang menjadi ketua tim penyusun
mushaf di zaman pemerintahan Utsman bin Affan.
Kedudukan apakah lagi yang lebih tinggi dari itu? Masih adakah kemuliaan yang lebih tinggi
dari kemuliaan seperti itu yang hendak dicapai seseorang?
Diantara keutamaan yang dilimpahkan Al-Qur’an terhadap Zaid bin Tsabit, dia pernah
memberikan jalan keluar dari jalan buntu yang membingungkan orang-orang pandai pada hari
Saqifah. Kaum muslimin berbeda pendapat tentang pengganti (khalifah) Rasulullah sesudah
beliau wafat. Kaum muhajirin berkata, “Pihak kamilah yang lebih pantas.” Kata sebagian yang
lain “Pihak kami dan kalian sama-sama berhak. Kalau Rasulullah mengangkat seseorang dari
kalian untuk suatu urusan, maka beliau mengangkat pula seorang dari pihak kami untuk
menyertainya.” Karena perbedaan pendapat, hampir saja terjadi bencana di kalangan kaum
muslimin ketika itu. Padahal jenazah Rasulullah masih terbaring, belum dimakamkan.
Hanya kalimat-kalimat mutiara yang gemerlapan dengan sinar Al-Qur’an yang sanggup
mengubur bencana itu, dan menyinari jalan keluar dari jalan buntu. Kalimat-kalimat tersebut
keluar dari mulut Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Dia berucap di hadapan kaumnya orang-orang
Anshar.
Katanya, “Wahai kaum Anshar! Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah orang Muhajirin.
Karena itu sepantasnyalah penggantinya or Muhajirin pula. Kita adalah pembantu-pembantu
(Anshar) Rasulullah. Maka sepantasnya pulalah kita menjadi pembantu bagi pengganti
(khalifah)nya, sesudah beliau wafat dan memperkuat kedudukan khalifah dalam menegakkan
agama.”
Sesudah berucap begitu, Zaid bin Tsabit mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar Ash-
Shidiq seraya berkata, “Inilah Khalifah kalian! Baiatlah kalian kepadanya!” Keunggulan dan kedalaman pengertian Zaid bin Tsabit mengenai Al-Qur’an telah
mengangkatnya menjadi penasihat kaum muslimin. Para Khalifah senantiasa bermusyawarah
dengan Zaid dalam perkara-perkara sulit, dan masyarakat umum selalu minta fatwa beliau
tentang hal-hal yang musykil. Terutama tentang hukum warisan; karena belum ada diantara
kaum muslimin ketika itu yang lebih mahir membagi warisan selain dari pada Zaid.
Umar bin Khatab pernah berpidato pada hari Jabriyah, katanya: “Hai, manusia! Siapa yang
ingin bertanya tentang Al-Qur’an, datanglah kepada Zaid bin Tsabit. Siapa yang hendak
bertanya tentang fiqih tanyalah kepada Muadz bin Jabal. Dan siapa yang hendak bertanya
tentang harta kekayaan, datanglah kepada saya. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah
menjadikan saya penguasa, Allah jualah yang memberinya.”
Para pencari ilmu (mahasiswa) yang terdiri dari para sahabat dan tabiin, mengerti benar
ketinggian ilmu Zaid bin Tsabit. Karena itu mereka sangat hormat dan memuliakannya,
mengingat ilmu yang bersarang di dadanya ialah ilmu Al-Qur’an.
Seorang sahabat lautan ilmu pula, yaitu Abdullah bin Abbas, pernah melihat Zaid bin Tsabit
direpotkan hewan yang sedang dekendarainya. Lalu Abdullah berdiri di hadapan kendaraan
itu dan memegang talinya supaya tenang. Kata Zaid bin Tsabit kepada Abdullah bin Abbas,
“Biarkan saja hewan itu, wahai anak paman Rasulullah!”
Jawab Ibnu Abbas, “Beginilah kami diperintahkan Rasulullah menghormati ulama kami.”
Kata Zaid, “Coba perlihatkan tangan Anda kepada saya!”
Ibnu Abbas mengulurkan tangannya kepada Zaid. Zaid bin Tsabit memegang tangan Ibnu
Abbas lalu menciumnya. Kata Zaid, “Begitulah caranya kami diperintahkan Rasulullah SAW
menghormati keluarga Nabi kami.”
Tatkala Zaid bin Tsabit berpulang ke rahmatullah, kaum muslimin menangis karena pelita ilmu
yang menyala telah padam.
Berkata Abu Hurairah, “Telah meninggal samudra ilmu umat ini. Semoga Allah menggantinya
dengan Ibnu Abbas.” Penyair Rasulullah, Hasan bin Tsabit, menangisi Zaid bin Tsabit dan dirinya sendiri dengan
seuntai sajak yang indah:
Siapakah lagi merangkai sajak sesudah Hasan dan anaknya
Manakah lagi menara ilmu sesudah Zaid bin Tsabit?
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada almarhum. Amin!
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
UMAIR BIN WAHAB AL-JUMAHY
Umair bin Wahab Al-Jumahy lari dari peperangan Badar untuk menyelamatkan diri sendiri.
Padahal bapaknya, Wahab, menjadi tawanan kaum muslimin.
Umair sangat khawatir bapaknya akan mendapat siksaan dari kaum muslimin, karena dosadosa
dan kejahatanyya menyakiti Rasulullah SAW. Bahkan terhadap para sahabat Rasulullah
SAW, dia tidak segan-segan bertindak kejam. Katanya untuk contoh bagi yang lain supaya
mereka jera, dan kembali kepada agama nenek moyang mereka.
Pada suatu hari Umair melakukan thawaf di Ka’bah dan memohon berkat kepada berhalaberhala
pujaannya. Di sana dia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah sedang duduk di
pinggir Hijr. Umair mendatangi Shafwan sambil memberi salam.
“Im shabahan, ya sayyida Quraisy! (selamat pagi, pemimpin Quraisy!)” kata Umair memberi
hormat.
“Im shobahan, ya Ibnu Wahab!” (selamat pagi anak Pak Wahab, jawab Shafwan. “Mari duduk
di sini berbincang-bincang,” lanjut Shafwan mengajak Umair duduk bersama.
Umair duduk dekat Shafwan bin Umayyah. Keduanya segera terlibat dalam suatu percakapan
serius mengenai perang Badar, tentang kekalahan besar yang mereka alami dalam perang
tersebut dan tentang jumlah orang Quraisy yang ditawan kaum muslimin. Mereka sangat sakit
hati karena beberapa pembesar Quraisy tewas. Bangkai mereka yang tewas itu dikuburkan
kaum muslimin dalam kuburan kolektif di medan tempur Badar.
Shafwan bin Umayyah menarik nafas panjang dan mengeluh, “Tidak! Demi Allah...! Kita harus
mampu membalas!” kata Shafwan.
“Demi Allah. Itu betul!” ucap Umair. Umair diam sebentar, kemudian dia melanjutkan
bicaranya, “Demi Tuhan Ka’bah! Seandainya saya tidak banyak hutang yang harus dilunasi,
dan tidak banyak keluarga yang saya khawatirkan akan tersia-sia kalau aku meninggal,
sungguh aku akan menemui Muhammad lalu kubunuh dia. Kemudian saya basmi agamanya
dan saya hentikan segala kejahatannya.”
Tiba-tiba Umair menjadi rendah seperti orang ketakutan.
“Dengan adanya bapakku, Wahab, dalam tawanan mereka, apakah kepergianku ke Yatsrib
tidak mencurigakan mereka?” kata Umair dengan nada bertanya kepada Shafwan.
Shafwan yang berpikiran tajam dapat menangkap inti pembicaraan Umair bin Wahab. Untuk
tidak melepaskan kesempatan yang baik ini, dia berpaling kepada Umair dan berkata , “Hai
Umair! Biarlah hutang-hutangmu menjadi tanggunganku seluruhnya. Aku akan melunasinya
bila engkau berhasil membunuh Muhammad. Keluargamu akan kugabung dengan
keluargaku, selama aku masih hidup. Hartaku cukup banyak untuk hidup senang bersama
mereka semuanya!”
Kata Umair, “Rahasiakanlah pembicaraan kita ini. Jangan sampai ada seorang jua pun yang mengetahuinya!”
“Tentu! Percayalah kepadaku!” kata Shafwan.
Umair meninggalkan masjid membawa dendam kesumat terhadap Nabi Muhammad SAW.
Disiapkannya segala perlengkapan yang diperlukan untuk melaksanakan niat jahatnya
terhadap Rasulullah. Dia tidak khawatir lagi akan dicurigai orang dalam perjalanan, karena
famili orang-orang tertawan banyak yang sudah pulang pergi ke Yatsrib untuk menengok atau
menebus mereka. Umair mengasah pedangnya tajam-tajam dan mengolesinya dengan racun.
Kemudian Umair meminta kendaraan yang telah disediakan Shafwan untuknya.
Setibanya di Madinah, dia langsung ke masjid mencari Rasulullah, dan ontanya
ditambatkannya dekat pintu masjid, lalu dia turun.
Ketika itu Umar bin Khattab RA sedang duduk dengan beberapa orang shahabat Rasulullah
dekat pintu masjid. Mereka bercakap-cakap soal perang Badar, tentang orang-orang Quraisy
yang tertawan dan yang terbunuh, tentang kepahalawanan kaum muslimin, Muhajirin maupun
Anshar. Mereka tidak lupa pula mengingat pertolongan Allah SWT yang telah memenangkan
kaum muslimin, dan malapetaka yang menimpa musuh-musuh Allah.
Tatkala Umar menoleh ke halaman, tiba-tiba dia melihat Umair bin Wahab Al-Jumahy turun
dari kendaraan dan meunju masjid dengan pedang terhunus.
Umar bin Khattab tersentak bangun dari duduknya, sambil memandang ke arah Umair, ia
berkata, “Ada anjing...! Si Umair bin Wahab musuh Allah! Dia datang ke sini pasti untuk
maksud jahat. Kaum musyrikin Makkah bangkit menyerang kita. Dia intel Quraisy yang
emmata-matai kita sebelum terjadi perang Badar. Tangkap dia...! bawa ke hadapan
Rasulullah! Kawal dia dengan ketat! Hati-hati penjahat keji ini jangan sampai lolos”, perintah
Umar kepada shahabat-shahabatnya, sembari lekas-lekas memberitahu kepada Rasulullah
SAW.
“Ya Rasulullah! Umair bin Wahab, musuh Allah, datang. Dia menghunus pedang. Aku yakin
dia pasti bermaksud jahat,” kata Umar.
“Bawalah dia kemari, hai Umar!” perintah Rasulullah.
Umar Al-Faruq mendatangi Umair bin Wahab. Dipegangnya leher baju Umair.
Dicengkeramnya kuduk Umair yang menyandang pedang. Lalu dibawanya ke hadapan
Rasulullah SAW.
Setelah Rasulullah melihat Umair demikian, beliau bersabda, “Lepaskan dia, hai Umar!”
Umar melepaskan cengkeramannya.
Kemudian Rasulullah bersabda pula, “Mundurlah engkau, hai Umar!”
Umar mundur ke belakang Umair bin Wahab. Rasulullah berkata kepada Umair. “Mendekatlah
ke sini, hai Umair!”
Umair menghampiri Rasulullah dan berkata, “An ‘im shabahan!” (selamat pagi).
Mendengar ucapan itu, Rasulullah bersabda, “Kami telah dimuliakan Allah dengan cara
penghormatan yang lebih baik daripada cara penghormatan engkau, hai Umair. Kami dimuliakan Allah dengan cara mengucapkan “salam” Begitulah cara penghormatan ahli-ahli
surga.”
Kata Umair, “Demi Allah! Kami sudah lama dengan cara penghormatan kami, sedangkan
caramu itu datang belakangan.”
“Apa maksudmu datang kemari ya Umair?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya datang untuk membebaskan tawanan yang engkau tawan. Karena itu bersikap baiklah
engkau kepadaku dengan soal itu,” jawab Umair galak.
“Tetapi mengapa harus menghunus pedang?” tanya Rasulullah. “Tidak baik membawa-bawa
pedang. Apakah engkau dendam kepada kami karena kekalahanmu dalam peperangan
Badar? Bicaralah jujur! Apa sebenarnya maksudmu datang kemari hai Umair!” kata Rasulullah
mendesak. Jawab Umair “Sungguh, aku datang karena masalah tawanan, khususnya
bapakku.”
Kata Rasulullah, “bukankah engkau pernah duduk berdua dengan Shafwan bin Umayyah
dekat Hijr, membicarakan mayat-mayat orang-orang Quraisy yang dilemparkan ke dalam
sumur. Kemudian engkau berkata kepada Shafwan, seandainya aku tidak banyak hutang dan
keluarga yang kutinggalkan, niscaya aku pergi membunuh Muhammad! Lalu Shafwan bin
Umayyah berjanji kepadamu akan melunasi semua hutang-hutangmu dan akan menjamin
hidup keluargamu, asal kamu mau membunuhku. Demi Allah! Engkau tidak akan sempat
melaksanakan maksud jahatmua, karena Allah selalu melindungiku!”
Umair bin Wahab bingung karena rahasianya dibuka lebar-lebar oleh Rasulullah dengan tepat
dan mendetail. Padahal dia yakin seyakin-yakinnya, tidak ada orang yang mengetahui rahasia
itu selain dia sendiri dan Shafwan bin Umayyah. Dalam kebingungan itu hampir saja dia
mengucapkan syahadat.
Kata Umair, “Kami memang tidak mempercayai apa yang engkau katakan berita dari langit,
dan yang engkau katakan wahyu. Tetapi pembicaraan dan perjanjianku dengan Shafwan, aku
yakin benar tidak ada yang mendengar dan mengetahui, selain aku dan Shafwan berdua.
Demi Allah! Sekarang aku yakin benar rahasia itu telah disampaikan Allah kepada engkau.
Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku jalan, sehingga aku dapat hidayah untuk
masuk Islam.”
Kemudian Umair mengucapkan dua kalimat syahadat: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa
asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”
Sesudah itu Rasulullah memerintahkan kepada para shahabat, “Ajarkan Al-Qur’an kepada
saudara kalian ini; terangkan kepadanya ajaran-ajaran Islam, dan bebaskan tawanan yang
dimintanya!”
Kaum muslimin sangat gembira dengan masuknya Umair bin Wahab ke dalam Islam.
Sehingga Umar bin Khattab pernah berkata, “Babi lebih kusukai daripada Umair bin Wahab,
ketika dulu mula-mula datang kepada Rasulullah, tetapi kini aku lebih suka kepadapanya
daripada sebagian anak-anakku.”
Umair membersihkan jiwanya dengan melaksanakan ajaran-ajaran Islam, memenuhi hati sanubarinya dengan cahaya Al-Qur’an. Setiap hari dia sibuk belajar dan beramal. Sehingga
dia lupa kepada Makkah dan orang-orang di Makkah.
Sementara itu Shafwan bin Umayyah selalu menunggu-nunggu Umair kembali dengan
sukses, sesuai rencana mereka. Bahkan Shafwan pernah berkata kepada dermawandermawan
Quraisy, “Bergembiralah kalian dengan berita besar yang akan tiba, sehingga
kalian dapat melupakan kekalahan kita di Badar.”
Sudah agak lama Shafwan menunggu, tetapi Umair bin Wahab tidak juga kunjung tiba. Kabar
tidak, berita pun tidak. Shafwan mulai gelisah. Dia pergi bolak-balik ke padang pasir penas
mencari-cari berita dari setiap musafir yang datang dari Yatsrib (Madinah), kalau-kalau
mereka bertemu atau melihat Umair bin Abdul Wahab. Namun sejauh itu tak satupun berita
yang memuaskannya.
Pada suatu hari ada seseorang mengatakan “Umair bin Wahab sudah masuk Islam!”
Bagaikan petir di siang bolong menyambar telinga Shafwan. Tadinya dia yakin Umair bin
Wahab tidak akan masuk Islam, walaupun seluruh penduduk bumi telah masuk Islam.
Umair bin Wahab rajin belajar agama dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Hatinya tenang dan
penuh tunduk dengan keyakinan yang baru dianutnya. Kini dadanya terasa penuh hikmah
yang dilandasi iman.
Pada suatu hari dia datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah. Telah sekian
lama saya menumpuk dosa dan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Sekian lama pula saya
menghalang melintang memberantas agama Islam dengan segala kemampuan saya,
menteror Rasulullah dan para shahabat yang masuk Islam. Kini aku telah bertaubat dan
meyakini agama Allah sepenuh jiwa dan raga. Aku telah mempelajari kebenaran agama ini
sebanyak yang telah diberikan Allah kepadaku. Maka kini izinkanlah aku kembali ke Makkah,
mengajak orang-orang Quraisy masuk Islam. Jika mereka menerima dakwahku, itulah yang
sebaik-baiknya bagi mereka. Dan jika mereka menolak, akan kusakiti mereka seperti yang
pernah kulakukan terhadap para shahabat Rasulullah.”
Rasulullah SAW mengijinkan Umair bin Wahab pergi ke Makkah. Beliau memberikan petunjuk
dan pengarahan yang tepat bagi Umair dalam mengajak umat kepada Islam.
Setibanya di Makkah, didatanginya Shafwan bin Umayyah.
Kata Umair, “hai Shafwan! Anda seorang pemimpin yang cemerlang diantara para pemimpin
Quraisy, Anda cerdik pandai bangsa Quraisy yang berotak cerdas dan gemilang.
