Harapan ummat (pasti) datang ...

بسم الله الرحمن الرحيم







Awalnya .... }



ketika prinsip ini (harus) ditarjamahkan kedalam kehidupan ...

Ketika iman ini menuntut pengorbanan nyawa ...

Ketika kepahlawan menjadi kebiasaan sehari-hari ...

Ketika itulah perkataan (terlontar) karena puncak keteguhan ...

Karena adanya para pahlawan di zaman sedikitnya pengorbanan ...


Karena adanya orang-orang asing (yang menempuh) jalan kemenanangan ...

Mereka mendapatkan angin surga di dalam gumpalan bubuk mesiu ...

Mereka merasakan indahnya mengorbankan hidup dan nyawa di jalan Alloh ...

Semoga Alloh menerima mereka... Dan semoga Alloh mengekalkan naungan Dawlah Islam





{ ..... Akhirnya







Wahai para mujahidiin,


Janganlah kalian hentikan sungai yang kalian alirkan dengan darah kalian

jangan pula kalian hancurkan slogan yang kalian tinggikan dengan syahdah kalian



Syaykh Abu 'Umar al-Baghdadiy rohimahulloh






telunjuk yang bersyahadat tak akan menyembah setan dalam sekejab!

PENYESALAN AHLI NERAKA KARENA MASALAH KETAATAN

Kitab Suci Al-Qur’an seringkali menggambarkan berbagai bentuk penyesalan para penghuni Neraka. Salah satu di antara bentuk penyesalan itu berkaitan dengan urusan ”ketaatan”. Kelak para penghuni Neraka pada saat tengah mengalami penyiksaan yang begitu menyengsarakan berkeluh kesah penuh penyesalan mengapa mereka dahulu sewaktu di dunia tidak mentaati Allah dan RasulNya. Kemudian mereka menyesal karena telah menyerahkan kepatuhan kepada para pembesar, pemimpin, Presiden, Imam, Amir, Qiyadah dan atasan mereka yang ternyata telah menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Akhirnya, karena nasi telah menjadi bubur, mereka hanya bisa mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu diazab oleh Allah dua kali lipat daripada azab yang mereka terima. Bahkan penghuni Neraka akhirnya mengharapkan agar para mantan pimpinan mereka itu dikutuk dengan kutukan yang sebesar-besarnya. Semoga Allah melindungi kita dari penyesalan demikian. Na’udzubillahi min dzaalika..!

”Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar".(QS. Al-Ahzab:66-68)

Gambaran di atas merupakan suatu gambaran yang sungguh mengenaskan. Bagaimana kumpulan manusia yang sewaktu di dunia begitu menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin mereka, tiba-tiba setelah sama-sama dimasukkan Allah ke dalam derita Neraka mereka baru sadar ternyata telah ditipu oleh para pemimpin tersebut sehingga berbalik menjadi pembenci dan pengutuk para mantan pembesar dan pemimpin tersebut. Mereka terlambat menyadari jika telah dikelabui dan disesatkan dari jalan yang benar. Mereka terlambat menyadari bahwa sesungguhnya para pemimpin dan pembesar itu tidak pernah benar-benar mengajak dan mengarahkan mereka ke jalan yang mendatangkan keridhaan dan rahmat Allah.

Itulah sebabnya tatkala Allah menyuruh orang-orang beriman mentaati Allah dan RasulNya serta ”ulil amri minkum” (para pemimpin di antara orang-orang beriman) saat itu juga Allah menjelaskan kriteria ”ulil amri minkum” yang sejati. Yaitu mereka yang di dalam kepemimpinannya bilamana menghadapi perselisihan pendapat maka Allah (Al-Qur’an) dan RasulNya (As-Sunnah/Al-Hadits) menjadi rujukan mereka dalam menyelesaikan dan memutuskan segenap perkara.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisaa:59)

