Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat. Tampilkan semua postingan

Kematian, Perpisahan dan Penghisaban

Saat ini, banyak orang yang hidup sesukanya hingga melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam menjalani hidup, ia tak peduli halal-haram. Dalam kamus hidupnya hanya satu: yang penting enak, nikmat! Mereka antara lain pelaku seks bebas, pemabuk/penikmat narkoba dan tentu saja kalangan hedonis lainnya. Setiap hari yang mereka kejar hanyalah kesenangan. Mereka tak mau dipusingkan oleh masalah.


Saat ini pun tak sedikit orang yang begitu dalam cintanya kepada seseorang; entah kepada pasangan hidupnya, pujaan hatinya, anak-anaknya, kedua orang-tuanya, dll. Begitu dalamnya cintanya kepada seseorang tersebut hingga melebihi cintanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Akibatnya, ia menomorduakan Allah SWT dan Rasul-Nya serta menomor-satukan seseorang yang ia cintai. Bukan-kah tak sedikit orang mengorbankan agama demi menyenangkan orang-orang yang ia cintai. Bukankah banyak orang mau mengorbankan apa saja, termasuk agamanya, demi menyenangkan dan membahagiakan pasangan hidup yang dia cintai? Banyak pula orang yang tergila-gila mencintai sesuatu; entah harta-kekayaan, jabatan, pangkat, kehormatan, hobi dll. Begitu cintanya pada sesuatu itu, ia pun tak jarang melupakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Bukankah tak sedikit orang yang menggadaikan agamanya demi mengejar kekayaan, jabatan, pangkat, kehormatan atau bahkan hobi? Bukankah ada orang yang nekad melakukan suap-menyuap demi pangkat/jabatan; melaku-kan manipulasi demi meraih gelar/kehor-matan; atau menghabiskan waktu berjam-jam seharian (juga tenaga, pikiran dan tentu saja uang) demi memuaskan hobi-nya hingga lupa shalat, baca Alquran atau berzikir kepada Allah SWT?


Jika kita termasuk ke dalam orang-orang yang semacam ini, layaklah kita merenungkan sebuah hadits, sebagaimana yang dituturkan Sahal bin Saad, bahwa Nabi SAW pernah bersabda: Jibril pernah berkata, ”Muhammad, hiduplah sesukamu, namun sesungguhnya akhir kehidupanmu adalah kematian; cintailah siapa saja sekehendakmu, tetapi sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya; lakukanlah apa saja semaumu, namun sesungguhnya engkau akan diberi balasan.” (HR al-Hakim, al-Haitsami dan ath-Thabrani)


Sayang, meski banyak orang tahu bahwa ujung kehidupan adalah kematian dan kefanaan, faktanya mereka menjalani hidup ini seolah-olah kehidupan itu abadi dan tak bertepi. Akibatnya, mereka terus menumpuk harta-kekayaan, sesuatu yang pasti akan mereka tinggalkan; terus mengejar pangkat dan jabatan, sesuatu yang pasti akan mereka tanggalkan; serta terus mereguk berbagai macam kese-nangan, sesuatu yang pasti segera terlupakan. Tak jarang semua itu semakin menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Tak jarang semua itu menjadikan dirinya lupa mempersiapkan amal kebajikan, bekal pasca kematian, sesuatu yang justru akan menjadi satu-satunya teman di Hari Penghisaban. Tak jarang pula semua itu menjadikan dirinya bakhil, terus menuruti hawa nafsu dan cenderung berbangga diri. Semua itu pada akhirnya menghancurkan dirinya. Yang demikian ini persis sebagaimana sabda Nabi SAW dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh Ibn Umar ra., yang menyatakan bahwa, ”Ada tiga perkara yang menghancurkan, yaitu: sifat bakhil yang kelewatan, hawa nafsu yang dituruti dan membanggakan diri sendiri... (HR ath-Thabrani. Lihat: Ismail Muhammad al-'Ajiluni al-Jarahi, Kasyf al-Khifâ' II/381)