Bagaimanakah pendapat Anda tentang pemujaan dan penyembahan batu, serta mengadakan
kurban sesajen untuk batu tersebut? Dapatkah itu diterima oleh akalmu yang sehat?
Dapatkah itu diterima sebagai suatu agama?
Saya telah masuk Islam dan mengakui kebenaran yang dibawanya. Saya mengakui Tuhan itu
hanya satu, yaitu Allah SWT, dan Muhammad sesungguhnya Rasulullah.”
Sejak itu Umair bin Wahab berdakwah di Makkah, mengajak orang-orang Quraisy masuk
Islam. Banyak orang masuk Islam di tangannya.
Semoga Allah SWT melimpahkan pahala kepada Umair bin Wahab dan memberinya cahaya dalam kubur. Amin
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW terjemah Shuwarun min
Hayaatis Shahabat]
Padahal bapaknya, Wahab, menjadi tawanan kaum muslimin.
Umair sangat khawatir bapaknya akan mendapat siksaan dari kaum muslimin, karena dosadosa
dan kejahatanyya menyakiti Rasulullah SAW. Bahkan terhadap para sahabat Rasulullah
SAW, dia tidak segan-segan bertindak kejam. Katanya untuk contoh bagi yang lain supaya
mereka jera, dan kembali kepada agama nenek moyang mereka.
Pada suatu hari Umair melakukan thawaf di Ka’bah dan memohon berkat kepada berhalaberhala
pujaannya. Di sana dia bertemu dengan Shafwan bin Umayyah sedang duduk di
pinggir Hijr. Umair mendatangi Shafwan sambil memberi salam.
“Im shabahan, ya sayyida Quraisy! (selamat pagi, pemimpin Quraisy!)” kata Umair memberi
hormat.
“Im shobahan, ya Ibnu Wahab!” (selamat pagi anak Pak Wahab, jawab Shafwan. “Mari duduk
di sini berbincang-bincang,” lanjut Shafwan mengajak Umair duduk bersama.
Umair duduk dekat Shafwan bin Umayyah. Keduanya segera terlibat dalam suatu percakapan
serius mengenai perang Badar, tentang kekalahan besar yang mereka alami dalam perang
tersebut dan tentang jumlah orang Quraisy yang ditawan kaum muslimin. Mereka sangat sakit
hati karena beberapa pembesar Quraisy tewas. Bangkai mereka yang tewas itu dikuburkan
kaum muslimin dalam kuburan kolektif di medan tempur Badar.
Shafwan bin Umayyah menarik nafas panjang dan mengeluh, “Tidak! Demi Allah...! Kita harus
mampu membalas!” kata Shafwan.
“Demi Allah. Itu betul!” ucap Umair. Umair diam sebentar, kemudian dia melanjutkan
bicaranya, “Demi Tuhan Ka’bah! Seandainya saya tidak banyak hutang yang harus dilunasi,
dan tidak banyak keluarga yang saya khawatirkan akan tersia-sia kalau aku meninggal,
sungguh aku akan menemui Muhammad lalu kubunuh dia. Kemudian saya basmi agamanya
dan saya hentikan segala kejahatannya.”
Tiba-tiba Umair menjadi rendah seperti orang ketakutan.
“Dengan adanya bapakku, Wahab, dalam tawanan mereka, apakah kepergianku ke Yatsrib
tidak mencurigakan mereka?” kata Umair dengan nada bertanya kepada Shafwan.
Shafwan yang berpikiran tajam dapat menangkap inti pembicaraan Umair bin Wahab. Untuk
tidak melepaskan kesempatan yang baik ini, dia berpaling kepada Umair dan berkata , “Hai
Umair! Biarlah hutang-hutangmu menjadi tanggunganku seluruhnya. Aku akan melunasinya
bila engkau berhasil membunuh Muhammad. Keluargamu akan kugabung dengan
keluargaku, selama aku masih hidup. Hartaku cukup banyak untuk hidup senang bersama
mereka semuanya!”
Kata Umair, “Rahasiakanlah pembicaraan kita ini. Jangan sampai ada seorang jua pun yang mengetahuinya!”
“Tentu! Percayalah kepadaku!” kata Shafwan.
Umair meninggalkan masjid membawa dendam kesumat terhadap Nabi Muhammad SAW.
Disiapkannya segala perlengkapan yang diperlukan untuk melaksanakan niat jahatnya
terhadap Rasulullah. Dia tidak khawatir lagi akan dicurigai orang dalam perjalanan, karena
famili orang-orang tertawan banyak yang sudah pulang pergi ke Yatsrib untuk menengok atau
menebus mereka. Umair mengasah pedangnya tajam-tajam dan mengolesinya dengan racun.
Kemudian Umair meminta kendaraan yang telah disediakan Shafwan untuknya.
Setibanya di Madinah, dia langsung ke masjid mencari Rasulullah, dan ontanya
ditambatkannya dekat pintu masjid, lalu dia turun.
Ketika itu Umar bin Khattab RA sedang duduk dengan beberapa orang shahabat Rasulullah
dekat pintu masjid. Mereka bercakap-cakap soal perang Badar, tentang orang-orang Quraisy
yang tertawan dan yang terbunuh, tentang kepahalawanan kaum muslimin, Muhajirin maupun
Anshar. Mereka tidak lupa pula mengingat pertolongan Allah SWT yang telah memenangkan
kaum muslimin, dan malapetaka yang menimpa musuh-musuh Allah.
Tatkala Umar menoleh ke halaman, tiba-tiba dia melihat Umair bin Wahab Al-Jumahy turun
dari kendaraan dan meunju masjid dengan pedang terhunus.
Umar bin Khattab tersentak bangun dari duduknya, sambil memandang ke arah Umair, ia
berkata, “Ada anjing...! Si Umair bin Wahab musuh Allah! Dia datang ke sini pasti untuk
maksud jahat. Kaum musyrikin Makkah bangkit menyerang kita. Dia intel Quraisy yang
emmata-matai kita sebelum terjadi perang Badar. Tangkap dia...! bawa ke hadapan
Rasulullah! Kawal dia dengan ketat! Hati-hati penjahat keji ini jangan sampai lolos”, perintah
Umar kepada shahabat-shahabatnya, sembari lekas-lekas memberitahu kepada Rasulullah
SAW.
“Ya Rasulullah! Umair bin Wahab, musuh Allah, datang. Dia menghunus pedang. Aku yakin
dia pasti bermaksud jahat,” kata Umar.
“Bawalah dia kemari, hai Umar!” perintah Rasulullah.
Umar Al-Faruq mendatangi Umair bin Wahab. Dipegangnya leher baju Umair.
Dicengkeramnya kuduk Umair yang menyandang pedang. Lalu dibawanya ke hadapan
Rasulullah SAW.
Setelah Rasulullah melihat Umair demikian, beliau bersabda, “Lepaskan dia, hai Umar!”
Umar melepaskan cengkeramannya.
Kemudian Rasulullah bersabda pula, “Mundurlah engkau, hai Umar!”
Umar mundur ke belakang Umair bin Wahab. Rasulullah berkata kepada Umair. “Mendekatlah
ke sini, hai Umair!”
Umair menghampiri Rasulullah dan berkata, “An ‘im shabahan!” (selamat pagi).
Mendengar ucapan itu, Rasulullah bersabda, “Kami telah dimuliakan Allah dengan cara
penghormatan yang lebih baik daripada cara penghormatan engkau, hai Umair. Kami dimuliakan Allah dengan cara mengucapkan “salam” Begitulah cara penghormatan ahli-ahli
surga.”
Kata Umair, “Demi Allah! Kami sudah lama dengan cara penghormatan kami, sedangkan
caramu itu datang belakangan.”
“Apa maksudmu datang kemari ya Umair?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya datang untuk membebaskan tawanan yang engkau tawan. Karena itu bersikap baiklah
engkau kepadaku dengan soal itu,” jawab Umair galak.
“Tetapi mengapa harus menghunus pedang?” tanya Rasulullah. “Tidak baik membawa-bawa
pedang. Apakah engkau dendam kepada kami karena kekalahanmu dalam peperangan
Badar? Bicaralah jujur! Apa sebenarnya maksudmu datang kemari hai Umair!” kata Rasulullah
mendesak. Jawab Umair “Sungguh, aku datang karena masalah tawanan, khususnya
bapakku.”
Kata Rasulullah, “bukankah engkau pernah duduk berdua dengan Shafwan bin Umayyah
dekat Hijr, membicarakan mayat-mayat orang-orang Quraisy yang dilemparkan ke dalam
sumur. Kemudian engkau berkata kepada Shafwan, seandainya aku tidak banyak hutang dan
keluarga yang kutinggalkan, niscaya aku pergi membunuh Muhammad! Lalu Shafwan bin
Umayyah berjanji kepadamu akan melunasi semua hutang-hutangmu dan akan menjamin
hidup keluargamu, asal kamu mau membunuhku. Demi Allah! Engkau tidak akan sempat
melaksanakan maksud jahatmua, karena Allah selalu melindungiku!”
Umair bin Wahab bingung karena rahasianya dibuka lebar-lebar oleh Rasulullah dengan tepat
dan mendetail. Padahal dia yakin seyakin-yakinnya, tidak ada orang yang mengetahui rahasia
itu selain dia sendiri dan Shafwan bin Umayyah. Dalam kebingungan itu hampir saja dia
mengucapkan syahadat.
Kata Umair, “Kami memang tidak mempercayai apa yang engkau katakan berita dari langit,
dan yang engkau katakan wahyu. Tetapi pembicaraan dan perjanjianku dengan Shafwan, aku
yakin benar tidak ada yang mendengar dan mengetahui, selain aku dan Shafwan berdua.
Demi Allah! Sekarang aku yakin benar rahasia itu telah disampaikan Allah kepada engkau.
Segala puji bagi Allah yang telah memberi aku jalan, sehingga aku dapat hidayah untuk
masuk Islam.”
Kemudian Umair mengucapkan dua kalimat syahadat: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa
asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah”
Sesudah itu Rasulullah memerintahkan kepada para shahabat, “Ajarkan Al-Qur’an kepada
saudara kalian ini; terangkan kepadanya ajaran-ajaran Islam, dan bebaskan tawanan yang
dimintanya!”
Kaum muslimin sangat gembira dengan masuknya Umair bin Wahab ke dalam Islam.
Sehingga Umar bin Khattab pernah berkata, “Babi lebih kusukai daripada Umair bin Wahab,
ketika dulu mula-mula datang kepada Rasulullah, tetapi kini aku lebih suka kepadapanya
daripada sebagian anak-anakku.”
Umair membersihkan jiwanya dengan melaksanakan ajaran-ajaran Islam, memenuhi hati sanubarinya dengan cahaya Al-Qur’an. Setiap hari dia sibuk belajar dan beramal. Sehingga
dia lupa kepada Makkah dan orang-orang di Makkah.
Sementara itu Shafwan bin Umayyah selalu menunggu-nunggu Umair kembali dengan
sukses, sesuai rencana mereka. Bahkan Shafwan pernah berkata kepada dermawandermawan
Quraisy, “Bergembiralah kalian dengan berita besar yang akan tiba, sehingga
kalian dapat melupakan kekalahan kita di Badar.”
Sudah agak lama Shafwan menunggu, tetapi Umair bin Wahab tidak juga kunjung tiba. Kabar
tidak, berita pun tidak. Shafwan mulai gelisah. Dia pergi bolak-balik ke padang pasir penas
mencari-cari berita dari setiap musafir yang datang dari Yatsrib (Madinah), kalau-kalau
mereka bertemu atau melihat Umair bin Abdul Wahab. Namun sejauh itu tak satupun berita
yang memuaskannya.
Pada suatu hari ada seseorang mengatakan “Umair bin Wahab sudah masuk Islam!”
Bagaikan petir di siang bolong menyambar telinga Shafwan. Tadinya dia yakin Umair bin
Wahab tidak akan masuk Islam, walaupun seluruh penduduk bumi telah masuk Islam.
Umair bin Wahab rajin belajar agama dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Hatinya tenang dan
penuh tunduk dengan keyakinan yang baru dianutnya. Kini dadanya terasa penuh hikmah
yang dilandasi iman.
Pada suatu hari dia datang kepada Rasulullah SAW, ia berkata, “Ya Rasulullah. Telah sekian
lama saya menumpuk dosa dan mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Sekian lama pula saya
menghalang melintang memberantas agama Islam dengan segala kemampuan saya,
menteror Rasulullah dan para shahabat yang masuk Islam. Kini aku telah bertaubat dan
meyakini agama Allah sepenuh jiwa dan raga. Aku telah mempelajari kebenaran agama ini
sebanyak yang telah diberikan Allah kepadaku. Maka kini izinkanlah aku kembali ke Makkah,
mengajak orang-orang Quraisy masuk Islam. Jika mereka menerima dakwahku, itulah yang
sebaik-baiknya bagi mereka. Dan jika mereka menolak, akan kusakiti mereka seperti yang
pernah kulakukan terhadap para shahabat Rasulullah.”
Rasulullah SAW mengijinkan Umair bin Wahab pergi ke Makkah. Beliau memberikan petunjuk
dan pengarahan yang tepat bagi Umair dalam mengajak umat kepada Islam.
Setibanya di Makkah, didatanginya Shafwan bin Umayyah.
Kata Umair, “hai Shafwan! Anda seorang pemimpin yang cemerlang diantara para pemimpin
Quraisy, Anda cerdik pandai bangsa Quraisy yang berotak cerdas dan gemilang.
Bagaimanakah pendapat Anda tentang pemujaan dan penyembahan batu, serta mengadakan
kurban sesajen untuk batu tersebut? Dapatkah itu diterima oleh akalmu yang sehat?
Dapatkah itu diterima sebagai suatu agama?
Saya telah masuk Islam dan mengakui kebenaran yang dibawanya. Saya mengakui Tuhan itu
hanya satu, yaitu Allah SWT, dan Muhammad sesungguhnya Rasulullah.”
Sejak itu Umair bin Wahab berdakwah di Makkah, mengajak orang-orang Quraisy masuk
Islam. Banyak orang masuk Islam di tangannya.
Semoga Allah SWT melimpahkan pahala kepada Umair bin Wahab dan memberinya cahaya dalam kubur. Amin
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW terjemah Shuwarun min
Hayaatis Shahabat]
THUFAIL BIN AMR AD-DAUSY
Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk
bangsawan Arab yang terpandang, dan seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta
kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku.
Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu. Dia senang memberi
makan orang-orang yang kelaparan, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu
setiap penganggur.
Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan
halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karyakaryanya
mempesona bagaikan sihir.
Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya, Tihamah, menuju Makkah. Waktu itu
konfrontasi antara Rasulullah SAW dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak
berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu,
sengaja Rasulullah SAW hanya mendoa kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang
dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan
senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut
Nabi Muhammad.
Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke Makkah itu
bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum
kafir Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.
Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai kenang-kenangan yang
tak dapat dilupakannya. Karena itu marilah kita simak ceritanya yang unik berikut ini:
Kedatanganku ke Makkah kali itu mereka sambut agak luar biasa, aku ditempatkan di sebuah
rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuiku.
Kata mereka, “Hai Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun
negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad) ternyata
telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah belah persatuan kita
semua. Kami kuatir akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda,
dipengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami”
“Karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula
mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir.
Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama
saudara dan menceraikan istri dengan suami.”
Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh kepadaku,
kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban-keajaiban yang pernah
dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu, tidak akan
berbicara dengannya, dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.
Pada suatu pagi aku pergi ke Masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat dari
berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji. Telingaku
kusumbat dengan kapas, karena aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.
Tetapi ketika masuk ke masjid, kulihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi
shalatnya tidak seperti sholat kami, dan ibadahnya tidak seperti ibadah kami. Aku terpesona
melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga
akhirnya aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah menakdirkan supaya aku mendengar
apa yang dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan
bagus sekali.
Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang
pujangga dan penyair. Engkau mampu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa
salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur…? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana
yang buruk kau tinggalkan…!”
Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai ke
rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku bertanya
kepadanya:
“Ya Muhammad! Sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan
begitu. Mereka menakut-nakutiku berhubungan dengan urusan agama Anda. Oleh karenanya
aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Anda. Tetapi Allah
menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan
semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”
Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan, belum
pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.
Setelah itu kuulurkan tanganku kepadanya, lalu kuucapkan dua kalimat syahadat.
Sejak itu aku masuk Islam.
Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam dari beliau. Aku
menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat kuhafal. Ketika aku bermaksud hendak kembali
kepada kaumku, kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah! Aku ini pemimpin yang dipatuhi
oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk
Islam. Tolonglah doakan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti-bukti nyata yang
dapat memperkuat dakwahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”
Rasulullah SAW pun mendoakan.
Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku, keluarlah
suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.
Aku berdoa “Wahai Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, karena kalau cahaya ini
terletak di antara kedua mataku, aku khawatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku telah
kena tulah karena meninggalkan agama berhala.”
Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatku, bagaikan sebuah kandil
tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama-tama mendatangiku
adalah bapakku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.
“Menjauhlah daripadaku! Aku bukan lagi putra ayah dan ayah bukan bapakku lagi!”
“Mengapa begitu, hai anakku?” tanya bapak.
“Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW,” jawabku.
“Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agamamu menjadi agamaku
pula?” tanya bapak.
“Kalau begitu pergilah Bapak mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapak.
Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya kuajarkan kepada Bapak apa yang telah kupelajari
tentang Islam.”
Bapakku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan
kepadanya tentang Islam, lalu dia masuk Islam.