Benar, Islam sangat menganjurkan kita semua supaya taat kepada pemimpin, namun pemimpin yang seperti apa? Apakah patut kita mentaati para pembesar dan pemimpin bilamana mereka tidak pernah menjadikan AlQur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan untuk menyelesaikan berbagai problema yang muncul? Mereka lebih percaya kepada hukum dan aturan bikinan manusia, bikinan para legislator, daripada meyakini dan mengamalkan ketentuan-ketentuan Allah dan RasulNya. Pantaslah bilamana masyarakat yang sempat menghormati dan mempercayai para pembesar dan pemimpin seperti ini sewaktu di dunia kelak akan menyesal ketika sudah masuk Neraka. Bahkan mereka akan berbalik menyerang dan memohon kepada Allah agar para ulil amri gadungan tersebut diazab dan dikutuk...!

Tetapi kesadaran dan penyesalan di saat itu sudah tidak bermanfaat sama sekali untuk memperbaiki keadaan. Sehingga Allah menggambarkan bahwa pada saat mereka semuanya telah divonis menjadi penghuni Neraka lalu para pengikut dan pemimpin berselisih di hadapan Allah sewaktu di Padang Mahsyar. Para pengikut menuntut pertanggungjawaban dari para pembesar, namun para pembesar itupun cuci tangan dan tidak mau disalahkan. Para pemimpin saat itu baru mengakui bahwa mereka sendiri tidak mendapat petunjuk dalam hidupnya sewaktu di dunia, sehingga wajar bila merekapun tidak sanggup memberi petunjuk sebenarnya kepada rakyat yang mereka pimpin. Mereka mengatakan bahwa apakah mau berkeluh kesah ataupun bersabar sama saja bagi mereka. Hal itu tidak akan mengubah keadaan mereka barang sedikitpun. Baik pemimpin maupun rakyat sama-sama dimasukkan ke dalam derita Neraka.

”Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: "Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: "Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri". (QS. Ibrahim:21)

Allah menggambarkan bahwa kumpulan pengikut taqlid dan pemimpin sesat ini adalah kumpulan orang-orang zalim. Para pemimpin sesat akan berlepas diri dari para pengikut taqlidnya. Sedangkan para pengikut taqlid bakal menyesal dan berandai-andai mereka dapat dihidupkan kembal ke dunia sehingga mereka pasti berlepas diri, tidak mau loyal dan taat kepada para pemimpin sesat tersebut. Tetapi semuanya sudah terlambat.

”Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah:165-167)

KUTIPAN DARI SHALAHUDDIN AYYUBI

“Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung Maha Tinggi, tempat kita menunjukkan segala puji dan syukur kepada-Nya, yang telah melimpahkan bimbingan dan ketenangan hati serta meredakan segala apa yang telah menganiaya dan menghancurkan jiwa dan raga hamba-Nya.”

Dimana saat ini kehormatan Ummat Islam????

Dimana letak kebanggaan kita sebagai Ummat Muslim???

Dimana gelora semangat kita sebagai orang-orang yang beriman???

Selama ini tidak henti-hentinya kita mengagumi orang kafir atas apa yang mereka yakini...Atas apa yang telah mereka perbuat...Sungguh sangat tidak pantas kita melakukan hal itu...Disinilah letak kelemahan kita sebagai orang beriman yang meyakini Allah SWT sebagai Robb Semesta Alam...

Ternyata kita sendirilah yang tidak memiliki Semangat...

Tidak satupun Ummat Muslim yang merespon dan memenuhi panggilan Jihad...

Tidak satupun yang berusaha meluruskan kesalahan yang telah terjadi...

Mereka hanya diam terpaku menyaksikan sirnanya kejujuran dan sikap keterusterangan...


Persatuan apa yang telah berhasil dicapai oleh Ummat Islam???

Tujuan apa yang mereka kejar???

Pertolongan apa yang telah mereka berikan kepada saudara-saudara mereka???

Berapa banyak uang yang telah mereka pinjam dan mereka habiskan???

Kekayaan apa yang berhasil mereka kumpulkan???

Dan berapa banyak yang telah mereka bagi-bagikan untuk menolong sesama mereka???