Orang-orang yang seperti ini biasa-nya adalah orang-orang yang tak punya adab (baik kepada Allah ataupun makh-luk), tidak sabar (terutama dalam menjauhi ragam maksiat dan dalam menunaikan berbagai kewajiban) dan tidak memiliki sikap wara' (menjauhi keharaman dan syubhat). Padahal, sebagaimana dinyata-kan oleh Imam Hasan al-Bahsri, seorang ulama besar generasi tabi'in, ”Siapa saja yang tak punya adab (baik kepada Allah ataupun kepada makhluk), berarti ia tak punya ilmu. Siapa saja yang tak bersabar (terutama dalam menjauhi ragam maksiat dan dalam menunaikan berbagai kewajib-an), berarti ia bukan orang beragama. Siapa saja yang tak bersikap wara' (dari perkara yang haram maupun yang syubhat), berarti ia tak punya martabat (di sisi Allah SWT).” (Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi, Nashâ'ih al-'Ibâd, hlm. 11)

Karena itu, marilah kita segera bertobat kepada Allah 'Azza Wajala dari segala dosa dan kesalahan, karena itu adalah kewajiban. Namun, meninggalkan ragam dosa dan kemaksiatan adalah lebih wajib lagi. Demikianlah sebagaimana kata penyair:

Manusia wajib tobat dari dosa
Lebih wajib lagi meninggalkannya

Kita pun mesti selalu menyadari, bahwa kematian itu sangat dekat, bahkan lebih dekat dari siapapun dan apapun yang bakal datang menghampiri kita, sebagaimana pula kata penyair:
Setiap yang bakal datang itu dekat
Lebih dekat lagi adalah kematian

Wa mâ tawfîqî illâ billâh.[] arief b. Iskandar

************************************************************************


Detik berganti Menit
Menit berganti Jam..
Jam berganti Hari..
Hari berganti Bulan..
Bulan berganti Tahun..
Begitulah perputaran waktu..
Dari satu kejadian ke kejadian yang lain..
Tetapi waktu tidak akan bisa berulang..

Ingin sekali jika ada mesin waktu, aku ingin mengulang masa SMA dulu…
Ingin sekali jika ada mesin waktu, merubah kisah masa kuliah di tingkat 1..
Ingin sekali jika ada mesin waktu, aku ingin mundur 1 tahun kebelakang …
Tetapi itu tidaklah mungkin,…
Waktu terus berputar dan tidak bisa diulang..


Perputaran waktu itu, membuatku menyadari bahwa betapa banyak maksiat yang dilakukan selama ini.. (-_-)
Aku juga menyadari bahwa belum ada karya satupun yang kupersembahkan pada-MU, Ya Allah swt, Maha Pemilik Nyawa-ku..
Apa yang telah kuberikan untuk Islam?
Apa yang telah kuberikan untuk Umat?
Apa yang telah kuberikan untuk membahagiakan kedua orangtuaku sedangkan mereka yang selalu mendoakan ku tanpa pamrih dan mengorbankan kebahagiaanya untuk ku…?
Sungguh.. semua pertanyaan itu belum bisa dijawab…


************************************************************************
Jazakumullah khairan katsiran atas semua doa yang diberikan untukku pada hari ini..
Semoga doa teman-teman dikabulkan oleh Allah swt dan doa itu juga untuk teman-teman semua.. ‘
Semoga doa itu tidak hanya untukku di hari ini tetapi di hari-hari lainnya.. saling mendoakan sesama muslim… ^__^


By : Suci Sri Yundari (Najla Hanifah)
Bogor, 17 Juni 2010
**Jika ada kesalahan dalam penulisan, afwan jiddan **

AMAL ISLAMI BUKANLAH AKTIVITAS SESAAT....

oleh Dr Najih Ibrahim

jalan menuju jannah...


Amal islami bukanlah aktivitas yang cukup dikerjakan di saat Anda memiliki waktu luang dan bisa Anda tinggalkan saat sibuk. Tidak! Amal islami terlalu agung dan mulia jika mesti diperlakukan seperti itu.



Perkara intima` kepada dien ini tentu saja jauh lebih serius daripada yang seperti itu. Islam tidak seperti klub ilmiyah, klub olahraga, atau kepanduan yang cukup dikerjakan saat masih menjadi pelajar/ mahasiswa, lalu bisa ditinggalkan saat telah lulus. Atau cukup dikerjakan saat masih bujang dan boleh ditinggalkan setelah menikah. Atau Anda curahkan waktu sebelum Anda mendapat pekerjaan dan setelah mendapatkannya, atau Anda membuka klinik, apotek, biro konsultasi, atau Anda disibukkan dengan pelajaran-pelajaran khusus, maka Anda boleh meninggalkannya atau meremehkannya. Sekali-kali tidak! Amal islami bukanlah seperti itu.