Kemudian datang pula istriku. Aku berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku! Aku bukan
suamimu lagi, dan engkau tidak pula istriku lagi.”
“Mengapa begitu. Hai Thufail?” tanya istriku heran.
“Islam telah memisahkan aku dan engkau. Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikur Nabi
Muhammad SAW.” Jawabku menjelaskan.
“Bolehkah aku masuk agamamu?” tanya istriku.
“Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga Dzi Syuara. Bersihkan badanmu di telaga itu!”
kataku.
“Apakah engkau tidak takut terkena tulah Dzi Syara’?” tanya istriku cemas.
“Aku tidak peduli dengan berhala Dzi Syara’mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh
dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin, batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak
akan berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu!” kataku meyakinkan.
Sesudah mandi dia datang kepadaku. Maka kuajarkan kepadanya tentang Islam, lalu dia
masuk Islam.
Kemudian kuajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi tidak memenuhi ajakanku, kecuali
Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.
Aku datang memenuhi Rasulullah SAW di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah.”
Ucap Thufail melanjutkan ceritanya.
Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana perkembangan dakwahmu , hai Thufail?”
“Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus, masih
sesat dan durhaka,” jawabku.
Rasulullah SAW pergi mengambil wudlu’ kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau
menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdoa. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa
khawatir dan takut kalau-kalau Rasulullah SAW mendoakan agar kabilah Daus celaka.
Tetapi kiranya Rasulullah mendoakan sebaliknya: Allaahummahdi Dusan…! Allaahummahdi
Dusan…! Allaahummahdi Dusan…! (Wahai Allah! Tunjukkanlah kabilah Daus!)
Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu bersabda: “Pulanglah kepada kabilahmu!
Bersikap lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah mereka masuk Islam dengan bijaksana!”
Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku masuk
Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Setelah
itu aku datang kepada Rasulullah SAW membawa depalan puluh keluarga muslim Dausy
yang keislamannya tidak disangsikan lagi.
Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami secukupnya
dari harta rampasan perang Khaibar.
Kami memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tempatkanlah kami di sayap kanan
pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi muslimin Dausy ini
kami beri nama “Kompi Mabrur”
Kata Thufail, “Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah SAW. Dan turut berperang
bersama beliau ke mana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir
Quraisy.”
Setelah pembebasan kota Makkah, aku memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah!
Izinkanlah aku pergi ke Dzil Kaffan, untuk memusnahkan berhala-berhala yang ada di sana.”
Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan
satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak
membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak
sekitar mereka, menunggu –nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi
petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.
Tetapi Thufail dengan mantap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau
menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak; “hai Dzil Kaffain…! Kami
bukanlah pemujamu, kelahiran kami lebih dahulu daripada keberadaanmu. Inilah aku,
menyulutkan api di jantungmu!”
Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kaffain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan
dalam Kabilah Daus. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim
sejati.
Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat.
Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan
Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk perang membasmi orang-orang murtad, Thufail
paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimin memerangi Musailamah Al-
Kadzdzab. Begitu pula putra beliau, ‘Amr bin Thufail, yang selalu tak mau ketinggalan.
Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat Musailamah
menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi.
“Aku bermimpi. Cobalah kalian ta’birkan mimpiku itu”. Kata Thufail kepada sahabatsahabatnya.
“Bagaimana mimpi Anda?” tanya kawan-kawannya.
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang
perempuan memasukkan ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan sungguhsungguh
sepaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa karena
antaraku dan dia ada dinding”
“Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawannya Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalku
dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku. Seorang
perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang lalu aku
dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan ankku, dia
juga berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-kadzdzab di Yamamah, sahabat
yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad-Dausy mendapat cedera sehingga dia terbanting
dan tewas di medan tempur.
Putranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia
kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapaknya di medan
tempur Yamamah.
Tatkala Khalifah Umar bin Khattab memerintah ‘Amr bin Thufail (putra Thufail) pernah datang
ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makananpun dihidangkan orang.
Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan bersama-sama.
Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.
“Mengapa…?”. Tanya Khalifah. “Barangkali engkau lebih senang makan belakangan. Mungkin
engkau malu karena tanganmu itu.”
“Betul, ya Amirul Mukminin” jawab ‘Amr.
Kata Khalifah. “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia sentuh dengan
tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah
berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut
berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam peperangan itu
sebagai syuhada, seperti yang diharapkan bapaknya.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada putranya, ‘Amr, syahid di medan
tempur Yamamah dan Yarmuk.
[Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah]
bangsawan Arab yang terpandang, dan seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta
kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku.
Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu. Dia senang memberi
makan orang-orang yang kelaparan, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu
setiap penganggur.
Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan
halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karyakaryanya
mempesona bagaikan sihir.
Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya, Tihamah, menuju Makkah. Waktu itu
konfrontasi antara Rasulullah SAW dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak
berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu,
sengaja Rasulullah SAW hanya mendoa kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang
dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan
senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut
Nabi Muhammad.
Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke Makkah itu
bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum
kafir Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.
Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai kenang-kenangan yang
tak dapat dilupakannya. Karena itu marilah kita simak ceritanya yang unik berikut ini:
Kedatanganku ke Makkah kali itu mereka sambut agak luar biasa, aku ditempatkan di sebuah
rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuiku.
Kata mereka, “Hai Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun
negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad) ternyata
telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah belah persatuan kita
semua. Kami kuatir akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda,
dipengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami”
“Karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula
mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir.
Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama
saudara dan menceraikan istri dengan suami.”
Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh kepadaku,
kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban-keajaiban yang pernah
dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu, tidak akan
berbicara dengannya, dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.
Pada suatu pagi aku pergi ke Masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat dari
berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji. Telingaku
kusumbat dengan kapas, karena aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.
Tetapi ketika masuk ke masjid, kulihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi
shalatnya tidak seperti sholat kami, dan ibadahnya tidak seperti ibadah kami. Aku terpesona
melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga
akhirnya aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah menakdirkan supaya aku mendengar
apa yang dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan
bagus sekali.
Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang
pujangga dan penyair. Engkau mampu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa
salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur…? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana
yang buruk kau tinggalkan…!”
Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai ke
rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku bertanya
kepadanya:
“Ya Muhammad! Sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan
begitu. Mereka menakut-nakutiku berhubungan dengan urusan agama Anda. Oleh karenanya
aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Anda. Tetapi Allah
menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan
semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”
Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan, belum
pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.
Setelah itu kuulurkan tanganku kepadanya, lalu kuucapkan dua kalimat syahadat.
Sejak itu aku masuk Islam.
Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam dari beliau. Aku
menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat kuhafal. Ketika aku bermaksud hendak kembali
kepada kaumku, kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah! Aku ini pemimpin yang dipatuhi
oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk
Islam. Tolonglah doakan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti-bukti nyata yang
dapat memperkuat dakwahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”
Rasulullah SAW pun mendoakan.
Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku, keluarlah
suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.
Aku berdoa “Wahai Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, karena kalau cahaya ini
terletak di antara kedua mataku, aku khawatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku telah
kena tulah karena meninggalkan agama berhala.”
Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatku, bagaikan sebuah kandil
tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama-tama mendatangiku
adalah bapakku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.
“Menjauhlah daripadaku! Aku bukan lagi putra ayah dan ayah bukan bapakku lagi!”
“Mengapa begitu, hai anakku?” tanya bapak.
“Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW,” jawabku.
“Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agamamu menjadi agamaku
pula?” tanya bapak.
“Kalau begitu pergilah Bapak mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapak.
Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya kuajarkan kepada Bapak apa yang telah kupelajari
tentang Islam.”
Bapakku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan
kepadanya tentang Islam, lalu dia masuk Islam.
Kemudian datang pula istriku. Aku berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku! Aku bukan
suamimu lagi, dan engkau tidak pula istriku lagi.”
“Mengapa begitu. Hai Thufail?” tanya istriku heran.
“Islam telah memisahkan aku dan engkau. Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikur Nabi
Muhammad SAW.” Jawabku menjelaskan.
“Bolehkah aku masuk agamamu?” tanya istriku.
“Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga Dzi Syuara. Bersihkan badanmu di telaga itu!”
kataku.
“Apakah engkau tidak takut terkena tulah Dzi Syara’?” tanya istriku cemas.
“Aku tidak peduli dengan berhala Dzi Syara’mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh
dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin, batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak
akan berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu!” kataku meyakinkan.
Sesudah mandi dia datang kepadaku. Maka kuajarkan kepadanya tentang Islam, lalu dia
masuk Islam.
Kemudian kuajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi tidak memenuhi ajakanku, kecuali
Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.
Aku datang memenuhi Rasulullah SAW di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah.”
Ucap Thufail melanjutkan ceritanya.
Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana perkembangan dakwahmu , hai Thufail?”
“Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus, masih
sesat dan durhaka,” jawabku.
Rasulullah SAW pergi mengambil wudlu’ kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau
menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdoa. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa
khawatir dan takut kalau-kalau Rasulullah SAW mendoakan agar kabilah Daus celaka.
Tetapi kiranya Rasulullah mendoakan sebaliknya: Allaahummahdi Dusan…! Allaahummahdi
Dusan…! Allaahummahdi Dusan…! (Wahai Allah! Tunjukkanlah kabilah Daus!)
Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu bersabda: “Pulanglah kepada kabilahmu!
Bersikap lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah mereka masuk Islam dengan bijaksana!”
Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku masuk
Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Setelah
itu aku datang kepada Rasulullah SAW membawa depalan puluh keluarga muslim Dausy
yang keislamannya tidak disangsikan lagi.
Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami secukupnya
dari harta rampasan perang Khaibar.
Kami memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tempatkanlah kami di sayap kanan
pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi muslimin Dausy ini
kami beri nama “Kompi Mabrur”
Kata Thufail, “Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah SAW. Dan turut berperang
bersama beliau ke mana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir
Quraisy.”
Setelah pembebasan kota Makkah, aku memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah!
Izinkanlah aku pergi ke Dzil Kaffan, untuk memusnahkan berhala-berhala yang ada di sana.”
Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan
satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak
membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak
sekitar mereka, menunggu –nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi
petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.
Tetapi Thufail dengan mantap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau
menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak; “hai Dzil Kaffain…! Kami
bukanlah pemujamu, kelahiran kami lebih dahulu daripada keberadaanmu. Inilah aku,
menyulutkan api di jantungmu!”
Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kaffain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan
dalam Kabilah Daus. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim
sejati.
Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat.
Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan
Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk perang membasmi orang-orang murtad, Thufail
paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimin memerangi Musailamah Al-
Kadzdzab. Begitu pula putra beliau, ‘Amr bin Thufail, yang selalu tak mau ketinggalan.
Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat Musailamah
menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi.
“Aku bermimpi. Cobalah kalian ta’birkan mimpiku itu”. Kata Thufail kepada sahabatsahabatnya.
“Bagaimana mimpi Anda?” tanya kawan-kawannya.
“Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang
perempuan memasukkan ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan sungguhsungguh
sepaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa karena
antaraku dan dia ada dinding”
“Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawannya Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalku
dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku. Seorang
perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang lalu aku
dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan ankku, dia
juga berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”
Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-kadzdzab di Yamamah, sahabat
yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad-Dausy mendapat cedera sehingga dia terbanting
dan tewas di medan tempur.
Putranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia
kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapaknya di medan
tempur Yamamah.
Tatkala Khalifah Umar bin Khattab memerintah ‘Amr bin Thufail (putra Thufail) pernah datang
ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makananpun dihidangkan orang.
Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan bersama-sama.
Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.
“Mengapa…?”. Tanya Khalifah. “Barangkali engkau lebih senang makan belakangan. Mungkin
engkau malu karena tanganmu itu.”
“Betul, ya Amirul Mukminin” jawab ‘Amr.
Kata Khalifah. “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia sentuh dengan
tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah
berada di surga, melainkan hanya engkau.”
Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut
berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam peperangan itu
sebagai syuhada, seperti yang diharapkan bapaknya.
Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada putranya, ‘Amr, syahid di medan
tempur Yamamah dan Yarmuk.
[Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah]
SA'ID BIN AMIR AL-JUMAHY
“Dia telah membeli akhirat dengan dunia, mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas
segala-galanya”
(Muarrikhin)
Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy termasuk pemuda diantara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di
luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpi Quraist
untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang
sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang
berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai di depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang
penting seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para
wanita, anak-anak dan pemuda menggiring Khubab ke lapangan maut. Mereka ingin
membalas dendam terhadap Nabi Muhammad SAW, serta melampiaskan sakit hati atas
kekalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang tealah disediakan, Sa’id
mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. Sa’id mendengar suara Khubaib
berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum kalian
bunuh…”
Kemudian Sa;id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (ka’bah). Dia shalat dua raka’at.
Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat Khubaib menghadap kepada
para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan
menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ulur waktu karena takut mati, niscaya
aku akan shalat lebih lama lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para
pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hiduphidup.
Kata mereka, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau
kami bebaskan?”
“Aku tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anakku, sementara Muhammad tertusuk
duri,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia…! Bunuh dia…!” teriak orang banyak. Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke
tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdo’a, “Ya Allah! Hitunglah
jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan sisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur
tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak
terbilang banyaknya.
Kaum kafir kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan
peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al-
Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau sedetik pun.
Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat
Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar
olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu, Sa’id ketakutan
kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar
menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib dalam menghadapi maut mengajarkan kepada Sa’id
beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman; kemudian berjuang
mempertahankan aqidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhujam dalam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang
ajaib luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib adalah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang
dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah SWT membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam.
Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang
Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu
dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat
itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa’id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia
senantiasa mendampingi Nabi SAW. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam
peperangan Khaibar; kemudian dia selalu turut dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi SAW berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu
Bakar dan Umar bin Khattab. Dia menjadi teladan bagi orang mukmin yang membeli
kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan
pahala dari-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengerti bahwa ucapan-ucapan
Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan
mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa’id.
Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Sa’id datang kepadanya
memberi nasihat.
Kata Sa’id, “ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut
kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan
perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan adalah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh
maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga Anda sukai.
Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga Anda tidak sukai. Arahkan semua
karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua ini, hai Sa’id?” tanya khalifah Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat
Muhammad ini? Bukankah antara Anda dan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab
Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika khalifah Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam
pemerintahan.
“Hai Sa’id! Engkau kami angkat sebagai Gubernur di Himsh!” kata khalifah Umar.
“Wahai Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong
kepada dunia,” kata Sa’id.
“Celaka Engkau!” balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini dipundakku,
tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa;id.
Kemudian khalifah Umat melantik Sa’id menjadi gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, khalifah Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau
inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji, ya Amirul Mukminin?” jawab Sa’id balik bertanya.
“Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”
Tidak berapa lama setelah Sa’id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap
Khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasu Khalifah
mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemua dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh
untuk diberikan santunan. Delegasi itu mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam
daftar tersebut terdapat nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Lalu
beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami!” jawab mereka.
“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya Khalifah heran.
“Sungguh ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda
api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau menetes
membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu
dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir, dan uang
ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap
Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam
dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Sa’id melihat pundi-pundi berisi
uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, “Inna lillaahi wa innaa
ilaihi raaji’uun”
Mendengar ucapan itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu
istrinya segera menghampiri seraya berkata, “Apa yang terjadi hai Sa’id? Meninggalkah
Amirul Mukminin?”
“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Sa’id sedih.
“Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya istrinya pula.
“Jauh lebih besar dari itu!” jawab Sa’id tetap sedih.
“Apa pulakah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar.
“Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga
kita,” jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal
adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar bin Khattab untuk suaminya.
“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa’id.
“Tentu…!” jawab istrinya bersemangat. Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu
disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi
pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya beliau menyempatkan diri singgah di Himsh.
Kota Himsh pada masa itu rakyatnya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan
kelemahan-kelemahan gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucap selamat datang.
Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-saudara terhadap kebijakan
Gubernur Saudara-saudara?”
“Ada empat kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil berdoa,
“Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka tatkala semua pihak, yaitu Gubernur dan masyarakat telah lengkap berada di hadapan
Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan Saudara-saudara tentang
kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”
“Pertama, Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.”
“Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat ini, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya
saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai
pembantu. Karena itu, tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu
untuk mereka. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani
masyarakat.”
“Apalagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
“Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
“Hal itu sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum
seperti ini,” kata Sa’id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani
masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub kepada Allah,” lanjut Sa’id.
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
“Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari dalam sebulan.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di
samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya
mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat
keluar melayani masyarakat,” ucap Sa’id.
“Nah, apalagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
“Keempat, sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu
biasanya beliau pergi meninggalkan majelis.”
“Silakan menanggapi, hai Sa’id!” kata Khalifah Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady
dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh
Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib “Sukakah
engkau Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan
anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri…”
“Demi Allah…!” kata Sa’id, “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikitpun, maka saya merasa, bahwa dosa saya
tidak akan diampuni Allah SWT.”
“Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengakhiri dialog
itu.
sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk
memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, istrinya berkata kepada Sa’id, “Segala puji bagi Allah yang
telah mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk
membeli bahan pangan dan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang
pembantu rumah tangga.”
“Adakah usul yang lebih baik dari itu?” tanya Sa’id kepada istrinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu?” jawab istrinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik
bagi kita” jawab Sa’id.
“Mengapa?” tanya istrinya.
“Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih
baik,” kata Sa’id.
“Baiklah kalau begitu,” kata istrinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling
baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majelis, uang itu dimasukkan Sa’id ke dalam beberapa pundi,
lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya.
“Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim si Fulan. Ini kepada si
Fulan yang miskin…” dan seterusnya. Semoga Allah SWT meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dia telah membeli akhirat dengan
menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala
yang berlipat ganda di akhirat, lebih dari segala-galanya. Amiin.
[Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat terjemah Shuwarum Min Hayatis Shahabah]
segala-galanya”
(Muarrikhin)
Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy termasuk pemuda diantara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di
luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpi Quraist
untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang
sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.
Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang
berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai di depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang
penting seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.
Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para
wanita, anak-anak dan pemuda menggiring Khubab ke lapangan maut. Mereka ingin
membalas dendam terhadap Nabi Muhammad SAW, serta melampiaskan sakit hati atas
kekalahan mereka dalam perang Badar.
Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang tealah disediakan, Sa’id
mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. Sa’id mendengar suara Khubaib
berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum kalian
bunuh…”
Kemudian Sa;id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (ka’bah). Dia shalat dua raka’at.
Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat Khubaib menghadap kepada
para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan
menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ulur waktu karena takut mati, niscaya
aku akan shalat lebih lama lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para
pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hiduphidup.
Kata mereka, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau
kami bebaskan?”
“Aku tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anakku, sementara Muhammad tertusuk
duri,” jawab Khubaib mantap.
“Bunuh dia…! Bunuh dia…!” teriak orang banyak. Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke
tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdo’a, “Ya Allah! Hitunglah
jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan sisakan seorang jua pun!”
Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur
tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak
terbilang banyaknya.
Kaum kafir kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan
peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al-
Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau sedetik pun.
Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat
Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar
olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu, Sa’id ketakutan
kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar
menyambar kaum Quraisy.
Keberanian dan ketabahan Khubaib dalam menghadapi maut mengajarkan kepada Sa’id
beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.
Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman; kemudian berjuang
mempertahankan aqidah itu sampai mati.
Kedua, iman yang telah terhujam dalam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang
ajaib luar biasa.
Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib adalah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang
dikukuhkan dari langit.
Sejak itu Allah SWT membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam.
Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang
Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu
dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat
itu dia masuk Islam.
Tidak lama sesudah itu, Sa’id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia
senantiasa mendampingi Nabi SAW. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam
peperangan Khaibar; kemudian dia selalu turut dalam setiap peperangan berikutnya.
Setelah Nabi SAW berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu
Bakar dan Umar bin Khattab. Dia menjadi teladan bagi orang mukmin yang membeli
kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan
pahala dari-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.
Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengerti bahwa ucapan-ucapan
Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan
mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa’id.
Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Sa’id datang kepadanya
memberi nasihat.
Kata Sa’id, “ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut
kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan
perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan adalah yang dibuktikan dengan perbuatan.
Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh
maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga Anda sukai.
Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga Anda tidak sukai. Arahkan semua
karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”
“Siapakah yang sanggup melaksanakan semua ini, hai Sa’id?” tanya khalifah Umar.
“Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat
Muhammad ini? Bukankah antara Anda dan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab
Sa’id meyakinkan.
Pada suatu ketika khalifah Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam
pemerintahan.
“Hai Sa’id! Engkau kami angkat sebagai Gubernur di Himsh!” kata khalifah Umar.
“Wahai Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong
kepada dunia,” kata Sa’id.
“Celaka Engkau!” balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini dipundakku,
tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”
“Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa;id.
Kemudian khalifah Umat melantik Sa’id menjadi gubernur di Himsh.
Sesudah pelantikan, khalifah Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau
inginkan?”
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji, ya Amirul Mukminin?” jawab Sa’id balik bertanya.
“Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”
Tidak berapa lama setelah Sa’id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap
Khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasu Khalifah
mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.
Dalam pertemua dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh
untuk diberikan santunan. Delegasi itu mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam
daftar tersebut terdapat nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy.
Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Lalu
beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang kalian cantumkan ini?”
“Gubernur kami!” jawab mereka.
“Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya Khalifah heran.
“Sungguh ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda
api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.
Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau menetes
membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu
dinar.
“Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir, dan uang
ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap
Umar sedih.
Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam
dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Sa’id melihat pundi-pundi berisi
uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, “Inna lillaahi wa innaa
ilaihi raaji’uun”
Mendengar ucapan itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu
istrinya segera menghampiri seraya berkata, “Apa yang terjadi hai Sa’id? Meninggalkah
Amirul Mukminin?”
“Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Sa’id sedih.
“Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya istrinya pula.
“Jauh lebih besar dari itu!” jawab Sa’id tetap sedih.
“Apa pulakah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar.
“Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga
kita,” jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal
adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar bin Khattab untuk suaminya.
“Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa’id.
“Tentu…!” jawab istrinya bersemangat. Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu
disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.
Tidak berapa lama kemudian, Khalifah Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi
pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya beliau menyempatkan diri singgah di Himsh.
Kota Himsh pada masa itu rakyatnya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan
kelemahan-kelemahan gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucap selamat datang.
Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-saudara terhadap kebijakan
Gubernur Saudara-saudara?”
“Ada empat kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.
“Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil berdoa,
“Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka tatkala semua pihak, yaitu Gubernur dan masyarakat telah lengkap berada di hadapan
Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan Saudara-saudara tentang
kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”
“Pertama, Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.”
“Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat ini, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya
saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai
pembantu. Karena itu, tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu
untuk mereka. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani
masyarakat.”
“Apalagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
“Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
“Hal itu sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum
seperti ini,” kata Sa’id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani
masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub kepada Allah,” lanjut Sa’id.
“Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
“Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari dalam sebulan.”
“Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah.
“Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di
samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya
mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat
keluar melayani masyarakat,” ucap Sa’id.
“Nah, apalagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
“Keempat, sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu
biasanya beliau pergi meninggalkan majelis.”
“Silakan menanggapi, hai Sa’id!” kata Khalifah Umar.
“Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady
dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh
Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib “Sukakah
engkau Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”
Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan
anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri…”
“Demi Allah…!” kata Sa’id, “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikitpun, maka saya merasa, bahwa dosa saya
tidak akan diampuni Allah SWT.”
“Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengakhiri dialog
itu.
sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk
memenuhi kebutuhannya.
Melihat jumlah uang sebanyak itu, istrinya berkata kepada Sa’id, “Segala puji bagi Allah yang
telah mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk
membeli bahan pangan dan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang
pembantu rumah tangga.”
“Adakah usul yang lebih baik dari itu?” tanya Sa’id kepada istrinya.
“Apa pulakah yang lebih baik dari itu?” jawab istrinya balik bertanya.
“Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik
bagi kita” jawab Sa’id.
“Mengapa?” tanya istrinya.
“Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih
baik,” kata Sa’id.
“Baiklah kalau begitu,” kata istrinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling
baik.”
Sebelum mereka meninggalkan majelis, uang itu dimasukkan Sa’id ke dalam beberapa pundi,
lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya.
“Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim si Fulan. Ini kepada si
Fulan yang miskin…” dan seterusnya. Semoga Allah SWT meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dia telah membeli akhirat dengan
menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala
yang berlipat ganda di akhirat, lebih dari segala-galanya. Amiin.
[Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat terjemah Shuwarum Min Hayatis Shahabah]
SA'AD BIN ABI WAQASH
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan. (QS. Luqman : 14-15)
Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan;
menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan jatuh terbanting,
berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di
pihak yang baik dab beriman.
Tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah dari keturunan terhormat, dan dari ibu bapak
yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abi Waqash.
Tatkala cahaya kenabian memancar di kota Makkah, Sa’ad masih muda belia, penuh
perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai ibunya.
Walaupun Sa’ad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir
dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi
kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia mengarahkan perhatiannya untuk
bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang
menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan besar. Dia juga tidak puas dengan
kepercayaan/agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah
dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk mengubah
keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.
Sementara itu, Allah SWT menghendaki akan menaikkan harkat kemanusiaan yang telah
merosot, secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih itu, yaitu melalui
penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdullah. Dalam genggamannya memancar sinar
petunjuk ketuhanan yang tidak tercela, yaitu Kitabullah.
Sa’ad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk dan haq ini (agama Islam), sehingga
dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Bahkan dia sering berucap
dengan penuh kebanggaan: “Setelah aku renungkan selama seminggu, maka aku masuk
Islam sebagai orang ketiga.”
Rasulullah SAW sangat bersuka cita dengan Islamnya Sa’ad. Karena beliau melihat pada
pribadi Sa’ad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang menggembirakan.
Seandainya kini dia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo singkat dia akan menjadi bulan
purnama yang sempurna.
Keturunan dan status sosialnya yang mulia dan murni, melapangkan jalan baginya untuk
mengajak pemuda-pemuda Makkah mengikuti langkahnya masuk Islam seperti dia. Di
samping itu, sesungguhnya Sa’ad termasuk paman nabi SAW juga. Karena dia adalah
keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah SAW.
Rasulullah sangat membanggakan pamannya. Pernah diceritakan, pada suatu ketika beliau
sedang duduk-duduk bersama beberapa orang shahabat. Tiba-tiba beliau melihat Sa’ad bin
Abi Waqash datang. Lalu beliau berkata kepada para shahabat yang hadir, “Inilah pamanku.
Coba tunjukkan kepadaku, siapa yang punya teman seperti pamanku!”
Tetapi, Islamnya Sa’ad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan baginya.
Sebagai pemuda muslim, dia ditantang dengan berbagai tantangan, ujian, serta cobaancobaan
berat dan keras. Ketika cobaan-cobaan itu telah sampai di puncaknya, Allah SWT
menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. Marilah kita dengarkan kisahnya.
Kata Sa’ad bercerita: Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, seolah-olah aku
tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak
kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu.
aku melihat tiga orang telah lebih dahulu berada di hadapanku mengikuti bulan tersebut.
Mereka itu ialah Zaid bin Haritsh, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shidiq. Aku bertanya
kepada mereka: Sejak kapan Anda bertiga di sini? Belum lama, jawab mereka.
Setelah hari siang, aku mendapat kabar, Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada
Islam secara diam-diam. Yakinlah aku, sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi
diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya terang.
Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya pada suatu tempat ketika dia
sedang shalat Ashar. Aku menyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belum ada orang
mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga seperti yang terlihat dalam mimpiku.
Sa’ad melanjutkan kisahnya masuk Islam. Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia
marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku
dan berkata: “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan
agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! atau aku
mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan
karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selamalamanya.”
Jawabku: “Jangan lakukan itu, Bu! Tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku biar
bagaimanapun.”
Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum.
Sehingga tubuh dan tulang-belulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir,
aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak
sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan bersumpah akan tetap mogok
makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.
Aku berkata kepada ibu: “Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu
keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku
tidak meninggalkan agamaku karenanya.”
Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia
menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa.
Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik,”
Setelah Sa’ad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan
prestasi baik dan tinggi. Dalam perang Badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya
Umair. Ketika itu Umair masih muda remaja, belum lama mencapai usia baligh. Tatkala
Rasulullah SAW memerintahkan tentara muslimin berkumpul dan bersiap sebelum berangkat
perang, Umair bersembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau dia tidak diperbolehkan Rasulullah
turut berperang, karena usianya masih kecil. Tetapi Rasulullah tetap melihatnya, lalu tidak
memperbolehkannya ikut. Umair menangis, sehingga Rasulullah merasa kasihan, dan akhirnya membolehkan Umair turut berperang. Sa’ad mendatangi adiknya dengan gembira,
lalu mengikatkan pedang di bahu Umair, karena tubuhnya yang kecil. Kedua saudara itu pergi
berperang berjuang bersama fi sabilillah.
Seusai peperangan Sa’ad kembali ke Madinah seorang diri. Sedangkan adiknya, Umair
tinggal di bumi Badar sebagai syuhada’. Sa’ad merelakan adiknya ke pangkuan Allah SWT
dengan mengharap pahala dari-Nya.
Ketika tentara kaum muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di
medan tempur dengan kelompok kecil tentara kaum muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang.
satu diantaranya ialah Sa’ad bin Abi Waqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW
dengan panahnya. Tidak satupun anak panah yang dilepaskan Sa’ad dari busur melainkan
mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, tewas seketika.
Tatkala dilihat Rasulullah SAW Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya
semangat “Panahlah, hai Sa’ad! Panahlah…! Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu!”
Sa’ad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu. sehingga Sa’ad
pernah pula berkata, tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun,
mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekalipun sebagai tebusan, melainkan hanya
kepadaku.”
Namun puncak kejayaan Sa’ad, ialah ketika Khalifah Umar Al-Faruq bertekad menyerang
kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala
sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah Umar memerintahkan kepada setiap
Gubernur dalam wilayah kekuasaannya, supaya mengirim kepadanya setiap orang yang
mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap orang yang mempunyai keberanian, kekuatan
atau orang yang berpikiran tajam, yang mempunyai suatu keahlian seperi syair, berpidato dan
sebagainya, yang dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah
para pejuang muslim dari setiap pelosok. Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah Umar
merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan
dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. mereka sepakat
dengan aklamasi menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash, singa yang menyembunyikan kuku. Lalu
khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin kepadanya dengan resmi, dalam
pengangkatannya menjadi panglima.
Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah Umar berpidato
memberi amanat dan perintah harian kepada Sa’ad.
Katanya, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah dan
shahabat beliau. Sesunggunya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan.
Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada
hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan dengan mentaati-Nya.
Segenap manusia sama di sisi Allah, baik dia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah
Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang
karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah,
yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu.”
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya terdapat 99
orang alumni pahlawan perang badar, lebih kurang 319 orang para shahabat yang tergolong
dalam baiatur ridlwan, 300 orang pahlawan yang ikut dalam penaklukan Makkah bersamasama
Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra shahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya
(yang keseluruhan berjumlah 30.000 orang).
Sampai di Qadisiyah, Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Pada
hari itu sebagai hr yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, lalu maju ke
depan dari segala arah, sambil membaca takbir.
Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan tubuhnya
oleh lembing kaum muslimin. Maka merasuklah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuhmusuh
Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi para prajurit Persia dan
membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh dengan senjata musuh itu
sendiri.
Sa’ad bin Abi Waqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan.
Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai jubah usang. Katanya,
“Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang badar. Aku
ingin menemui Allah dengan jubah itu.”
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian
hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan. (QS. Luqman : 14-15)
Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan;
menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan jatuh terbanting,
berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di
pihak yang baik dab beriman.
Tokoh kisah ini adalah seorang pemuda Makkah dari keturunan terhormat, dan dari ibu bapak
yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abi Waqash.
Tatkala cahaya kenabian memancar di kota Makkah, Sa’ad masih muda belia, penuh
perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai ibunya.
Walaupun Sa’ad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir
dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi
kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia mengarahkan perhatiannya untuk
bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang
menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan besar. Dia juga tidak puas dengan
kepercayaan/agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah
dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk mengubah
keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.
Sementara itu, Allah SWT menghendaki akan menaikkan harkat kemanusiaan yang telah
merosot, secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih itu, yaitu melalui
penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdullah. Dalam genggamannya memancar sinar
petunjuk ketuhanan yang tidak tercela, yaitu Kitabullah.
Sa’ad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk dan haq ini (agama Islam), sehingga
dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Bahkan dia sering berucap
dengan penuh kebanggaan: “Setelah aku renungkan selama seminggu, maka aku masuk
Islam sebagai orang ketiga.”
Rasulullah SAW sangat bersuka cita dengan Islamnya Sa’ad. Karena beliau melihat pada
pribadi Sa’ad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang menggembirakan.
Seandainya kini dia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo singkat dia akan menjadi bulan
purnama yang sempurna.
Keturunan dan status sosialnya yang mulia dan murni, melapangkan jalan baginya untuk
mengajak pemuda-pemuda Makkah mengikuti langkahnya masuk Islam seperti dia. Di
samping itu, sesungguhnya Sa’ad termasuk paman nabi SAW juga. Karena dia adalah
keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah SAW.
Rasulullah sangat membanggakan pamannya. Pernah diceritakan, pada suatu ketika beliau
sedang duduk-duduk bersama beberapa orang shahabat. Tiba-tiba beliau melihat Sa’ad bin
Abi Waqash datang. Lalu beliau berkata kepada para shahabat yang hadir, “Inilah pamanku.
Coba tunjukkan kepadaku, siapa yang punya teman seperti pamanku!”
Tetapi, Islamnya Sa’ad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan baginya.
Sebagai pemuda muslim, dia ditantang dengan berbagai tantangan, ujian, serta cobaancobaan
berat dan keras. Ketika cobaan-cobaan itu telah sampai di puncaknya, Allah SWT
menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. Marilah kita dengarkan kisahnya.
Kata Sa’ad bercerita: Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, seolah-olah aku
tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak
kegelapan itu, tiba-tiba kulihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya, lalu kuikuti bulan itu.
aku melihat tiga orang telah lebih dahulu berada di hadapanku mengikuti bulan tersebut.
Mereka itu ialah Zaid bin Haritsh, Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar Ash-Shidiq. Aku bertanya
kepada mereka: Sejak kapan Anda bertiga di sini? Belum lama, jawab mereka.
Setelah hari siang, aku mendapat kabar, Rasulullah SAW mengajak orang-orang kepada
Islam secara diam-diam. Yakinlah aku, sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi
diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya terang.
Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya pada suatu tempat ketika dia
sedang shalat Ashar. Aku menyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belum ada orang
mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga seperti yang terlihat dalam mimpiku.