Ditanah mereka tidak ada lagi seorang pemimpinpun...Tidak ada lagi seorang dermawanpun...Yang saling berlomba-lomba memberikan dukungan...Yang saling berlomba-lomba diantara sesamanya sendiri membangun kekuatan dan pertahanan yang kuat...

Jika dihadapkan pada keadaan dimana mereka diminta untuk mengorbankan jiwa raganya untuk membela dan mempertahankan agamanya, maka mereka akan mengelak dan berbalik mundur.........

Sebaliknya mereka terus membiarkan saudara-saudaranya orang kafir bertindak sekehendak hati, secara langsung maupun tidak langsung mereka terus membantu saudara-saudaranya orang kafir membuat dan menimbun senjata...Mereka membiarkan saudara-saudaranya orang kafir mempergagah diri maju ke depan dan menjadi pemenang perang........


Seluruh apa yang mereka perbuat dan sikap dermawan yang mereka tunjukkan sama sekali bukan ditujukan untuk membela dan mempertahankan agamanya...

Sebaliknya, ummat islam selalu terus menerus dilemahkan, dan dibiarkan mengalami degradasi moral...

Akibatnya ummat islam menjadi ummat yang lalai dan pemalas...

Mereka jatuh terlena pada keadaan sekeliling dan tidak memiliki gairah serta semangat untuk menegakkan kehormatan agamanya...

Jika-walaupun hal ini sungguh sangat dilarang Allah SWT, islam menarik diri dari pusat kekuasaan, islam melunturkan kejayaan dirinya, islam menumpulkan pedangnya, maka tidak satupun ummatnya, dari barat maupun timur, jauh maupun dekat, yang bersedia tampil maju ke depan mengorbankan semangat untuk menegakkan agama Allah...

Tidak satupun yang memilih untuk berpihak kepada kebenaran menghadapi kesombongan dan kepalsuan...



Kini saatnya bagi kita untuk bangkit...

Telah tiba saatnya bagi kita bersama membuang selimut kemalasan...


Saatnya memanggil dan mengumpulkan mereka, laki-laki yang di dalam urat nadinya masih mengalir darah keimanan.....

Kami yakin (dia berbicara tentang diri sendiri dan sekelompok kecil orang-orang mu’min yang bergabung bersamanya kemudian berkembang menjadi satu kelompok besar), segala puji bagi Allah Robb Seluruh Alam -Alhamdulillah- atas limpahan pertolongan-Nya sehingga keikhlasan dan kesungguhan hati serta ibadah kepada-Nya tetap terus berlangsung.......

InsyaAllah orang kafir akan hancur, dan iman serta kebenaran akan tegak menjulang.............



[Shalahuddin Ayyubi, Penakluk Jerusalem, abad 12 masehi]



Abu Shamma, Kitab Ar-Rawadatain

The Empire of Sulthan Shalahuddien.....

Bukti di Al-Qur'an bahwa Bani Israel mengingkari janjinya dengan Allah SWT

Al-Baqarah ayat 83 :

Dan ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani israel (yaitu) : Janganla kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Al-Baqarah ayat 84 :

Dan ingatlah, ketika kami mengambil janji dari kamu yaitu: kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan akmu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.

Al-Baqarah ayat 85 :

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudara sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan ; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu juga terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yg lain? Tiadalah balasan bagi orang yg berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka di kembalikan kepada siksa yg sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Al-Baqarah ayat 86 :

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dgn kehidupan akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

B A C A L A H !!!