Perkara amal islami dan intima` kepadanya sama dengan perkara ‘ubudiyah kepada Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu, semestinya seorang muslim tidak melepaskan diri dari amal islami kecuali bersamaan dengan keluarnya ia dari kehidupan ini.. Bukankah Allah telah berfirman



وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ


Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai kematian datang kepadamu! (al-Hijr : 11)



Sampai datang kematian!!!

Al-Qur`an tidak mengatakan ‘Sembahlah Rabbmu sampai kamu keluar dari Universitas atau saat menjadi pegawai atau sampai kamu menikah atau sampai kamu membuka klinik atau sampai kamu membuka biro konsultasi dst.”



Para pendahulu kita, as-salafus shalih memahami benar hakekat yang sederhana namun sangat urgen dalam dienullah ini.



Kita dapati ‘Ammar bin Yasir, beliau berangkat perang saat usia beliau telah mencapai 90 tahun. Perang! Bukan berdakwah, mengajar orang-orang, atau beramar makruf nahi munkar. Beliau berangkat perang saat tulang-belulang beliau sudah rapuh, tubuh telah renta, rambut telah memutih, dan kekuatan sudah jauh berkurang.



Adalah Abu Sufyan masih membakar semangat para pasukan untuk berperang saat beliau berumur 70 tahun.




Begitu pun dengan Yaman, Tsabit bin Waqasy. Keduanya tetap berangkat ke medan Uhud meski telah lanjut usia dan meski Rasulullah menempatkan mereka bersama kaum wanita, di bagian belakang pasukan.



Mengapa kita mesti pergi jauh?! Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melaksanakan 27 pertempuran . Semua peperangan itu beliau alami setelah usia beliau lewat 54 tahun. Bahkan perang Tabuk, perang yang paling berat bagi kaum muslimin, diikuti dan dipimpim langsung oleh beliau saat umur beliau telah mencapai 60 tahun.



Bagaimana dengan keadaan kita hari ini?! Kita dapat saksikan banyak sekali ikhwah yang meninggalkan amal Islami setelah lulus kuliah, menikah, sibuk dengan perdagangan, tugas, dlsb.

Kepada mereka, “Sesungguhnya urusan dien dan Islam itu bukan urusan main-main.”



وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللهِ عَظِيمٌ

Dan kalian menyangka itu urusan yang remeh, padahal di sisi Allah itu adalah urusan yang agung. (an-Nur : 15)




Saya katakan kepada mereka, “Mana janji kalian?! Janji yang telah kalian ikrarkan di hadapan Allah dan di hadapan orang banyak dulu?!”



وَكَانَ عَهْدُ اللهِ مَسْئُولاً

Dan janji Allah itu akan dipertanyakan. (al-Ahzab : 15)



Mana sajak pendek yang selama ini sering kalian perdengarkan?!



فِيْ سَبِيْلِ اللهِ قُمْنَا

نَبْتَغِيْ رَفْعِ اللِّوَاءِ

مَالِحِزْبٍ قَدْ عَمِلْنَا


نَحْنُ لِلدِّيْنِ فِدَاءُ

فَلْيَعُدْ لِلدِّيْنِ مَجْدُهُ

أَوْ تُرَقْ مِنَّا الدِّمَاءُ



Di jalan Allah kami tegak berdiri

Mencitakan panji-panji menjulang tinggi

Bukan untuk golongan tertentu, semua amal kami

Bagi dien ini, kami menjadi pejuang sejati


Sampai kemuliaan dien ini kembali

Atau mengalir tetes-tetes darah kami




Saya katakan kepada mereka, “Sesungguhnya akibat dari pengunduran diri adalah keburukan. Apalagi bagi orang yang telah mengerti kebenaran lalu berpaling darinya. Bagi orang yang telah merasakan manisnya kebenaran lalu tenggelam dalam kebatilan. Sesungguhnya membatalkan janji kepada Allah termasuk dosa yang terbesar di sisi Allah dan di pandangan orang-orang yang beriman.”



فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَى نَفْسِهِ

Maka barangsiapa melanggar janji, akibatnya akan mengenai dirinya sendiri. (al-Fath : 10)



Siapa pun yang dikuasai oleh nafsu ammarah bissu`, ditipu oleh setan, atau mengundurkan diri dari medan amal islami hendaklah merenungkan firman Allah ini



وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللهَ لَئِنْ أَتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصَّالِحِيْنَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوْا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُوْنَ




Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, pasti kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling. (at-Taubah : 75-76)



Kemudian hendaknya pula merenungkan firman Allah tentang hukuman yang akan diterima



فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يُكَذِّبُوْنَ



Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. (at-Taubah : 77)



Sesungguhnya perkara amal islami adalah perkara yang sangat urgen.. Sayangnya, sebagian mereka yang lemah imannya ~beberapa di antaranya bergabung saat masih kuliyah~ beranggapan bahwa amal islami itu tak ubahnya dengan sarikat dagang untuk satu masa tertentu. Begitu masa kuliyah selesai, selesai pulalah amal islami. Atau mereka menyangka masa amal islami adalah masa terjalinnya persahabatan atau pertemanan saat masih kuliyah yang selesai begitu saja saat lulus. Semuanya selesai, tuntas!



Saya sebut mereka di sini sebagai orang-orang yang lemah imannya karena biasanya penyakit itu bermula dari lemahnya iman. Sakitnya hati, lemahnya semangat, dan tidak mengakarnya iman, terletak di dalam hati, bukan di akal. Seringnya ~bahkan selalunya~ kerusakan itu terletak pada hati bukan akal; disebabkan oleh bolongnya iman, bukan kurangnya ilmu; karena syahwat, bukan syubhat; dan buah dari cinta dunia, bukan kurangnya kesadaran. Maka siapa yang ingin menjalani terapi atau berobat, semestinya memperhatikan hatinya, membersihkannya dari berbagai kotoran dan mengobati penyakit-penyakitnya iu.




Sayangnya, sedikit sekali dokter yang ada di zaman ini. Tentu saja maksud saya adalah dokter untuk penyakit hati. Kalau dokter penyakit jasmani, banyak sekali jumlah mereka, namun parah sekali juga penyakit yang menimpa mereka.



Sesungguhnya seseorang yang berbalik dari kebenaran setelah mengetahuinya adalah seorang yang mendahulukan kelezatan sesaat dan kesenangan semusim serta mencari kegembiraan dengan membayar kesedihan sepanjang masa, menceburkan diri ke sumur maksiat, dan berpaling dari cita-cita mulia kepada keinginan rendah lagi hina.. Selanjutnya ia akan berada di bawah kungkungan setan, di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu.



Berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya mendapati keadaan orang-orang seperti mereka jauh lebih buruk daripada kaum muslimin pada umumnya. kiranya itulah hukuman dari Allah bagi mereka …

Bagai rajawali yang telah rontok bulu-bulunya

Setiap kali melihat burung terbang ia melihat segala kegagalannya.



sumber : buku Kepada aktivis muslim

Kembali ke rumah kembali kepada cinta

Saya bertanya kepada beberapa teman. Kata kata apa yang sering diucapkan istri atau anak setiap kali kalian akan berpergian ? sebagaian besar mereka menjawab :” istri atau anak akan berpesan :” jika telah usai segeralah pulang kerumah. Kami merindukanmu.” Dengan redaksional yang sedikit berbeda. Inti pesan itulah yang mendominasi setiap kali pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan istri dan anak anak kalian.

Rumah adalah tempat jiwa kalian bermuara. Sebab didalamnya cinta kalian ditambatkan. Orang orang terdekat, yang kalian cintai dan mencintai kalian. Berada didalamnya. Mereka merindukan kalian kembali ditengah tengah gelak tawa mereka. Ada banyak hal yang mendorong kalian untuk kembali kerumah setelah seharian bergelut bersama kehidupan diluar rumah. Itulah makna yang dapat kalian pelajari dari Sabda RAsulullah saw. Diriwayatkan oleh Aisyah, Nabi Saw pernah bersabda :” Jika kalian telah selesai tugas diluar rumah, maka cepatlah kembali ke istrimu. Karena itu sangat besar pahalanya. “ (HR.Al-Hakim)

Rumah menegaskan dua wajah yang melekat dalam diri kalian. Wajah pertama adalah jawaban akan kebutuhan jiwa kalian. Sementara itu, wajah kedua adalah tanggung jawab kalian sebagai qowwam dalam keluarga. Keduanya bertegur sapa dalam diri kalian, sebagai lelaki dan suami.