Sa’ad melanjutkan kisahnya masuk Islam. Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia
marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku
dan berkata: “Hai Sa’ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan
agama ibu bapakmu? Demi Allah! Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! atau aku
mogok makan minum sampai mati…! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan
karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selamalamanya.”
Jawabku: “Jangan lakukan itu, Bu! Tetapi aku tidak akan meninggalkan agamaku biar
bagaimanapun.”
Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum.
Sehingga tubuh dan tulang-belulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir,
aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak
sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan bersumpah akan tetap mogok
makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.
Aku berkata kepada ibu: “Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu
keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku
tidak meninggalkan agamaku karenanya.”
Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia
menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa.
Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah
keduanya di dunia dengan baik,”
Setelah Sa’ad masuk Islam, dia lantas berjasa terhadap Islam dan kaum muslimin dengan
prestasi baik dan tinggi. Dalam perang Badar, Sa’ad ikut berperang bersama-sama adiknya
Umair. Ketika itu Umair masih muda remaja, belum lama mencapai usia baligh. Tatkala
Rasulullah SAW memerintahkan tentara muslimin berkumpul dan bersiap sebelum berangkat
perang, Umair bersembunyi-sembunyi, takut kalau-kalau dia tidak diperbolehkan Rasulullah
turut berperang, karena usianya masih kecil. Tetapi Rasulullah tetap melihatnya, lalu tidak
memperbolehkannya ikut. Umair menangis, sehingga Rasulullah merasa kasihan, dan akhirnya membolehkan Umair turut berperang. Sa’ad mendatangi adiknya dengan gembira,
lalu mengikatkan pedang di bahu Umair, karena tubuhnya yang kecil. Kedua saudara itu pergi
berperang berjuang bersama fi sabilillah.
Seusai peperangan Sa’ad kembali ke Madinah seorang diri. Sedangkan adiknya, Umair
tinggal di bumi Badar sebagai syuhada’. Sa’ad merelakan adiknya ke pangkuan Allah SWT
dengan mengharap pahala dari-Nya.
Ketika tentara kaum muslimin lari kucar-kacir dalam perang Uhud, Rasulullah SAW tinggal di
medan tempur dengan kelompok kecil tentara kaum muslimin, tidak lebih dari sepuluh orang.
satu diantaranya ialah Sa’ad bin Abi Waqash. Sa’ad berdiri melindungi Rasulullah SAW
dengan panahnya. Tidak satupun anak panah yang dilepaskan Sa’ad dari busur melainkan
mengenai sasaran dengan jitu, dan orang musyrik yang terkena, tewas seketika.
Tatkala dilihat Rasulullah SAW Sa’ad seorang pemanah jitu, beliau berkata memberinya
semangat “Panahlah, hai Sa’ad! Panahlah…! Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu!”
Sa’ad sangat bangga sepanjang hidupnya dengan ucapan Rasulullah itu. sehingga Sa’ad
pernah pula berkata, tidak pernah Rasulullah berucap kepada seorang jua pun,
mempertaruhkan kedua ibu bapaknya sekalipun sebagai tebusan, melainkan hanya
kepadaku.”
Namun puncak kejayaan Sa’ad, ialah ketika Khalifah Umar Al-Faruq bertekad menyerang
kerajaan Persia, untuk menggulingkan pusat pemerintahannya, dan mencabut agama berhala
sampai ke akar-akarnya di permukaan bumi. Khalifah Umar memerintahkan kepada setiap
Gubernur dalam wilayah kekuasaannya, supaya mengirim kepadanya setiap orang yang
mempunyai senjata, atau kuda, atau setiap orang yang mempunyai keberanian, kekuatan
atau orang yang berpikiran tajam, yang mempunyai suatu keahlian seperi syair, berpidato dan
sebagainya, yang dapat membantu memenangkan perang. Maka tumpah ruahlah ke Madinah
para pejuang muslim dari setiap pelosok. Setelah semuanya selesai melapor, Khalifah Umar
merundingkan dengan para pemuka yang berwenang, siapa kiranya yang pantas dan
dipercaya untuk diangkat menjadi panglima angkatan perang yang besar itu. mereka sepakat
dengan aklamasi menunjuk Sa’ad bin Abi Waqash, singa yang menyembunyikan kuku. Lalu
khalifah menyerahkan panji-panji perang kaum muslimin kepadanya dengan resmi, dalam
pengangkatannya menjadi panglima.
Sewaktu angkatan perang yang besar itu hendak berangkat, Khalifah Umar berpidato
memberi amanat dan perintah harian kepada Sa’ad.
Katanya, “Hai Sa’ad! Janganlah engkau terpesona, sekalipun engkau paman Rasulullah dan
shahabat beliau. Sesunggunya Allah tidak menghapus suatu kejahatan dengan kejahatan.
Tetapi Allah menghapus kejahatan dengan kebaikan. Hai, Sa’ad! Sesungguhnya tidak ada
hubungan kekeluargaan antara Allah dengan seseorang melainkan dengan mentaati-Nya.
Segenap manusia sama di sisi Allah, baik dia bangsawan atau rakyat jelata. Allah adalah
Tuhan mereka dan mereka semuanya adalah hamba-hambaNya. Mereka berlebih berkurang
karena taqwa, dan memperoleh karunia dari Allah karena taat. Perhatikanlah cara Rasulullah,
yang engkau telah mengetahuinya, maka tetaplah ikuti cara beliau itu.”
Maka berangkatlah pasukan yang diberkati Allah itu menuju sasaran. Di dalamnya terdapat 99
orang alumni pahlawan perang badar, lebih kurang 319 orang para shahabat yang tergolong
dalam baiatur ridlwan, 300 orang pahlawan yang ikut dalam penaklukan Makkah bersamasama
Rasulullah SAW, 700 orang putra-putra shahabat, dan pejuang-pejuang muslim lainnya
(yang keseluruhan berjumlah 30.000 orang).
Sampai di Qadisiyah, Sa’ad menyiagakan seluruh pasukannya dan bertempur hebat. Pada
hari itu sebagai hr yang menentukan. Mereka mengepung musuh dengan ketat, lalu maju ke
depan dari segala arah, sambil membaca takbir.
Dalam pertempuran itu, kepala Rustam, panglima tentara Persia, berpisah dengan tubuhnya
oleh lembing kaum muslimin. Maka merasuklah rasa takut dan gentar ke dalam hati musuhmusuh
Allah. Sehingga dengan mudah kaum muslimin menghadapi para prajurit Persia dan
membunuh mereka. Bahkan kadang-kadang mereka membunuh dengan senjata musuh itu
sendiri.
Sa’ad bin Abi Waqash dikaruniai Allah usia lanjut. Dia dicukupi kekayaan yang lumayan.
Tetapi ketika wafat telah mendekatinya, dia hanya meminta sehelai jubah usang. Katanya,
“Kafani aku dengan jubah ini. Dia kudapatkan dari seorang musyrik dalam perang badar. Aku
ingin menemui Allah dengan jubah itu.”
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
MUSH'AB BIN UMAIR
Mushab bin Umair adalah satu diantara para shahabat Nabi SAW. Sungguh sangat indah jika
kita menghayati kisahnya.
Dia seorang remaja Quraisy paling menonjol, paling tampan, dan paling bersemangat. Para
penulis sejarah biasa menyebutnya sebagai “pemuda Makkah yang menjadi sanjungan
semua orang”.
Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan. Bisa jadi, tak seorangpun diantara anak
muda Makkah yang dimanjakan kedua orang tuanya seperti yang didapatkan Mushab bin
Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, selalu
dielu-elukan, dan bintang di setiap rapat dan pertemuan, akan berubah menjadi tokoh dalam
sebuah cerita keimanan dan perjuangan demi membela Islam…?
Sungguh satu kisah penuh pesona… Kisah perjalanan Mushab bin Umair atau kaum muslimin
biasa menyebutnya “Mushab Al-Khair (yang baik)”…
Dia adalah satu diantara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad
SAW. Seperti apakah dia…?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggan seluruh umat manusia.
Suatu hari, anak muda ini mendengar berita tentang Muhammad yang selama ini dikenal
jujur… Berita yang juga mulai didengar oleh warga Makkah… Muhammad yang selama ini
dikenal jujur itu (Al-Amin) menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan. Mengajak umat manusia beribadah kepada Allah
yang Maha Esa.
Perhatian warga Makkah terpusat pada berita ini. Tiada yang menjadi buah pembicaraan
mereka kecuali tentang Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Tak ketinggalan anak
muda yang manja ini. Dia terlihat sangat serius mendengarkan berita ini. Meskipun usianya
masih muda, ia menjadi bintang di setiap rapat dan pertemuan. Kehadirannya di setiap rapat
dan pertemuan selalu dinanti. Gayanya yang mempesona dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Mushab bin Umair yang mampu menyelesaikan banyak persoalan.
Diantara berita yang didengarkannya ialah Rasulullah bersama pengikutnya biasa berkumpul
di satu tempat yang jauh dari gangguan orang-orang Quraisy. Yaitu, di bukit Shafa, di rumah
Arqam bin Abul Arqam. Dia pun segera mengambil keputusan. Di suatu senja, dia bergegas
ke rumah Arqam bin Abul Arqam.
Di rumah itulah Rasulullah bertemu para shahabatnya, mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan
melaksanakan shalat.
Mushab masuk dan duduk di sudut ruangan. Dan, di sinilah perubahan akan dimulai. Ayatayat
Al-Qur’an mulai mengalir dari hati Rasulullah. Bergema melalui kedua bibir beliau.
Mengalir menembus telinga, merasuk ke dalam hati.
Mushab terlena, terpesona oleh kalimat-kalimat ityu. Dia terbuai, melayang entah ke mana.
Rasulullah mendekatinya, mengusap dada Mushab dengan penuh kasih sayang. Dada yang
sedang panas bergejolak itu akhirnya menjadi tenang dan damai, setenang samudra yang
dalam.
Setelah itu, hanya dalam waktu yang sangat singkat, pemuda yang telah masuk Islam ini
berubah menjadi pemuda yang arif bijaksana. Jauh melebihi usianya. Ditambah lagi dengan
semangat dan cita-citanya yang kuat. Semua itulah yang nantinya mampu mengubah
perjalanan sejarah.
Khunas binti Malik, ibunda Mushab adalah seorang wanita yang berkepribadian kuat. Ia
seorang wanita yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mushab masuk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakutinya selain ibunya sendiri.
Bahkan, seandainya seluruh Makkah termasuk berhala-berhala, para pembesar dan padang
pasirnya berubah menjadi satu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan
menghancurkannya, Mushab tidak akan bergeming sedikitpun. Akan tetapi, jika ibunya yang
menjadi penghalang, maka itulah rintangan yang sesungguhnya.
Mushab segera mengambil keputusan untuk merahasiakan keislamannya sampai Allah
memberikan keputusan yang terbaik.
Mushab selalu datang ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah. Dia merasa bahagia
dengan keislamannya. Bahkan, rela jika harus menerima kemarahan ibunya yang sampai
saat ini belum mengetahui keislamannya.
Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu.
mata-mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana. Mengintai setiap gerak dan langkah.
Seorang laki-laki bernama Usman bin Thalhah, di satu waktu, melihat Mushab memasuki
rumah Arqam dengan mengendap-endap. Lalu di waktu yang lain melihat Mushab melakukan
shalat seperti dilakukan Muhammad dan para shahabatnya.
Akhirnya, berita keislaman Mushab sampai juga ke telinga ibunya.
Saat ini, Mushab berdiridi hadapan ibu dan sanak kerabatnya, serta para pembesar Makkah.
Dengan hati mantap dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah membersihkan hati para
pengikutnya. Mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; juga kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba
tangan yang bergerak cepat itu jatuh terkulai, saat melihat cahaya yang bergerak cepat itu
jatuh terkulai, sat melihat cahaya yang membuat wajah yang berseri itu kian berwibawa dan
patut dipindahkan. Cahaya yang menimbulkan ketenangan dan rasa pasrah.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mushab tidak jadi memukul putranya. Dia memikirkan cara
lain untuk memberi pelajaran kepada putranya yang telah ingkar kepada tuhan-tuhan
sesembahannya. Akhirnya, Mushab disekap di satu kamar, dikunci rapat dari luar.
Untuk beberapa lama, Mushab terkurung dalam ruangan itu, hingga dia mendengar bahwa
beberapa shahabat Nabi SAW hijrah ke Habasyah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh
Mushab. Dengan sedikit strategi dia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil
lolos dari kurungan, lalu ikut hijrah ke Habasyah.
Dia tinggal bersama saudara-saudaranya sesama muhajirin. Lalu pulang ke Makkah.
Kemudian ia pergi lagi hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya bersama para shahabat atas
titah Rasulullah SAW.
Baik di Habasyah maupun di Makkah, keimanan Mushab semakin mantap. Dia menapaki pola
hidup baru yang diajarkan oleh teladannya, Muhammad SAW. Mushab sudah mantap kalau
sleuruh kehidupannya akan diberikan hanya untuk Sang Pencipta yang Maha Agung.
Pada suatu hari, dia menghampiri kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah
SAW. Melihat penampilan Mushab, mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang
menangis. Mereka melihat Mushab memakai jubah usang yang bertambal-tambal. Padahal,
masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilannya sebelum masuk Islam.
Pakaiannya ibarat bunga di taman, menebarkan aroma wewangian.
Adapun Rasulullah, beliau menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan
syukur dalam hati. Kedua bibirnya tersenyum bahagia dan bersabda.
“Dahulu tiada yang menandingi Mushab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya.
Lalu smua itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab kepada berhala
sesembahannya, dia menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mushab.
Bahkan, dia tidak mengizinkan makanannya dimakan orang yang telah mengingkari berhalaberhala
itu, meskipun orang itu adalah anak kandungnya sendiri.
Terakhir kali bertemu Mushab adalah saat hendak mencoba mengurungnya lagi, sewaktu
Mushab pulang dari Habasyah. Mushab pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk
membunuh orang-orang ibunya bila rencana itu dilakukan. Mengetahui tekad putranya yang
begitu kuat, maka sang ibu membatalkan niatnya. Keduanya berpisah dengan cucuran air
mata.
Perpisahan itu memperlihatkan kegigihan luar biasa dalam mempertahankan kekafiran, di
pihak sang ibi, dan kegiigihan yang juga luar biasa mempertahankan keimanan, di pihak si
anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah, “Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu
lagi.” Mushab menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai Ibu, aku sangat sayang kepada Ibu.
Karena itu, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya.”
Sang ibu menjawab dengan marah, “Demi bintang-gemintang, aku tidak akan masuk ke
dalam agama itu. Otakku bisa rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lain.”
Mushab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang pernah dialaminya, dan memilih
hidup miskin serta kekurangan. Pemuda ganteng dan parlente itu, kini hanya mengenakan
pakaian yang sangat kasar, sehari makan dan beberapa hari rela menahan lapar. Akan tetapi,
jiwanya yang telah dihiasi aqidah suci dan cahaya ilahi, mengubah dirinya menjadi seorang
manusia yang lain. Manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.
Sekarang, Mushab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas sangat penting: menjadi utusan
Rasulullah ke Madinah. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang
Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Juga untuk
mengajak orang lain menganut agama Islam, dan mempersiapkan kota Madinah untuk
menyambut hijrah Rasulullah ke kota itu.
Sebenarnya, di kalangan para shahabat saat itu masih banyak yang lebih tua, lebih
berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah SAW dari pada
Mushab. Tetapi, Rasulullah memilih Mushab al-Khair. Rasulullah sadar sepenuhnya bahwa
beliau telah memikulkan tugas sangat penting kepada pemuda itu. menyerahkan kepadanya
masa depan Islam di kota Madinah. Kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat
dakwah, tempat berhimpunnya penyebar dan pembela Islam.
Mushab memikul amanah itu dengan bekal kecerdasan dan akhlak mulia yang dikaruniakan
Allah kepadanya. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan keikhlasan, dia berhasil memikat hati
penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.
Saat Mushab memasuki Madinah, jumlah orang Islam hanya 12 orang. Yaitu, orang-orang
yang telah berbaiat di bukit Aqabah. Hanya dalam beberapa bulan, penduduk Makkah sudah
berbondong-bondong masuk Islam.
Pada musim haji berikutnya, kaum muslimin Madinah mengirim rombongan yang mewakili
mereka untuk menemui nabi. Mereka berjumlah 70 orang yang dipimpin oleh guru mereka,
oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mushab bin Umair.
Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mushab bin Umair telah membuktikan bahwa
Rasulullah SAW tidak salah memilih orang. Mushab benar-benar memahami tugasnya. Ia
tahu apa yang harus dilakukan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah mengajak manusia untuk
menyembah Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak
manusia mencapai hidayah Allah, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya
seperti tugas Rasulullah: hanya menyampaikan.
Di Madinah, Mushab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampingi
As’ad, ia mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk
membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Menyampaikan “bahwa hanya Allah Tuhan yang berhak
disembah” dengan sangat hati-hati.
Ia pernah menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan rekannya itu. tapi,
dengan kecerdasan dan kebesaran jiwanya, ia berhasil mengatasinya dengan sangat baik.
Suatu hari, ketika sedang berdakwah di tengah di tengah orang-orang suku Abdul Asyhal,
tiba-tiba Usaid bin Hudhair, sang kepala suku muncul dengan menghunus tombak. Usaid
muncul dengan kemarahan yang membuncah. Ada orang yang akan menyelewengkan
penduduknya dari keyakinan mereka. Mengajak mereka meninggalkan tuhan-tuhan mereka.