Rasulullah saw tidak pernah mundur dari dakwah, walaupun kaum Quraisy senantiasa menteror, merekayasa dan memfitnah, bahkan paman beliau menganjurkan supaya ia bersikap lunak dalam berdakwah. Namun Rasulullah menolak dan mengatakan: “Demi Allah, sekalipun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan risalah yang kupikul, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memberi kemenangan, atau aku mati binasa dalam menjalakannya.” Imam Ahmad bin Hambal tidak menyerah ketika para penguasa menyuruhnya mengatakan ”Al Qur’an itu makhluk.” Ia tetap menolak sekalipun harus memikul penderitaan dan siksaan. Asy Syahid Sayid Qutub pun tidak menyerah ketika diminta kepadanya supaya mengatakan: “Hukum yang berlaku (di Mesir) bukan hukum jahiliyah,” agar dengan mengatakan demikian, ia selamat dari tiang gantungan. Bahkan Imam Syahid Hasan Al-Banna tewas diterjang oleh peluru makar yang dimuntahkan imperialis kuffar Rezim Mesir. Goresan kalbu yang menorehkan sikap keteguhan hati berlanjut dari masa hingga terpecikan juga di negeri Indonesia. Hukuman mati diberikan rezim orde lama kepada Imam Sukarmadji Maridjan Kartosoewirjo, dikarenakan ia difitnah keji sebagai “pemberontak” dalam menegakkan Kalimatullah.



Banyak orang yang menderita siksaan demi untuk menegakkan Dien Islam. Mereka tahu benar bahwa keteguhan hati dan kemauan mereka menjadikan mereka tetap sebagai pelita yang menerangi jalan. Dikarenakan mereka tidak meragukkan lagi eksistensi Allah SWT sebagai Rabb yang Maha segala Maha. Sebelum Isa diangkat sebagai Rasul, Allah telah menunjuk Musa sebagai pembawa berita kebenaran. Musa tunduk atas segala perintah Allah, sebagaimana difirmankan: “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampui batas, maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata lemah lembut, mudah mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha:33-34) Musa pun menyampaikan ayat-ayat Allah dengan perkataan lemah lembut, tetapi Fir’aun menolak ajakan itu malahan berusaha menentang dan membunuh Musa. Fir’aun berusaha mengumpulkan massa dan ia mengumumkan: ”…Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazia: 24). Jika kita telaah dan kita renungkan pernyataan sikap kaum kuffar dan Fir‘aun pada era millinium ke tiga ini, dengan suatu analisis objektif, Subhanallah, kita juga dapat menjumpainya…sangat dekat dan bisa jadi kita ada dalam pelukkannya.

“Masa bertambah cepat, amal makin kurang, kekikiran banyak bertemu, fitnah (kekacauan) terjadi dan huru-hara tambah banyak.” Mereka bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasullullah ! Yang mana?” Jawab Rasulullah: “Pembunuhan, pembunuhan !” (HSR. Bukhari dari Abu Hurairah r.a.). Sabda Rasulullah tersebut sangat menggelitik jiwa mereka yang dapat memahami apa yang terjadi. IQRA’ ! bacalah. Apa yang harus dibaca ? Dengan apa manusia membaca ? Apa tujuan membaca ? Bagaimana pula cara membacanya ? Kapan dan dimana ruang dan waktu membaca ? Pertanyaan demi pertanyaan melingkari dan mengurung manusia dengan berbagai untaian pertanyaan. Jikalau bukanlah karunia Allah SWT niscaya manusia itu ‘mati’ dalam kebingungan.



Iqra’ adalah bentuk perintah. Hukumnya perintah, wajib. Jadi setiap manusia wajib Iqra’. Obyek Iqra’ pada penggal ayat pertama tidaklah jelas, sehingga yang di Iqra’ adalah yang tersurat dan tersirat. Kemudian Allah Azza Wa Jalla memberikan celah pemahaman bahwa membaca segala sesuatu itu harus diawali Bismi Rabbik, yaitu dengan nama Tuhanmu atau dengan ajaran Rabbmu, dalam artian apabila manusia membaca sesuatu tanpa menggunakan nama Allah SWT atau tidak dengan ajaran Allah SWT, maka hasilnya tidak akan optimal (sia-sia). Mengapa Allah Azza Wa Jalla memerintahkan membaca dengan atas nama-Nya. Tidak dengan nama lain. Dan mengapa Allah SWT menggunakan ‘Rabb’. Mengapa Dia tidak eksplisit menyebut nama Allah dengan menyebut Bismillah. Allah Azza Wa Jalla mengenalkan diri-Nya Rabb yang mengandung makna fungsi eksistensi. Skala obyek Iqra’ sangat luas yaitu membaca ciptaan Allah SWT berupa segala yang ada di bumi dan di langit. Hal ini diinformasikan Allah melalui firman-Nya: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin. Dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan ? ” (QS. Adz-Dzariyat: 20-21). Relevan dengan alur pemikiran yang terkandung dalam wahyu pertama, bahwa obyek Iqra’ lebih difokuskan kepada manusia. Kemudian pada surah Adz-Dzariyat ayat 21 bahwa dalam diri manusia itu penuh ‘misteri’ yang harus dieksplorasi.