Wajah pertama menghajatkan kalian untuk menjadikan rumah sebagai taman rekreasi paling menyenangkan. Tempat jiwa kalian istirahat setelah seharian bersentuhan dengan kepenatan kerja. Tutur kata yang lembut dari istri, gurauan segar, cerita cerita yang ringan, serta gelak tawa istri dan anak merupakan penawar seluruh jenak jenak kelelahan jiwa. Seluruhnya bersemayam didalam rumah kalian. Semua itu semestinya tidak bisa tergantikan oleh kesenangan kesenangan semu diluar rumah.

Oleh karena itu Rasulullah menyarankan kepada kalian “ cepatlah kembali ke istrimu” Rasulullah tidak mengada ngada, sebab beliau pernah mengalaminya. Slide ingatan kita tentang penerimaan wahyu pertama menegaskan tentang persoalan ini. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra, bagaimana permulaan wahyu diturunkan. Setelah menerima wahyu pertama Rasulullah segera pulang dalam keadaan gemetar. Khadijah adalah orang pertama yang ditemuinya. Rumah menjadi tempat kembalinya. “selimuti aku, selimuti aku.” Beliau diselimuti khadijah hingga hilang rasa takutnya. Dari khadijah pula Rasulullah mendapatkan support dan dukungan. “bergembiralah suamiku. Demi Allah,Allah sama sekali tidak akan membuatmu kecewa.”

Pulang kerumah tidak berarti sekedar rutinintas. Ia bukan sekedar kerja fisik. Rumah bukan sekedar tempat fisik kalian berteduh. Sebab kalau sekedar tempat berteduh. Ia bisa ditemukan dimana saja. Lebih dari sekedar itu, sesungguhnya rumah merupakan tempat jiwa kalian bermuara. Dengan demikian pulang kerumah haruslah menyertakan fisik dan jiwa kalian.

Kepulangan semestinya membawa kesegaran baru. Orang orang yang kalian cintailah yang akan menebarkan kesegaran itu. Saat itulah kalian merasakan bahwa rumah adalah tempat yang tak tergantikan. Sebab ada kekasih kalian yang setia menanti, kekasih yang akan menebar kebahagiaan ketika kalian pulang menemuinya. Dalam hal inilah kalian menemukan makna Sabda Rasulullah :” tidak ada yang bisa dilihat lebih indah oleh orang orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan.” (Al-Hakim dishahihkan dengan syarat syarat Muslim).

Ungkapan Ali bin Thalib Karamallahu wajhahu terhadap istrinya, FAtimah binti Muhammad saw. Merupakan gambaran tentang makna keberadaan seorang istri yang dapat menambah kuat jalinan perasaan (‘athifah) diantara mereka :” ketika aku memandangnya,” kata ali, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.” Memang, dalam hal ini indahnya penampilan tidak sekedar yang bersifat fisik tetapi sekaligus lahir dari pancaran jiwa yang tulus. Dale Carnegie dalam How to Wind Friends an Influence people mengatakan :” Ekspresi yang terpantul dari wajah seseorang adalah jauh lebih penting daripada pakaian yang dikenakannya.

Akhirnya rumah menjadi taman rekreasi kalian. Didalamnya bertabur bunga bunga. Kalian sendirilah penanamnya, tentu bersama dengan kekasih kalian. Kepulangan kalian harus membawa kesadaran bahwa kalian harus saling menebar kesegaran, dari pancaran wajah dan jiwa kalian. Jabis Ra pernah meriwayatkan “ kami bersama Rasulullah dalam suatu peperangan . ketika kami tiba dimadinah, kami langsung pergi memasuki rumah kami. Rasulullah lalu mengatakan . “ Tangguhkanlah. Jangan masuk pada malam hari hingga istri kalian menyisir rambut dan bersolek.” (HR.Muslim)

Hanya karena alasan memberi kesempatan istri kalian untuk berdandankah Rasulullah melarang kalian untuk segera memasuki rumah ? saya menangkap makna lain dari yang diungkapkan Rasulullah. Penjelasan Rasulullah tersebut sesungguhnya juga memberikan jeda bagi kalian untuk menyiapkan fisik dan jiwa kalian agar jauh lebih segar, agar terhapus jenak jenak kelelahan dari wajah. Agar yang terlihat oleh istri kalian hanya senyum yang merekah. Agar rumah menjadi taman rekreasi yang dirindukan.