Mengajak meninggalkan tuhan-tuhan yang tempatnya jelas, bisa didatangi, dan bentuknya
kelihatan. Sedangkan Tuhan yang baru itu tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijumpai.
Tak ayal lagi, orang-orang Islam yang ada di tempat itu ketakutan. Akan tetapi, Mushab al-
Khair tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Seakan hendak menerkam, Usaid mendekati Mushab dan As’ad bin Zurarah. Dengan kasar ia
berkata, “Apa maksud kalian datang ke kabilah kami ini? Apakah hendak membodohi rakyat
kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini jika tidak ingin nyawa kalian melayang.”
Seperti tenang dan mantapnya samudra, laksana damainya cahaya fajar, terpancarlah
ketulusan hati Mushab al-kahir, dab bergeraklah bibirnya mengeluarkan kata-kata
menyejukkan, “Mengapa Anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti
Anda tertarik, Anda dapat menerimanya. Dan jika nanti Anda tidak suka, kami akan
menghentikan apa yang tidak Anda sukai.”
Allahu akbar! Sungguh awal yang baik, yang tentu berakhir dengan baik pula.
Usaid adalah orang yang bijak. Dan saat ini, ia diajak oleh Mushab u. berbicara dan meminta
pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Ia hanya diminta mendengar. Jika ia suka
dengan apa yang dikatakan Mushab, maka ia akan membiarkan Mushab berdakwah. Jika ia
tidak suka dengan ajaran Mushab, maka Mushab berjanji akan meninggalkan kabilah dan
masyarakatnya untuk mencari tempat dan masyarakat lain. Tidak ada yang dirugikan bukan?
“Baiklah,” kata Usaid. Lalu ia duduk dan meletakkan tombaknya.
Mushab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh
Muhammad SAW. Bacaan dan uraian Mushab mengalir ke telinga Usaid, memasuki dada dan
menerangi hati yang ada di dalamnya. Belum usai Mushab membaca dan memberikan uraian,
tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata, “Alangkah indah kata-kata ini. Tidak ada satu
kesalahan pun. Apa yang harus dilakukan orang yang mau masuk agama ini?”
Serentak gema tahlil keluar dari bibir kaum muslimin “Laa ilaaha illallah, Muhammadar
rasuulullah.” Tahlil bergema seakan ingin mengguncang dunia.
Mushab berkata, “Hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan
Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.”
Usaid meninggalkan mereka beberapa saat, kemudian kembali dan air masih menetes dari
rambutnya. Ia berdiri dan mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna
Muhammadan rasuulullah.”
Berita ini tersebar dengan sangat cepat, secepat cahaya.
Sa’ad bin Mu’adz juga mendatangi Mushab. Setelah mendengar uraian Mushab, ia pun
masuk Islam. Setelah itu Sa’ad bin Ubadah juga masuk Islam.
Masuk Islamnya tiga tokoh ini berarti pintu lebar bagi masuk Islamnya penduduk Madinah.
Mereka berkata, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah sudah
masuk Islam, apalagi yang kalian tunggu?! Mari kita menemui Mushab dan menyatakan
keislaman kita.” Kata orang, “kebenaran itu terpancar dari setiap kata-katanya.”
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada tara.
Suatu keberhasilan yang layak diperolehnya…
Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah.
Di pihak lain, orang-orang kafir Quraisy semakin geram. Mereka menyiapkan kekuatan u.
melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin. Maka, terjadilah perang badar dan
kaum kafir Quraisy pun mendapatkan pelajaran pahit yang membuat mereka semakin kalap
dan tidak waras. Mereka berusaha menebus kekalahan di Perang Badar itu. Kemudian tibalah
perang uhud. Rasulullah berdiri di tengah barisan kaum muslimin, menatap setiap wajah:
siapa yang sebaiknya membawa bendera pasukan? Ketika itu, terpilihlah Mushab al-Khair. Ia
maju dan membawa bendera pasukan dengan mantap.
Peperangan berkobar dan berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah kaum muslimin
melanggar perintah Rasulullah. Mereka meninggalkan posisi mereka di atas bukit setelah
melihat pasukan musuh lari terbirit-birit. Perbuatan mereka itu secepatnya mengubah
suasana. Kemenangan berganti kekalahan.
Tanpa diduga pasukan berkuda musuh menyerang pasukan kaum muslimin dari atas bukit.
Pasukan Islam pun kalang kabut.
Melihat barisan kaum muslimin porak-poranda, musuh pun mengarahkan serangan ke
Rasulullah SAW. Mushab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya
bendera pasukan setinggi-tingginya. Dengan suara kantang ia bertakbir, “Allaahu akbar”. Ia
maju, menerjang, berkelebat ke sana kemari mengibaskan pedangnya. Ia ingin mengalihkan
serangan musuh yang sedang tertuju kepada Rasulullah SAW. Ia menyerang sendiri, namun
terlihat seperti satu pasukan tentara.
Sungguh, walaupun hanya seorang diri, Mushab bertempur laksana sepasukan tentara. Satu
tangannya memegang bendera pasukan yang harus terus berkibar, dan tangan satunya lagi
menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Jumlah musuh yang dihadapinya Mushab
semakin banyak. Mereka semua ingin menginjak-injak mayatnya untuk mencapai Rasulullah.
Marilah kita dengarkan apa yang diceritakan oleh saksi mata. Bagaimana saat-saat terakhir
sebelum Mushab bin Umair gugur sebagai syahid.
Ibnu Sa’d menyebutkan bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil berkata, “Ayahku
pernah bercerita begini, ‘Mushab bin Umair adalah pembawa bendera pasukan di Perang
Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin porak-poranda, Mushab tetap gigih berperang. Seorang
tentara berkuda musuh, Ibnu Qamiah menyerangnya dan berhasil menebas tangan kanannya
hingga putus. Mushab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul,
yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”
Lalu, bendera itu ia ambil dengan tangan kirinya dan ia kibarkan. Musuh pun menebas tangan
kirinya hingga putus. Mushab membungkuk ke arah bendera pasukan, lalu dengan kedua
pangkal tangannya ia mendekap dan mengibarkan bendera itu, sambil mengucapkan,
“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh
para Rasul.”
Orang berkuda itu menyerangnya lagi dengan tombak, menghunjamkannya ke dada Msuh’ab.
Mushab pun gugur, dan bendera pun jatuh’.”
Gugurlah Mushab dan jatuhlah bendera. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para
syuhada. Ia gugur setelah berjuang dengan gigih. Mengorbankan semua yang dimilikinya
demi keimanan dan keyakinannya.
Ia merasa, jika ia gugur, akan sangat terbuka peluang untuk membunuh Rasulullah. Demi
cintanya kepada Rasulullah yang tiada terbatas, dan kekhawatiran akan nasib Rasulullah, ia
menghibur dirinya setiap kali pedang menebas tangannya, “Muhammad itu tiada lain hanyalah
seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”
Kata-kata ini terus ia ulangi. Kata-kata yang kemudian hari menjadi bagian dari ayat Al-
Qur’an. Al-Qur’an yang akan senantiasa dibaca oleh kaum muslimin.
Setelah pertempuran usai, jasad pahlawan gagah berani ini ditemukan terbaring dengan
wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang suci. Seolah-olah tubuh yang telah
kaku itu takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa musibah. Karena itu, ia menyembunyikan
wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang ditakutinya itu. Atau, ia merasa malu karena telah
gugur sebelum bisa memastikan keselamatan Rasulullah dan sebelum ia selesai menunaikan
tugasnya dalam membela dan melindungi Rasulullah.
Wahai Mushab cukuplah bagimu Sang Penyayang. Namamu akan selalu dikenang.
Rasulullah bersama para shahabat mengitari setiap sudut medan pertempuran untuk
menyampaikan salam perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat
terbaringnya Mushab, bercucurlah air mata beliau dengan deras.
Khabbab bin Arat menceritakan, “Bersama Rasulullah, kami hijrah di jalan Allah, untuk
mengharap ridha-Nya. Pasti kita mendapat ganjaran di sisi Allah. Diantara kami ada yang
lebih dulu meninggal dunia, dan belum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun. Mushab
bin Umair adalah satu dari mereka. Ia gugur di perang Uhud. Tidak ada yang bisa dipakai
untuk mengkafaninya kecuali sehelai kain. Jika ditutupkan mulai dari kepalanya, kedua
kakinya kelihatan. Jika ditutupkan mulai dari kakinya, kepalanya kelihatan. Maka, Rasulullah
bersabda, ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkhir.”
Betapa pun luka pedih dan duka mendalam menimpa Rasulullah karena Hamzah (paman
beliau) gugur dan tubuhnya dirusak oleh orang musyrik, hingga bercucuran air mata beliau.
Betapa pun penuhnya medan perang dengan jenazah kaum muslimin, di mana mereka
semua adalah panji-panji ketulusan, kesucian, dan cahaya. Betapapun semua itu
menggoreskan luka mendalam di hati Rasulullah, tapi beliau menyempatkan berhenti sejenak
dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas kepergiannya dan mengeluarkan isi
hatinya. Rasulullah berdiri memandangi jasad Mushab bin Umair dengan penuh kasih sayang
dan cahaya kesetiaan. Beliau membaca firman Allah,
“Diantara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka
kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab : 23)
ada kesedihan di mata beliau ketika melihat kain yang dipergunakan mengkafani Mushab.
Beliau bersabda, “Ketika di Makkah dulu, tak seorangpun yang lebih halus pakaiannya dan
lebih rapi rambutnya dari pada kamu. Tetapi sekarang ini, rambutmu kusut, hanya dibalut
sehelai burdah.”
Dengan kesayuan, Rasulullah melayangkan pandangan ke semua susut medan perang dan
ke arah para syuhada: kawan-kawan Mushab yang terbaring di sana. Lalu beliau bersabda,
“Sungguh, pada hari Kiamat kelak, di hadapan Allah, Rasulullah akan menjadi saksi bahwa
kalian adalah para syuhada.”
Setelah itu, beliau memandang para shahabat yang masih hidup, dan bersabda, “Hai kalian
semua, kunjungilah mereka, dan ucapkanlah salam. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-
Nya, tak seorang muslim pun, sampai hari Kiamat kelak, yang mengucap salam kepada
mereka, kecuali mereka akan membalas salam itu.”
Kami ucapkan salam untukmu, wahai Mushab.
[sumber: 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
kita menghayati kisahnya.
Dia seorang remaja Quraisy paling menonjol, paling tampan, dan paling bersemangat. Para
penulis sejarah biasa menyebutnya sebagai “pemuda Makkah yang menjadi sanjungan
semua orang”.
Dia lahir dan dibesarkan dalam limpahan kenikmatan. Bisa jadi, tak seorangpun diantara anak
muda Makkah yang dimanjakan kedua orang tuanya seperti yang didapatkan Mushab bin
Umair.
Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, selalu
dielu-elukan, dan bintang di setiap rapat dan pertemuan, akan berubah menjadi tokoh dalam
sebuah cerita keimanan dan perjuangan demi membela Islam…?
Sungguh satu kisah penuh pesona… Kisah perjalanan Mushab bin Umair atau kaum muslimin
biasa menyebutnya “Mushab Al-Khair (yang baik)”…
Dia adalah satu diantara orang-orang yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad
SAW. Seperti apakah dia…?
Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggan seluruh umat manusia.
Suatu hari, anak muda ini mendengar berita tentang Muhammad yang selama ini dikenal
jujur… Berita yang juga mulai didengar oleh warga Makkah… Muhammad yang selama ini
dikenal jujur itu (Al-Amin) menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa
berita gembira dan pemberi peringatan. Mengajak umat manusia beribadah kepada Allah
yang Maha Esa.
Perhatian warga Makkah terpusat pada berita ini. Tiada yang menjadi buah pembicaraan
mereka kecuali tentang Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya. Tak ketinggalan anak
muda yang manja ini. Dia terlihat sangat serius mendengarkan berita ini. Meskipun usianya
masih muda, ia menjadi bintang di setiap rapat dan pertemuan. Kehadirannya di setiap rapat
dan pertemuan selalu dinanti. Gayanya yang mempesona dan otaknya yang cerdas merupakan keistimewaan Mushab bin Umair yang mampu menyelesaikan banyak persoalan.
Diantara berita yang didengarkannya ialah Rasulullah bersama pengikutnya biasa berkumpul
di satu tempat yang jauh dari gangguan orang-orang Quraisy. Yaitu, di bukit Shafa, di rumah
Arqam bin Abul Arqam. Dia pun segera mengambil keputusan. Di suatu senja, dia bergegas
ke rumah Arqam bin Abul Arqam.
Di rumah itulah Rasulullah bertemu para shahabatnya, mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan
melaksanakan shalat.
Mushab masuk dan duduk di sudut ruangan. Dan, di sinilah perubahan akan dimulai. Ayatayat
Al-Qur’an mulai mengalir dari hati Rasulullah. Bergema melalui kedua bibir beliau.
Mengalir menembus telinga, merasuk ke dalam hati.
Mushab terlena, terpesona oleh kalimat-kalimat ityu. Dia terbuai, melayang entah ke mana.
Rasulullah mendekatinya, mengusap dada Mushab dengan penuh kasih sayang. Dada yang
sedang panas bergejolak itu akhirnya menjadi tenang dan damai, setenang samudra yang
dalam.
Setelah itu, hanya dalam waktu yang sangat singkat, pemuda yang telah masuk Islam ini
berubah menjadi pemuda yang arif bijaksana. Jauh melebihi usianya. Ditambah lagi dengan
semangat dan cita-citanya yang kuat. Semua itulah yang nantinya mampu mengubah
perjalanan sejarah.
Khunas binti Malik, ibunda Mushab adalah seorang wanita yang berkepribadian kuat. Ia
seorang wanita yang disegani bahkan ditakuti.
Ketika Mushab masuk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakutinya selain ibunya sendiri.
Bahkan, seandainya seluruh Makkah termasuk berhala-berhala, para pembesar dan padang
pasirnya berubah menjadi satu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan
menghancurkannya, Mushab tidak akan bergeming sedikitpun. Akan tetapi, jika ibunya yang
menjadi penghalang, maka itulah rintangan yang sesungguhnya.
Mushab segera mengambil keputusan untuk merahasiakan keislamannya sampai Allah
memberikan keputusan yang terbaik.
Mushab selalu datang ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah. Dia merasa bahagia
dengan keislamannya. Bahkan, rela jika harus menerima kemarahan ibunya yang sampai
saat ini belum mengetahui keislamannya.
Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu.
mata-mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana. Mengintai setiap gerak dan langkah.
Seorang laki-laki bernama Usman bin Thalhah, di satu waktu, melihat Mushab memasuki
rumah Arqam dengan mengendap-endap. Lalu di waktu yang lain melihat Mushab melakukan
shalat seperti dilakukan Muhammad dan para shahabatnya.
Akhirnya, berita keislaman Mushab sampai juga ke telinga ibunya.
Saat ini, Mushab berdiridi hadapan ibu dan sanak kerabatnya, serta para pembesar Makkah.
Dengan hati mantap dia membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang telah membersihkan hati para
pengikutnya. Mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan; juga kejujuran dan ketaqwaan.
Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba
tangan yang bergerak cepat itu jatuh terkulai, saat melihat cahaya yang bergerak cepat itu
jatuh terkulai, sat melihat cahaya yang membuat wajah yang berseri itu kian berwibawa dan
patut dipindahkan. Cahaya yang menimbulkan ketenangan dan rasa pasrah.
Karena rasa keibuannya, ibunda Mushab tidak jadi memukul putranya. Dia memikirkan cara
lain untuk memberi pelajaran kepada putranya yang telah ingkar kepada tuhan-tuhan
sesembahannya. Akhirnya, Mushab disekap di satu kamar, dikunci rapat dari luar.
Untuk beberapa lama, Mushab terkurung dalam ruangan itu, hingga dia mendengar bahwa
beberapa shahabat Nabi SAW hijrah ke Habasyah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh
Mushab. Dengan sedikit strategi dia berhasil mengecoh ibu dan para penjaganya. Ia berhasil
lolos dari kurungan, lalu ikut hijrah ke Habasyah.
Dia tinggal bersama saudara-saudaranya sesama muhajirin. Lalu pulang ke Makkah.
Kemudian ia pergi lagi hijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya bersama para shahabat atas
titah Rasulullah SAW.
Baik di Habasyah maupun di Makkah, keimanan Mushab semakin mantap. Dia menapaki pola
hidup baru yang diajarkan oleh teladannya, Muhammad SAW. Mushab sudah mantap kalau
sleuruh kehidupannya akan diberikan hanya untuk Sang Pencipta yang Maha Agung.
Pada suatu hari, dia menghampiri kaum muslimin yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah
SAW. Melihat penampilan Mushab, mereka menundukkan pandangan, bahkan ada yang
menangis. Mereka melihat Mushab memakai jubah usang yang bertambal-tambal. Padahal,
masih segar dalam ingatan mereka bagaimana penampilannya sebelum masuk Islam.
Pakaiannya ibarat bunga di taman, menebarkan aroma wewangian.
Adapun Rasulullah, beliau menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan
syukur dalam hati. Kedua bibirnya tersenyum bahagia dan bersabda.
“Dahulu tiada yang menandingi Mushab dalam mendapatkan kesenangan dari orang tuanya.
Lalu smua itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mushab kepada berhala
sesembahannya, dia menghentikan segala pemberian yang biasa diberikan kepada Mushab.