Rabb yang mencipta segala sesuatu itu adalah bahasa tentang ketuhanan yang sifatnya umum. Arab jahiliyah menyembah berhala la’ata, uzza, mana’at akan tetapi mereka juga menyebutnya rabb. Karena masyarakat jahiliyah menganggap bahwa menyembah berhala itu mendapatkan perlindungan, ketenangan, rizki dll. Oleh karena itu Allah SWT secara diplomatis menggunakan kata rabb yang diakhiri dengan ‘I Ladzi Khalaq, yang bermakna yang menciptakan-yang maha pencipta. Mengandung artian bahwa rabb yang dipertuhankan masyarakat jahiliyah itu tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti yang termaktub dalam QS. An-Nahl : 20 :”Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) di buat orang”.



Ayat pertama Surah Al-‘Alaq itu memberikan pencerahan alam pemikiran manusia bahwasanya hendaknya mengenal nama-nama Rabb yang menciptakan alam. Ketika manusia berkonsentrasi menyelami makna ayat-ayat Al Qur’an dengan menampikkan berbagai macam kekusutan duniawi, dan senantiasa berdo’a memohon hidayah-Nya. Insya Allah akan menemui satu titik terang yang merupakan hal pokok dalam berkehidupan di dunia ini. Manusia akan mengenal betapa hinanya manusia sebagai budak nafsu dan bukan sebagai hamba Allah yang taat. Kata Rabb yang berarti; pencipta (alam), pengatur (hukum), perumus (kebijakan), memelihara, mendidik, pemilik, akan melekat dalam lubuk hati manusia dikala manusia itu mencari dan menapaki risalah dengan satu renungan; Allah pulalah sebagai tujuan hakiki mencari keridhaan-Nya.




Iqra’, berarti bacalah. Konotasi dan interpretasinya, analisislah, lakukanlah riset, selidikillah, pikirkanlah, pelajarilah dan proklamasikanlah. Apa yang harus diselidiki? Apa yang harus dipikirkan? Dan apa yang harus diproklamasikan?



Sebelum menjawab pertanyaan, yang pertama dicari terlebih dahulu adalah akar permasalahannya. Yang sudah nampak dipermukaan telah terjadi kepincangan sosial budaya di Jazirah Arab dan dunia umumnya. Perbudakan, penindasan, dan pemerkosaan hak asasi manusia, perampokan secara konvensional dan modern, sudah mewabah ditengah masyarakat. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah membudaya secara structural. Bahkan kebusukan perilaku penguasa dibungkus dengan “bintang jasa”. Padahal, anugerah dibalik bintang jasa itu ada manipulasi diri agar tidak diketahui oleh rakyat. Akan tetapi rakyat bukanlah benda mati. Mereka mempunyai pikiran, perasaan dan yang jelas batinnya tidak dapat dibohongi oleh tipu daya penguasa dzhalim. Bagaikan api dalam sekam, setiap saat dapat menyulut kobaran api revolusi menumbangkan tirani yang kejam.



Sasaran Iqra’ adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM yang merupakan benteng sistem ketatanegaraan. Suatu negara ini akan makmur gemah ripah loh jinawi, apabila landasan idiilnya mengacu kepada kebenaran mutlak. Pemerintah Arab Jahiliyyah sebelum turunnya Al Alaq’, kondisi sistem politiknya sangat labil, sehingga keutuhan nasional Hizaz terancam disintegrasi. Apalagi ketakutan atas adanya dua adikuasa, Roma dan Persia, cukup mengompori semangat disintegrasi itu. Disintegrasi terjadi karena keadilan tidak berkeadilan. Seluruh kekayaan rakyat di daerah disentralisasikan dan segalanya harus menunggu kebijakan sentral. Daerah hanya mendapat percikan anggaran yang tidak berimbang dengan pendapatan. Dikarenakan mengacu kepada asas “keseimbangan” dan “stabilitas nasional”.