Kerinduan kalian terhadap rumah menjadi Ayat ayat cinta. Tanda tanda yang menunjukkan banyak hal : cinta , kedamaian dan ketenangan rumah tangga, tanggung jawab, kasih sayang, serta Rahmat Allah ta’ala. KEMBALI KERUMAH ADALAH KEMBALI KEPADA PANGKUAN CINTA. Jangan sampai fenomena film shall we dance mendera diri kalian : ketika seorang suami lupa untuk pulang dan tertambat hatinya pada kesenangan diluar rumah, tanpa ada alasan yang jelas dan dibenarkan.

Bermunajat kita kepada Allah, jangan sampai dihilangkan dari diri kita kerinduan untuk pulang kerumah, kembali kepada kekasih kita.

Wallahua'lam, semoga Allah mengampuni saya jika karena pengetahuan saya yang kurang luas sehingga saya menulis, berbuat dan berbicara salah.

Be Carefull Ukhti....

Ukhti..., renungkanlah!



Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengambil faedah.



"Mulanya hanyalah perkenalan dan percakapan biasa lewat telepon. Seiring waktu berkembanglah pembicaraan sampai pada kisah cinta dan seluk-beluknya. Dia pun kemudian mengungkapkan cintanya dan berjanji akan meminang saya. Dia meminta agar bisa melihat wajah saya, terang saya menolaknya. Dia mengancam akan memutuskan hubungan. Akupun menyerah. Kukirimkan fotoku serta surat-surat yang begitu manis penuh rayu. Surat menyurat pun berlangsung selalu. Sampai akhirnya dia meminta untuk berjumpa dan jalan berdua dengannya. Aku menolak dengan keras. Tapi dia mengancam akan menyebarluaskan foto-foto saya serta surat-surat saya dan suara saya yang direkamnya ketika kami bercakap-cakap lewat telepon.



Akhirnya akupun keluar pergi bersamanya dengan tekad agar bisa pulang segera secepatnya. Ya, akupun pulang akan tetapi dengan mambawa aib dan kehinaan. Ku katakan padanya: Nikahilah aku! Sungguh ini adalah aib bagiku. Maka dia menjawab

dengan segenap penghinaan, ejekan dan mentertawakan: "Sesungguhnya aku tidak akan menikahi wanita pezina.



Saudariku yang mulia, jika engkau memang memiliki akal untuk berfikir maka dengarkanlah nasehat berikut ini:




Janganlah engkau percaya bahwa pernikahan akan mungkin terlaksana hanya karena perkenalan dan percakapan iseng lewat telepon. Kalaupun memang ini terjadi maka akan mengalami kegagalan, kegalauan dan penyesalan.



Janganlah engkau percayai seorang pemuda ketika dia mulai menampakkan kejujuran dan keikhlasannya dan menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu tapi dia mengkhianati keluargamu dengan meneleponmu dan mengajakmu jalan bersama. Jangan kamu percayai dia ketika dia mulai

menyatakan cinta dan berlemah lembut dalam pembicaraannya. Sungguh dia melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuknya yang tampak jelas bagi orang yang berakal. Akankah dia benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara dia mengajakmu berjumpa dan jalan bersama padahal engkau belum

halal baginya?



Janganlah engkau percayai para penyeru emansipasi yang mengharuskan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan.



Ketahuilah bahwa cinta yang hakiki adalah setelah menikah. Adapun selain itu, umumnya adalah cinta yang penuh kepalsuan. Cinta yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan padahal mereka telah

berpacaran sebelum akad pernikahan dan berjanji akan setia berkasih sayang sepanjang jaman? Bahkan berapa banyak pula pasangan yang berantakan sebelum sampai pada pelaminan dibarengi hilangnya kehormatan yang dibanggakan?




Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi SAW bersabda: "Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya SAW -: "Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi SAW menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: "Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina. Maka apakah engkau ingin menjadi bagian dari mereka wahai saudariku muslimah?



Jauhilah bercakap-cakap tanpa keperluan di telepon karena sesungguhnya Allah merekamnya demikian juga syaithan dari jenis manusia pun merekamnya. Mereka para petualang cinta akan menggunakannya sebagai alat untuk mengintimidasi kalian agar kalian mau mendengar mereka dan mentaati mereka. Qiyaskan juga ke dalamnya chating yang tiada guna dan hanya membuang waktu semata.