Bahkan, dia tidak mengizinkan makanannya dimakan orang yang telah mengingkari berhalaberhala
itu, meskipun orang itu adalah anak kandungnya sendiri.
Terakhir kali bertemu Mushab adalah saat hendak mencoba mengurungnya lagi, sewaktu
Mushab pulang dari Habasyah. Mushab pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk
membunuh orang-orang ibunya bila rencana itu dilakukan. Mengetahui tekad putranya yang
begitu kuat, maka sang ibu membatalkan niatnya. Keduanya berpisah dengan cucuran air
mata.
Perpisahan itu memperlihatkan kegigihan luar biasa dalam mempertahankan kekafiran, di
pihak sang ibi, dan kegiigihan yang juga luar biasa mempertahankan keimanan, di pihak si
anak. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah, “Pergilah sesuka hatimu. Aku bukan ibumu
lagi.” Mushab menghampiri ibunya dan berkata, “Wahai Ibu, aku sangat sayang kepada Ibu.
Karena itu, bersaksilah bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya.”
Sang ibu menjawab dengan marah, “Demi bintang-gemintang, aku tidak akan masuk ke
dalam agama itu. Otakku bisa rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang lain.”
Mushab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang pernah dialaminya, dan memilih
hidup miskin serta kekurangan. Pemuda ganteng dan parlente itu, kini hanya mengenakan
pakaian yang sangat kasar, sehari makan dan beberapa hari rela menahan lapar. Akan tetapi,
jiwanya yang telah dihiasi aqidah suci dan cahaya ilahi, mengubah dirinya menjadi seorang
manusia yang lain. Manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.
Sekarang, Mushab dipilih Rasulullah untuk melakukan tugas sangat penting: menjadi utusan
Rasulullah ke Madinah. Tugasnya adalah mengajarkan agama Islam kepada orang-orang
Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Juga untuk
mengajak orang lain menganut agama Islam, dan mempersiapkan kota Madinah untuk
menyambut hijrah Rasulullah ke kota itu.
Sebenarnya, di kalangan para shahabat saat itu masih banyak yang lebih tua, lebih
berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah SAW dari pada
Mushab. Tetapi, Rasulullah memilih Mushab al-Khair. Rasulullah sadar sepenuhnya bahwa
beliau telah memikulkan tugas sangat penting kepada pemuda itu. menyerahkan kepadanya
masa depan Islam di kota Madinah. Kota yang tak lama lagi akan menjadi kota hijrah, pusat
dakwah, tempat berhimpunnya penyebar dan pembela Islam.
Mushab memikul amanah itu dengan bekal kecerdasan dan akhlak mulia yang dikaruniakan
Allah kepadanya. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan keikhlasan, dia berhasil memikat hati
penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam.
Saat Mushab memasuki Madinah, jumlah orang Islam hanya 12 orang. Yaitu, orang-orang
yang telah berbaiat di bukit Aqabah. Hanya dalam beberapa bulan, penduduk Makkah sudah
berbondong-bondong masuk Islam.
Pada musim haji berikutnya, kaum muslimin Madinah mengirim rombongan yang mewakili
mereka untuk menemui nabi. Mereka berjumlah 70 orang yang dipimpin oleh guru mereka,
oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mushab bin Umair.
Dengan tindakannya yang tepat dan bijaksana, Mushab bin Umair telah membuktikan bahwa
Rasulullah SAW tidak salah memilih orang. Mushab benar-benar memahami tugasnya. Ia
tahu apa yang harus dilakukan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah mengajak manusia untuk
menyembah Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak
manusia mencapai hidayah Allah, dan membimbing mereka ke jalan yang lurus. Tugasnya
seperti tugas Rasulullah: hanya menyampaikan.
Di Madinah, Mushab tinggal sebagai tamu di rumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampingi
As’ad, ia mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk
membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Menyampaikan “bahwa hanya Allah Tuhan yang berhak
disembah” dengan sangat hati-hati.
Ia pernah menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan diri dan rekannya itu. tapi,
dengan kecerdasan dan kebesaran jiwanya, ia berhasil mengatasinya dengan sangat baik.
Suatu hari, ketika sedang berdakwah di tengah di tengah orang-orang suku Abdul Asyhal,
tiba-tiba Usaid bin Hudhair, sang kepala suku muncul dengan menghunus tombak. Usaid
muncul dengan kemarahan yang membuncah. Ada orang yang akan menyelewengkan
penduduknya dari keyakinan mereka. Mengajak mereka meninggalkan tuhan-tuhan mereka.
Mengajak meninggalkan tuhan-tuhan yang tempatnya jelas, bisa didatangi, dan bentuknya
kelihatan. Sedangkan Tuhan yang baru itu tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijumpai.
Tak ayal lagi, orang-orang Islam yang ada di tempat itu ketakutan. Akan tetapi, Mushab al-
Khair tetap tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Seakan hendak menerkam, Usaid mendekati Mushab dan As’ad bin Zurarah. Dengan kasar ia
berkata, “Apa maksud kalian datang ke kabilah kami ini? Apakah hendak membodohi rakyat
kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini jika tidak ingin nyawa kalian melayang.”
Seperti tenang dan mantapnya samudra, laksana damainya cahaya fajar, terpancarlah
ketulusan hati Mushab al-kahir, dab bergeraklah bibirnya mengeluarkan kata-kata
menyejukkan, “Mengapa Anda tidak duduk dan mendengarkan terlebih dahulu? Jika nanti
Anda tertarik, Anda dapat menerimanya. Dan jika nanti Anda tidak suka, kami akan
menghentikan apa yang tidak Anda sukai.”
Allahu akbar! Sungguh awal yang baik, yang tentu berakhir dengan baik pula.
Usaid adalah orang yang bijak. Dan saat ini, ia diajak oleh Mushab u. berbicara dan meminta
pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Ia hanya diminta mendengar. Jika ia suka
dengan apa yang dikatakan Mushab, maka ia akan membiarkan Mushab berdakwah. Jika ia
tidak suka dengan ajaran Mushab, maka Mushab berjanji akan meninggalkan kabilah dan
masyarakatnya untuk mencari tempat dan masyarakat lain. Tidak ada yang dirugikan bukan?
“Baiklah,” kata Usaid. Lalu ia duduk dan meletakkan tombaknya.
Mushab mulai membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh
Muhammad SAW. Bacaan dan uraian Mushab mengalir ke telinga Usaid, memasuki dada dan
menerangi hati yang ada di dalamnya. Belum usai Mushab membaca dan memberikan uraian,
tiba-tiba bibir Usaid bergetar dan berkata, “Alangkah indah kata-kata ini. Tidak ada satu
kesalahan pun. Apa yang harus dilakukan orang yang mau masuk agama ini?”
Serentak gema tahlil keluar dari bibir kaum muslimin “Laa ilaaha illallah, Muhammadar
rasuulullah.” Tahlil bergema seakan ingin mengguncang dunia.
Mushab berkata, “Hendaklah ia membersihkan pakaian dan badannya, lalu mengucapkan
Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.”
Usaid meninggalkan mereka beberapa saat, kemudian kembali dan air masih menetes dari
rambutnya. Ia berdiri dan mengucapkan “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna
Muhammadan rasuulullah.”
Berita ini tersebar dengan sangat cepat, secepat cahaya.
Sa’ad bin Mu’adz juga mendatangi Mushab. Setelah mendengar uraian Mushab, ia pun
masuk Islam. Setelah itu Sa’ad bin Ubadah juga masuk Islam.
Masuk Islamnya tiga tokoh ini berarti pintu lebar bagi masuk Islamnya penduduk Madinah.
Mereka berkata, “Jika Usaid bin Hudhair, Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah sudah
masuk Islam, apalagi yang kalian tunggu?! Mari kita menemui Mushab dan menyatakan
keislaman kita.” Kata orang, “kebenaran itu terpancar dari setiap kata-katanya.”
Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada tara.
Suatu keberhasilan yang layak diperolehnya…
Beberapa tahun kemudian, Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah.
Di pihak lain, orang-orang kafir Quraisy semakin geram. Mereka menyiapkan kekuatan u.
melampiaskan dendam mereka terhadap kaum muslimin. Maka, terjadilah perang badar dan
kaum kafir Quraisy pun mendapatkan pelajaran pahit yang membuat mereka semakin kalap
dan tidak waras. Mereka berusaha menebus kekalahan di Perang Badar itu. Kemudian tibalah
perang uhud. Rasulullah berdiri di tengah barisan kaum muslimin, menatap setiap wajah:
siapa yang sebaiknya membawa bendera pasukan? Ketika itu, terpilihlah Mushab al-Khair. Ia
maju dan membawa bendera pasukan dengan mantap.
Peperangan berkobar dan berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah kaum muslimin
melanggar perintah Rasulullah. Mereka meninggalkan posisi mereka di atas bukit setelah
melihat pasukan musuh lari terbirit-birit. Perbuatan mereka itu secepatnya mengubah
suasana. Kemenangan berganti kekalahan.
Tanpa diduga pasukan berkuda musuh menyerang pasukan kaum muslimin dari atas bukit.
Pasukan Islam pun kalang kabut.
Melihat barisan kaum muslimin porak-poranda, musuh pun mengarahkan serangan ke
Rasulullah SAW. Mushab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya
bendera pasukan setinggi-tingginya. Dengan suara kantang ia bertakbir, “Allaahu akbar”. Ia
maju, menerjang, berkelebat ke sana kemari mengibaskan pedangnya. Ia ingin mengalihkan
serangan musuh yang sedang tertuju kepada Rasulullah SAW. Ia menyerang sendiri, namun
terlihat seperti satu pasukan tentara.
Sungguh, walaupun hanya seorang diri, Mushab bertempur laksana sepasukan tentara. Satu
tangannya memegang bendera pasukan yang harus terus berkibar, dan tangan satunya lagi
menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Jumlah musuh yang dihadapinya Mushab
semakin banyak. Mereka semua ingin menginjak-injak mayatnya untuk mencapai Rasulullah.
Marilah kita dengarkan apa yang diceritakan oleh saksi mata. Bagaimana saat-saat terakhir
sebelum Mushab bin Umair gugur sebagai syahid.
Ibnu Sa’d menyebutkan bahwa Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil berkata, “Ayahku
pernah bercerita begini, ‘Mushab bin Umair adalah pembawa bendera pasukan di Perang
Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin porak-poranda, Mushab tetap gigih berperang. Seorang
tentara berkuda musuh, Ibnu Qamiah menyerangnya dan berhasil menebas tangan kanannya
hingga putus. Mushab mengucapkan, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul,
yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”
Lalu, bendera itu ia ambil dengan tangan kirinya dan ia kibarkan. Musuh pun menebas tangan
kirinya hingga putus. Mushab membungkuk ke arah bendera pasukan, lalu dengan kedua
pangkal tangannya ia mendekap dan mengibarkan bendera itu, sambil mengucapkan,
“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh
para Rasul.”
Orang berkuda itu menyerangnya lagi dengan tombak, menghunjamkannya ke dada Msuh’ab.
Mushab pun gugur, dan bendera pun jatuh’.”
Gugurlah Mushab dan jatuhlah bendera. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para
syuhada. Ia gugur setelah berjuang dengan gigih. Mengorbankan semua yang dimilikinya
demi keimanan dan keyakinannya.
Ia merasa, jika ia gugur, akan sangat terbuka peluang untuk membunuh Rasulullah. Demi
cintanya kepada Rasulullah yang tiada terbatas, dan kekhawatiran akan nasib Rasulullah, ia
menghibur dirinya setiap kali pedang menebas tangannya, “Muhammad itu tiada lain hanyalah
seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh para Rasul.”
Kata-kata ini terus ia ulangi. Kata-kata yang kemudian hari menjadi bagian dari ayat Al-
Qur’an. Al-Qur’an yang akan senantiasa dibaca oleh kaum muslimin.
Setelah pertempuran usai, jasad pahlawan gagah berani ini ditemukan terbaring dengan
wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang suci. Seolah-olah tubuh yang telah
kaku itu takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa musibah. Karena itu, ia menyembunyikan
wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang ditakutinya itu. Atau, ia merasa malu karena telah
gugur sebelum bisa memastikan keselamatan Rasulullah dan sebelum ia selesai menunaikan
tugasnya dalam membela dan melindungi Rasulullah.
Wahai Mushab cukuplah bagimu Sang Penyayang. Namamu akan selalu dikenang.
Rasulullah bersama para shahabat mengitari setiap sudut medan pertempuran untuk
menyampaikan salam perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat
terbaringnya Mushab, bercucurlah air mata beliau dengan deras.
Khabbab bin Arat menceritakan, “Bersama Rasulullah, kami hijrah di jalan Allah, untuk
mengharap ridha-Nya. Pasti kita mendapat ganjaran di sisi Allah. Diantara kami ada yang
lebih dulu meninggal dunia, dan belum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun. Mushab
bin Umair adalah satu dari mereka. Ia gugur di perang Uhud. Tidak ada yang bisa dipakai
untuk mengkafaninya kecuali sehelai kain. Jika ditutupkan mulai dari kepalanya, kedua
kakinya kelihatan. Jika ditutupkan mulai dari kakinya, kepalanya kelihatan. Maka, Rasulullah
bersabda, ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan tutupilah kakinya dengan rumput idzkhir.”
Betapa pun luka pedih dan duka mendalam menimpa Rasulullah karena Hamzah (paman
beliau) gugur dan tubuhnya dirusak oleh orang musyrik, hingga bercucuran air mata beliau.
Betapa pun penuhnya medan perang dengan jenazah kaum muslimin, di mana mereka
semua adalah panji-panji ketulusan, kesucian, dan cahaya. Betapapun semua itu
menggoreskan luka mendalam di hati Rasulullah, tapi beliau menyempatkan berhenti sejenak
dekat jasad dutanya yang pertama, untuk melepas kepergiannya dan mengeluarkan isi
hatinya. Rasulullah berdiri memandangi jasad Mushab bin Umair dengan penuh kasih sayang
dan cahaya kesetiaan. Beliau membaca firman Allah,
“Diantara orang-orang mukmin terdapat orang-orang yang telah menepati janji mereka
kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab : 23)
ada kesedihan di mata beliau ketika melihat kain yang dipergunakan mengkafani Mushab.
Beliau bersabda, “Ketika di Makkah dulu, tak seorangpun yang lebih halus pakaiannya dan
lebih rapi rambutnya dari pada kamu. Tetapi sekarang ini, rambutmu kusut, hanya dibalut
sehelai burdah.”
Dengan kesayuan, Rasulullah melayangkan pandangan ke semua susut medan perang dan
ke arah para syuhada: kawan-kawan Mushab yang terbaring di sana. Lalu beliau bersabda,
“Sungguh, pada hari Kiamat kelak, di hadapan Allah, Rasulullah akan menjadi saksi bahwa
kalian adalah para syuhada.”
Setelah itu, beliau memandang para shahabat yang masih hidup, dan bersabda, “Hai kalian
semua, kunjungilah mereka, dan ucapkanlah salam. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-
Nya, tak seorang muslim pun, sampai hari Kiamat kelak, yang mengucap salam kepada
mereka, kecuali mereka akan membalas salam itu.”
Kami ucapkan salam untukmu, wahai Mushab.
[sumber: 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW]
HUDZAIFAH IBNUL YAMAN
“Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan jika ingin
digolongkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau
sukai.”
Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah SAW kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika dia
pertama kali bertemu muka dengan beliau di Makkah. Mengenai pilihan itu, apakah dia
tergolong Muhajirin atau Anshar, yaitu dua golongan yang dicintai kaum muslimin, mempunyai
kisah tersendiri bagi Hudzaifah.
Al-Yaman, ayah Hudzaifah, adalah orang Makkah dari Bani Abbas. Oleh karena suatu hutang
darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia
minta perlindungan pada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi
keluarga dalam persukuan Bani Abd Asyhal. Kemudian dia menikah dengan anak perempuan
suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan
yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Makkah. Sejak saat itu dia bebas pulang
pergi antara Makkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di
Makkah.
Ketika Islam memancarkan cahayanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah
seorang dari sepuluh orang Bani Abbas untuk menemui Rasulullah SAW dan menyatakan
Islam di hadapan beliau. Segala peristiwa yang kita sebutkan itu terjadi sebelum hijrah
Rasulullah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu
menurut garis keturunan bapak (patriarchal), maka Hudzaifah adalah orang Makkah yang lahir
dan dibesarkan di Madinah.
Hudzaifah ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam
pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan
pertama. Karena itu Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah
SAW.
Kemudian Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah SAW memenuhi setiap rongga
hatinya. Sejak masuk Islam, dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan nyinyir bertanya
tentang kepribadian dan ciri-ciri beliau. Bila hal itu dijelaskan orang kepadanya, makin
bertambah cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah.
Pada suatu hari dia berangkat ke Makkah sengaja hendak menemui Rasulullah. Setelah
bertemu, Hudzaifah bertanya kepada beliau, “Apakah saya ini seorang muhajir atau Anshar,
ya Rasulullah?”
Jawab Rasulullah, “Jika engkau ingin disebut muhajir, engkau memang seorang muhajir; dan
jika engkau ingin disebut Anshar, engkau memang orang Anshar. Pilihlah mana yang engkau
sukai.”
Jawab Hudzaifah, “Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!.”
Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan
seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya,
kecuali dalam perang Badar. Mengapa dia tidak turut dalam perang Badar? Soal ini pernah
diceritakan oleh Hudzaifah.