Abad modern yang menjadikan materi sebagai tolak ukur harga diri merupakan tantangan berat. Kondisi budaya seperti ini tak ubahnya zaman jahiliyah sebelum turunnya Al Qur’an. Materi dijadikan tuhan, kekuasaan dijadikan tuhan, orang kaya lebih disegani dari pada ulama’, penguasa lebih dihormati dari pada ulama’, ulama pun telah banyak dicabuli oleh gemerlapnya harta dan kekuasaan.



Suatu adegan iman yang indah sekali. Ketika Bilal bin Rabah disiksa majikannya, dia tidak mengaduh kesakitan, tapi apa yang terucap ?…”Ahad !” suatu jawaban mantap dan menggetarkan para penyiksa dan majikannya. Ini menunjukkan bahwa pelindung dirinya hanyalah Allah Yang Ahad. Dialah yang memiliki asma ‘ul husna, Dialah yang menguasai alam semesta termasuk diri majikannya. Bilal tak gentar menghadapi ancaman maut dari boss yang berlaku kasar dan sadis. Inilah buah Iqra’ yang menghasilkan ma ‘rifat kepada Allah Azza Wa Jalla. Dibalik adegan penyiksaan yang tidak memudarkan iman Bilal bin Rabbah itu, hati kecil bossnya terusik. Gerangan doktrin apakah yang menjadikan Bilal setegar itu, materi kajian apa yang disampaikan Rasulullah sehingga para pengikutnya memiliki militansi tinggi. Karena gengsinya para penggede kaum kuffar tidak ingin menyatakan salut dan ikut serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.



Indonesia dengan maraknya format politik yang mengatasnamakan dirinya konstitusi dengan moralitas ummat akhir-akhir ini sungguh sangat mengenaskan, trend yang berkembang pada ummat adalah penegakkan konstitusi sebagai sarana/alat demokratisasi. Akan tetapi disana sini terdapat intrik subjektif yang terlontar dari para elite rezim Republik Indonesia. Keadaan ini diperparah lagi dengan eksistensi ummat Islam yang tak lagi mengkaji serta menerapkan Al Qur’an dan Assunnah sebagai konsep aktual yang handal dalam berinteraksi di masyarakat manusia. Cara-cara dzolim seperti; pembusukan, fitnah, kekerasan dan bahkan memakai konsep-ajaran thaghut (baca: sesat) yang berlandaskan hawa nafsu telah menjadi suatu ajaran yang diaplikasikan, sebagaimana Allah SWT telah memberikan sinyal peringatan dalam firman-Nya: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (Q.S. An Nisaa’ : 60).




Penjelmaan thaghut ini terlihat jelas dengan kebobrokan moral dan akhlak ummat, baik generasi muda dan para orang tuanya membusuk dan menimbulkan suatu permusuhan, dendam, tawuran, perebutan kekuasaan dan kemaksiatan. Ummat Indonesia pada umumnya hanya stres dunia dan tidak stres akhirat, padahal mati kapan saja datang !



Berbagai kepentingan kekuasaan duniawi hilir mudik dengan arogansi kecanduannya kepada thaghut-hawa nafsu. Terjadinya konflik horizontal dalam ummat Islam Indonesia adalah karena kedurhakaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, atau ingkar dari tuntunan Kitabullah dan Assunnah. Bilamana kita mengikuti jejak orang kafir yang suka mempermainkan ayat-ayat Allah dan mengedepankan hawa nafsu maka kita akan mengalami situasi chaos atau kehancuran mekanisme peradaban ummat, seperti yang dialami ummat-ummat lain pada zaman jahiliyah dulu. Hal ini telah disebutkan dalam Q.S. Ali ‘Imran: 103, “Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah (agama Islam), janganlah kamu berpecah-belah dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (di masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah merukunkan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”. Dan Rasulullah pun telah memberikan wasiatnya kepada kita semua; “Orang yang sangat dibenci Allah ialah orang yang suka bermusuh-musuhan” (HSR. Bukhari dari Aisyah r.a.)