Hati-hatilah, janganlah engkau foto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan senjata yang paling berbahaya yang digunakan oleh serigala manusia sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi kalian.



Jauhilah olehmu untuk menulis surat-surat cinta karena hal itu juga

merupakan sarana yang digunakan oleh mereka.



Hindarilah majalah-majalah dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela. Sungguh di dalamnya terdapat racun yang membinasakan yang tersembunyi di balik indahnya halaman yang warna-warni serta kertas yang halus mengkilap dan wangi.




Jauhilah menonton sinetron-sinetron dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita. Jauhilah semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malumu.



Hati-hatilah, janganlah engkau pamerkan auratmu dan janganlah engkau terlalu sering ke luar rumah dan ke pasar-pasar tanpa ada keperluan mendesak yang menuntut untuk itu. Sungguh hal itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam murka Rabbmu.



Janganlah engkau pergi berduaan dengan sopir pribadimu, sungguh ini merupakan khalwat yang terlarang. Janganlah sekali-kali engkau membela diri dengan beralasan bahwa ini darurat. Bertakwalah, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala permasalahannya.



Hati-hatilah engkau wahai saudariku dari teman yang jelek. Cari dan bergaullah dengan temanmu yang shalihah yang akan membimbingmu kepada keridlaan Rabbmu dan senantiasa mengingatkamu agar tidak terjatuh pada perkara yang akan mendatangkan murka Rabbmu.



Saudariku yang mulia,



Hati-hatilah dari segala kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut merupakan sebab hilangnya nikmat, mendatangkan musibah, dan merupakan sebab datangnya kesengsaraan serta adzab yang membinasakan.




Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi malaikat maut dengan banyak bertaubat dan beramal shalih, sungguh engkau tidak tahu kapan giliranmu akan tiba.



Saudariku,



Setelah engkau baca nasihat di atas maka ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertaubat. Allah berfirman: "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas akan dirinya (berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesunggunya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar : 53)



Maka apabila engkau wahai saudariku telah tenggelam dalam suatu kemaksiatan dan dosa, segeralah bertaubat dengan taubatan nashuha sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum tubuhmu ditimbun di dalam tanah. Dan pada saat itu tidaklah lagi berguna penyesalan.



Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian yang ada dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melindungi kita dari adzab qubur dan adzab neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga Firdaus Al-A'la.



Shalawat serta salam senantisa tercurah kepada Nabi kita.




sumber IslamMuda.Com

Jika Belum Siap, Cintai Dia dalam DIAM!

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...

karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...

kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..

karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...

ingatkah kalian tentang kisah Fathimah Az-Zahra dan 'Ali bin Abi Thalib kw?

yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...

tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...

hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...

bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ...

jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...



Ditulis oleh: ukhtina Arytha Rusianty; melalui Isma Nur Fitria

Untukmu Muslimah

Bukankah engkau wahai saudariku, selalu menginginkan dan mencari kecantikan dan berusaha untuk menggapainya.

Bukankah engkau menginginkan Keindahan mata yakni agar warna putih di matamu yang benar-benar putih, dan warna hitamnya benar-benar hitam.

Bukankah Keindahan kulitmu terletak pada kejernihan dan putihnya, jernih bagaikan yaqut dan putih bagaikan marjan, bersinar bagaikan mutiara dalam kerang yang tidak pernah tersentuh tangan, bukan pada warna dan coraknya.

Keindahan tubuhmu terletak pada tersembunyinya, bukan terletak pada terbukanya.Keindahan usiamu terletak pada kedewasaannya, bukan kekanak-kanakan. Keindahan kesucianmu terletak pada penjagaannya, bukan pada keperawanannya yang terenggut. Keindahan cintamu terletak pada ketaatan yang sempurna, tidak ambisius terhadap selain yang engkau cintai, dan tidak ridha kecuali kepada suamimu. Bukan terletak pada jumlah yang dicintai.

Sinar kecantikan yang sebenarnya itu antara langit dan bumi ketika matahari terbit, bukan pada kecantikan yang dibuat-dibuat (imitasi) dan kemanjaan palsu. Buku ini merupakan sebuah petunjuk yang akan mengantarkan engkau wahai saudariku pada kecantikan yang sebenarnya dan abadi. Kecantikan yang akan menjaga dan menganugerahkan engkau, sebagai perempuan tercantik di dunia dan akhirat.