Katanya: Yang menghalangiku untuk turut berperang dalam peperangan Badar karena ketika
itu aku dan bapakku sedang pergi ke luar kota Madinah. Dalam perjalanan pulang, kami
ditangkap oleh kaum kafir Quraisy. Tanya mereka, “Hendak ke mana kalian?”
Jawab kami, “Ke Madinah!”
Tanya mereka, “Kalian hendak menemui Muhammad?”
Jawab kami, “Kami hendak pulang ke rumah kami, di Madinah!”
Mereka tidak bersedia membebaskan kami kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan
membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah kami
dibebaskannya.
Setelah bertemu dengan Rasulullah, kami ceritakan kepada beliau peristiwa tertangkapnya
kami oleh kaum kafir Quraisy dan perjanjian dengan mereka. Lalu kami tanyakan kepada
beliau, apa yang harus kami lakukan.
Jawab Rasulullah, “Batalkan perjanjian itu, dan mari kita mohon pertolongan Allah untuk
mengalahkan mereka!”
Dalam peperangan Uhud, Hudzaifah turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan
ayahnya, Al-Yaman. Dalam peperangan itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang
dengan selamat, tetapi bapaknya tewas di Uhud, menjadi syahid. Bapaknya syahid oleh pedang kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.
Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah SAW menugaskan Al-Yaman (ayah
Hudzaifah) dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak,
karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan
sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu; apalagi yang harus
kita tunggu. Umur kita hanya tinggal selama menunggu keledai puas minum. Kita mungkin
saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang lalu menyerbu ke
tengah-tengah musuh membantu Rasulullah. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita rezeki
menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya.” Lalu keduanya mengambil pedang
mereka, dan terjun ke arena pertempuran.
Tsabit bin Waqsy memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dia syahid di tangan kaum musyrikin.
Tetapi Al-Yaman bapak Hudzaifah menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena
mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah berteriak, “Itu bapakku…! Itu bapakku…!”
Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya., sehingga bapaknya jatuh
tersungkur oleh teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya
berdoa, “Semoga Allah SWT mengampuni kalian; Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah SAW memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah
kepada anaknya, Hudzaifah. Kata Hudzaifah, “Bapakku menginginkan supaya dia mati
syahid. Keinginannya itu kini telah dicapainya. Wahai Allah! Saksikanlah, sesungguhnya aku
menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”
Maka dengan pernyataannya itu, penghargaan Rasulullah terhadap Hudzaifah bertambah
tinggi dan mendalam.
Rasulullah SAW menilai, dalam pribadi Hudzaifah ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan
yang menonjol: pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam
situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat
dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat, memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi;
sehingga tak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.
Sudah menjadi salat satu kebijaksanaan Rasulullah, berusaha menyingkap keistimewaan
para shahabatnya, dan menyalurkannya sesuai dengan bekat dan kesanggupan yang
terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni menempatkan seseorang pada
tempat yang selaras. Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah adalah keahdiran kaum Yahudi
munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang
dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabat. Maka dalam menghadapi
kesulitan itu, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah ibnul
Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia
yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang
lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah
menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah
bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan karena itu,
Hudzaifah ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah”
(Pemegang rahasia Rasulullah).
Pada suatu ketika, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang
amat berbahaya, dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena
itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin itnggi. Peristiwa itu terjadi
pada puncak peperangan Khandaq. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh,
sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak
tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi. Semakin hari situasi semakin
gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan menjadikan sementara kaum
muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.
Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menetukan itu, kaum
Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik, tidak lebih baik keadaannya dari
pada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah Azza wa Jalla
menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin
topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan
periuk, kauli dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan
menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.
Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih
dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi
lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai
kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil keputusan
melalui musyawarah.
Ketika itulah Rasulullah membutuhkan keterampilan Hudzaifah ibnul Yaman, untuk
mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau memutuskan untuk mengirim
Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah
kita dengarkan bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut. Kata Hudzaifah: Malam itu kami (tentara muslimin) duduk berbaris, Abu Sufyan dengan dua
baris pasukannya kaum musyrikin. Makkah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang
Yahudi Bani Quraizhah berada di sebelah bawah. Yang kami khawatirkan ialah serangan
mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami
alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari kami sendiri.
Angin bertiup sangat kencang sehingga desirannya menimbulkan suara bising yang
memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin untuk pulang
kepada Rasulullah dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah
mereka terkunci.
Setiap orang yang minta izin pulang, diberi izin oleh Rasulullah, tidak ada yang dilarang atau
ditahan beliau. Smeuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap
bertahan, hanya tinggal 300 orang.
Rasulullah berdiri dan berjalan memeriksa kami satu per satu. Setelah beliau sampai ke
dekatku, aku meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin
yang menusukku, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi
hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini?”
“Hudzaifah.” Jawabku.
“Hudzaifah!” Tanya Rasulullah minta kepastian. Aku merapat ke tanah sulit berdiri karena
lapar dan dingin.
“Betul, ya Rasulullah!” jawabku.
“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh; pergilah engkau ke sana dengan sembunyisembunyi
untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata
beliau memerintah.
Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka Rasulullah
berdoa, “Wahai Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari
bawah.”
Demi Allah! Sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku,
dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar
dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah, beliau memanggilku dan
berkata, “Hai, Hudzaifah! Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka
sampai tugasmu selesai, dan kembali melapir kepadaku!”
Jawabku, “Saya siap, ya Rasulullah!”
Lalu aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menysuup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolaholah
aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tibatiba
terdengar Abu Sufyan memberi komando.
Katanya, “hai pasukan Quraisy! Dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat
khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu
telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”
Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, aku segera memegang tangan yang di sampingku seraya
bertanya, “Siapa kamu?”
Jawabnya, “Aku di anu, anak si anu!”
Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai pasukan Quraisy! Demi
Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kita
telah banyak yang mati. Bani Quraizhan berkhianat meninggalkan kita. Angin topan
menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah kalian
sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”
Selesai berkata begitu, Abu Sufyan langsung mendekati untanya, dilepaskannya tali
penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat.
Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum
datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.
Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah. Kudapati beliau sedang shalat di tikar
kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku
dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau
segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta
mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.
Hudzaifah ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orangorang
munafik selama hidupnya. Sehingga kepada para khalifah sekalipun, yang mencoba
mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Sampai-sampai khalifah Umar bin
Khattab r.a. apabila ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut
menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka jawab ada, beliau turut menyalatkannya. Bila
mereka menjawab tidak, beliau enggan menyalatkannya. Pada suatu ketika khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdki, “Adakah
diantara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”
Kata Umar, “Tolong tunjukkan kepadaku, siapa?”
Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
“Seandainya aku tunjukkan, tentu khalifah akan langsung memecat pegawai yang
bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.
Namun begitu, amat sedikit orang yang mengetahu Hudzaifah ibnul Yaman sesungguhnya
adalah pahlawan penakluk Hamadzan dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi
kaum muslimin dari genggaman kekuatan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga
termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al-Qur’an, sesudah Kitabullah itu
beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah, hamba Allah yang
sangat takut kepada Allah, dia juga takut melanggar perintah dan larangan Allah, dan sangat
takut akan sika-Nya.
Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang
mengunjunginya tengah malam.
Hudzaifah bertanya kepada mereka, “Jam berapa sekarang?”
Jawab mereka, “Sudah dekat Subuh.”
Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk
neraka.”
Kemudian dia bertanya, “Adakah tuan-tuan membawa kafan?”
Jawab mereka, “Ada!”
Kata Hudzaifah, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia
akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika tidak baik dalam
pandangan Allah Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”
Sesudah itu dia berdoa, “Wahai Allah. Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa aku lebih suka
fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari
pada hidup.”
Sesudah berdoa begitu ruhnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam
kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman.
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
digolongkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau
sukai.”
Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah SAW kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika dia
pertama kali bertemu muka dengan beliau di Makkah. Mengenai pilihan itu, apakah dia
tergolong Muhajirin atau Anshar, yaitu dua golongan yang dicintai kaum muslimin, mempunyai
kisah tersendiri bagi Hudzaifah.
Al-Yaman, ayah Hudzaifah, adalah orang Makkah dari Bani Abbas. Oleh karena suatu hutang
darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia
minta perlindungan pada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi
keluarga dalam persukuan Bani Abd Asyhal. Kemudian dia menikah dengan anak perempuan
suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan
yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Makkah. Sejak saat itu dia bebas pulang
pergi antara Makkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di
Makkah.
Ketika Islam memancarkan cahayanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah
seorang dari sepuluh orang Bani Abbas untuk menemui Rasulullah SAW dan menyatakan
Islam di hadapan beliau. Segala peristiwa yang kita sebutkan itu terjadi sebelum hijrah
Rasulullah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu
menurut garis keturunan bapak (patriarchal), maka Hudzaifah adalah orang Makkah yang lahir
dan dibesarkan di Madinah.
Hudzaifah ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam
pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan
pertama. Karena itu Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah
SAW.
Kemudian Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah SAW memenuhi setiap rongga
hatinya. Sejak masuk Islam, dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan nyinyir bertanya
tentang kepribadian dan ciri-ciri beliau. Bila hal itu dijelaskan orang kepadanya, makin
bertambah cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah.
Pada suatu hari dia berangkat ke Makkah sengaja hendak menemui Rasulullah. Setelah
bertemu, Hudzaifah bertanya kepada beliau, “Apakah saya ini seorang muhajir atau Anshar,
ya Rasulullah?”
Jawab Rasulullah, “Jika engkau ingin disebut muhajir, engkau memang seorang muhajir; dan
jika engkau ingin disebut Anshar, engkau memang orang Anshar. Pilihlah mana yang engkau
sukai.”
Jawab Hudzaifah, “Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!.”
Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan
seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya,
kecuali dalam perang Badar. Mengapa dia tidak turut dalam perang Badar? Soal ini pernah
diceritakan oleh Hudzaifah.
Katanya: Yang menghalangiku untuk turut berperang dalam peperangan Badar karena ketika
itu aku dan bapakku sedang pergi ke luar kota Madinah. Dalam perjalanan pulang, kami
ditangkap oleh kaum kafir Quraisy. Tanya mereka, “Hendak ke mana kalian?”
Jawab kami, “Ke Madinah!”
Tanya mereka, “Kalian hendak menemui Muhammad?”
Jawab kami, “Kami hendak pulang ke rumah kami, di Madinah!”
Mereka tidak bersedia membebaskan kami kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan
membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah kami
dibebaskannya.
Setelah bertemu dengan Rasulullah, kami ceritakan kepada beliau peristiwa tertangkapnya
kami oleh kaum kafir Quraisy dan perjanjian dengan mereka. Lalu kami tanyakan kepada
beliau, apa yang harus kami lakukan.
Jawab Rasulullah, “Batalkan perjanjian itu, dan mari kita mohon pertolongan Allah untuk
mengalahkan mereka!”
Dalam peperangan Uhud, Hudzaifah turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan
ayahnya, Al-Yaman. Dalam peperangan itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang
dengan selamat, tetapi bapaknya tewas di Uhud, menjadi syahid. Bapaknya syahid oleh pedang kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.
Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah SAW menugaskan Al-Yaman (ayah
Hudzaifah) dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak,
karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan
sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu; apalagi yang harus
kita tunggu. Umur kita hanya tinggal selama menunggu keledai puas minum. Kita mungkin
saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang lalu menyerbu ke
tengah-tengah musuh membantu Rasulullah. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita rezeki
menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya.” Lalu keduanya mengambil pedang
mereka, dan terjun ke arena pertempuran.
Tsabit bin Waqsy memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dia syahid di tangan kaum musyrikin.
Tetapi Al-Yaman bapak Hudzaifah menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena
mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah berteriak, “Itu bapakku…! Itu bapakku…!”
Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya., sehingga bapaknya jatuh
tersungkur oleh teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya
berdoa, “Semoga Allah SWT mengampuni kalian; Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah SAW memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah
kepada anaknya, Hudzaifah. Kata Hudzaifah, “Bapakku menginginkan supaya dia mati
syahid. Keinginannya itu kini telah dicapainya. Wahai Allah! Saksikanlah, sesungguhnya aku
menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”
Maka dengan pernyataannya itu, penghargaan Rasulullah terhadap Hudzaifah bertambah
tinggi dan mendalam.
Rasulullah SAW menilai, dalam pribadi Hudzaifah ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan
yang menonjol: pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam
situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat
dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat, memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi;
sehingga tak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.
Sudah menjadi salat satu kebijaksanaan Rasulullah, berusaha menyingkap keistimewaan
para shahabatnya, dan menyalurkannya sesuai dengan bekat dan kesanggupan yang
terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni menempatkan seseorang pada
tempat yang selaras. Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah adalah keahdiran kaum Yahudi
munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang
dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabat. Maka dalam menghadapi
kesulitan itu, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah ibnul
Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia
yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang
lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah
menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah
bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan karena itu,
Hudzaifah ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah”
(Pemegang rahasia Rasulullah).
Pada suatu ketika, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang
amat berbahaya, dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena
itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin itnggi. Peristiwa itu terjadi
pada puncak peperangan Khandaq. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh,
sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak
tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi. Semakin hari situasi semakin
gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan menjadikan sementara kaum
muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.
Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menetukan itu, kaum
Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik, tidak lebih baik keadaannya dari
pada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah Azza wa Jalla
menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin
topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan
periuk, kauli dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan
menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.
Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih
dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi
lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai
kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil keputusan
melalui musyawarah.
Ketika itulah Rasulullah membutuhkan keterampilan Hudzaifah ibnul Yaman, untuk
mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau memutuskan untuk mengirim
Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah
kita dengarkan bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut. Kata Hudzaifah: Malam itu kami (tentara muslimin) duduk berbaris, Abu Sufyan dengan dua
baris pasukannya kaum musyrikin. Makkah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang
Yahudi Bani Quraizhah berada di sebelah bawah. Yang kami khawatirkan ialah serangan
mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami
alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari kami sendiri.
Angin bertiup sangat kencang sehingga desirannya menimbulkan suara bising yang
memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin untuk pulang
kepada Rasulullah dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah
mereka terkunci.
Setiap orang yang minta izin pulang, diberi izin oleh Rasulullah, tidak ada yang dilarang atau
ditahan beliau. Smeuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap
bertahan, hanya tinggal 300 orang.
Rasulullah berdiri dan berjalan memeriksa kami satu per satu. Setelah beliau sampai ke
dekatku, aku meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin
yang menusukku, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi
hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini?”
“Hudzaifah.” Jawabku.
“Hudzaifah!” Tanya Rasulullah minta kepastian. Aku merapat ke tanah sulit berdiri karena
lapar dan dingin.
“Betul, ya Rasulullah!” jawabku.
“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh; pergilah engkau ke sana dengan sembunyisembunyi
untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata
beliau memerintah.
Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka Rasulullah
berdoa, “Wahai Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari
bawah.”
Demi Allah! Sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku,
dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar
dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah, beliau memanggilku dan
berkata, “Hai, Hudzaifah! Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka
sampai tugasmu selesai, dan kembali melapir kepadaku!”
Jawabku, “Saya siap, ya Rasulullah!”
Lalu aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menysuup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolaholah
aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tibatiba
terdengar Abu Sufyan memberi komando.
Katanya, “hai pasukan Quraisy! Dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat
khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu
telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”
Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, aku segera memegang tangan yang di sampingku seraya
bertanya, “Siapa kamu?”
Jawabnya, “Aku di anu, anak si anu!”
Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai pasukan Quraisy! Demi
Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kita
telah banyak yang mati. Bani Quraizhan berkhianat meninggalkan kita. Angin topan
menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah kalian
sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”
Selesai berkata begitu, Abu Sufyan langsung mendekati untanya, dilepaskannya tali
penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat.
Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum
datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.
Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah. Kudapati beliau sedang shalat di tikar
kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku
dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau
segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta
mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.
Hudzaifah ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orangorang
munafik selama hidupnya. Sehingga kepada para khalifah sekalipun, yang mencoba
mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Sampai-sampai khalifah Umar bin
Khattab r.a. apabila ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut
menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka jawab ada, beliau turut menyalatkannya. Bila
mereka menjawab tidak, beliau enggan menyalatkannya. Pada suatu ketika khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdki, “Adakah
diantara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”
Kata Umar, “Tolong tunjukkan kepadaku, siapa?”
Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
“Seandainya aku tunjukkan, tentu khalifah akan langsung memecat pegawai yang
bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.
Namun begitu, amat sedikit orang yang mengetahu Hudzaifah ibnul Yaman sesungguhnya
adalah pahlawan penakluk Hamadzan dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi
kaum muslimin dari genggaman kekuatan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga
termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al-Qur’an, sesudah Kitabullah itu
beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah, hamba Allah yang
sangat takut kepada Allah, dia juga takut melanggar perintah dan larangan Allah, dan sangat
takut akan sika-Nya.
Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang
mengunjunginya tengah malam.
Hudzaifah bertanya kepada mereka, “Jam berapa sekarang?”
Jawab mereka, “Sudah dekat Subuh.”
Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk
neraka.”
Kemudian dia bertanya, “Adakah tuan-tuan membawa kafan?”
Jawab mereka, “Ada!”
Kata Hudzaifah, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia
akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika tidak baik dalam
pandangan Allah Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”
Sesudah itu dia berdoa, “Wahai Allah. Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa aku lebih suka
fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari
pada hidup.”
Sesudah berdoa begitu ruhnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam
kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman.
[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]
Langganan:
Postingan (Atom)