Monopoli aparatur pemerintahan dengan berbagai langkah strategis pada bidang ekonomi, hukum, dan perangkat kenegaraan dipegang & dikuasai oleh sistem peradaban neo jahiliyah yang terformulasi dan termanifestasi dalam Pancasila sebagai satu satunya sumber hukum-pedoman hidup masyarakat Indonesia. Pancasila sebagai sumber pesakitan ummat telah memaksa ummat Islam Indonesia memasuki bahkan menyeret ummat Muslim kedalam bentuk institusi kekufuran kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Terlihat jelas pada aspek interaksi sosial produksi dengan adanya permasalahan ketimpangan dan kedzaliman tatanan masyarakat yang selalu dalam gejolak perebutan kekuasaan. Pada aspek hukum dengan indikator yang begitu nyata menyudutkan kebenaran pada posisi lemah-tertindas, terlihat lengkap di balik permasalahan ketidak adilan dan ketidak-berdayaan-nya lembaga peradilan, dikarenakan akhlaq akademis manusianya mengadopsi hukum neo jahiliyah-kolonial. Begitu pula ambruknya akhlak ummat ketika mengembangkan sains dan teknologi sebagai ambisi ekspansif bangsa dan negara karena dikemas untuk memenuhi sifat materialis dan individualis.



Jika kita kaji lebih mendasar kesatu titik bagaimana Islam memandang suatu permasalahan/perkara memang sangat tragis…?! Karena kita akan menemukan akar permasalahan yang terjadi pada ummat ini adalah akibat idiologi yang dianut ummat, bangsa dan negara. Idiologi ummat Indonesia yang dianut bahkan diberhalakan menjadi satu acuan-rujukan berkehidupan merupakan idiologi thaghutisme (sesat) yang timbul dari produk hawa nafsu manusia. Pro kontra, konflik horizontal, fitnah dan berbagai macam kekusutan tatanan pada kondisi ummat yang beridiologi selain Al Islam tak dapat dibendung bahkan tidak akan mungkin selesai, karena Allah juga telah memberikan rambu peringatan pedas kepada kita semua dalam firman-Nya: “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri”. (Q.S. Asy Syuura: 30). Idiologi produk manusia yang berdasarkan thaghutisme itulah yang melahirkan perpecahan- ketimpangan; sosial ekonomi, sosial politik, sosial budaya, undang-undang/hukum, pertahanan--militer dan sebagainya.



Maka al-‘Alaq ayat pertama menyajikan pemikiran Revolusi Ideologi. Allah Azza Wa Jalla mengajarkan sistematika berpikir revolusi yang indah. Diperkenalkan terlebih dahulu posisi Allah sebagai Tuhan secara Implisit, namun mengakar dalam hati sanubari manusia. Allah mengajarkan teori revolusi idiologi secara-melalui pendekatan sosio kultural untuk membongkar akar masalahnya, yakni idiologi thaghut-sesat.

Itulah hasil kajian ayat pertama surah al-‘Alaq, apabila benar cara mengkajinya dan benar pula menerapkannya, akan benar pula sepak terjangnya dalam kehidupan sebagai seorang manusia (hamba Allah SWT). Berbekal ma’rifat kepada Allah SWT akan melahirkan konsistensi dalam perjuangan sampai idiologi itu eksis secara sistem. Inilah sosok idiologi sejati yang membawa obor kebenaran ditengah gelap gulitanya alam jahiliyah tradisional atau neo jahiliyah seperti di negeri Indonesia saat ini.




Sudah waktunya ummat Islam dewasa ini kembali kepada dasar kajian Al Qur’an sebagaimana Rasulullah SAW memulainya. Telah banyak terori yang diimpor dan diadopsi dari berbagai sumber. Tetapi hasilnya nihil dan tidak dapat menunjukkan eksistensi hukum Allah SWT secara kaffah. Hal ini terjadi karena ummat Islam sudah asing terhadap materi kajian wahyu yang berhasil diterapkan Rasulullah SAW sebagai bukti nyata hasil perjuangan angkatan pertama. Seandainya generasi pertama gagal dalam mengaplikatifkan konsep hidup menurut nuzulnya wahyu, apakah mungkin Islam dapat dinikmati oleh ummat sesudahnya.



Tidak ada alasan bagi ummat Islam untuk tidak kembali kepada Al Qur’an, dikarenakan Allah Azza Wa Jalla telah memberikan penjelasan sejelas-jelasnya dan telah melewati uji materi yang hakiki (para Rasul) dalam firman-Nya: “(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang cukup bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan dia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran .” (Q.S. Ibrahim: 52).



“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Q.S. Al Maaidah: 50)

Kesalahan besar bagi ummat Islam Indonesia jika membatasi diri dalam teritori sempit-picik dari pemahaman Islam hanya masalah ibadah saja (shalat, atau shaum). Akan tetapi ummat Islam Indonesia seharusnya meyakini, memahami dan mengaplikasikan Al Islam sebagai aqidah dan ibadah, negara dan ummat bernegara, moral dan akhlak, undang-undang-hukum dan kultur sosial, serta kesatuan interaksi ber-amaliah. Keterlibatan ummat Islam dalam kancah politik memang suatu keharusan demi tegaknya Dien Allah SWT. Karena berpolitik bagi ummat Islam adalah suatu energi da’wah Islamiyah yang diformulasikan dengan moralitas Islamy guna mewujudkan tatanan masyarakat Madani. Ummat Islam hendaknya mengembalikan nilai-nilai esensial Islam (Al Qur’an dan Assunnah) pada dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara.



Kekuasaan sendiri bukan tujuan utama dari kaum Muslimin, akan tetapi kekuasaan harus dilihat sebagai amanah yang dikaruniakan oleh Allah SWT untuk mengayomi masyarakat, menegakkan keadilan, membangun kesejahteraan bersama dan memelihara peradaban ummat. Setiap kekuasaan hendaknya tertanam dan mengandung pertanggung jawaban kepada Allah SWT dan ummat manusia. Dan setiap mu’min mengemban tugas menjadi pemimpin di alam ini, ia wajib merefleksikan dan mengaplikasikan Al Qur’an dan Assunnah sebagai satu-satunya pedoman hidup bagi (pribadinya) ummat manusia. Rasulullah sangat mewanti wanti kepada mereka yang memegang kekuasaan, “Seorang pembesar yang memerintahi rakyat kaum Muslimin, apabila pembesar itu mati, sedang dia tidak jujur terhadap rakyat, niscaya dia dilarang oleh Allah masuk surga.” (HSR. Bukhari dari Ma’qil r.a.).



Wallohualam...


Sasaran Iqra’ adalah IPOLEKSOSBUDHANKAM yang merupakan benteng sistem ketatanegaraan. Suatu negara ini akan makmur gemah ripah loh jinawi, apabila landasan idiilnya mengacu kepada kebenaran mutlak. Pemerintah Arab Jahiliyyah sebelum turunnya Al Alaq’, kondisi sistem politiknya sangat labil, sehingga keutuhan nasional Hizaz terancam disintegrasi. Apalagi ketakutan atas adanya dua adikuasa, Roma dan Persia, cukup mengompori semangat disintegrasi itu. Disintegrasi terjadi karena keadilan tidak berkeadilan. Seluruh kekayaan rakyat di daerah disentralisasikan dan segalanya harus menunggu kebijakan sentral. Daerah hanya mendapat percikan anggaran yang tidak berimbang dengan pendapatan. Dikarenakan mengacu kepada asas “keseimbangan” dan “stabilitas nasional”.